Tiga Puluh Tahun Menjadi ASN: Menyusuri Negeri, Menyusuri Diri
Akhirnya, satu babak panjang dalam hidup telah sampai di penghujungnya. Lebih dari tiga puluh tahun mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara—sebuah perjalanan yang, jika dipikir-pikir, hampir menyamai usia generasi yang kini tumbuh dewasa. Tiga dekade bukan waktu yang singkat. Ia bukan sekadar hitungan masa kerja, melainkan kumpulan jejak, kenangan, tantangan, dan pelajaran hidup yang membentuk cara pandang terhadap negeri ini. Menjadi ASN ternyata bukan hanya soal pekerjaan administratif, tetapi juga tentang menjalani takdir untuk mengenal Indonesia dari dekat—bukan dari peta, melainkan dari denyut kehidupan masyarakatnya. Langkah pertama dimulai di Manokwari, tanah yang kala itu masih berada dalam suasana DOM. Sebagai pegawai muda, tugas negara terasa begitu nyata. Situasi keamanan belum sepenuhnya kondusif, dan ketegangan menjadi bagian dari keseharian. Ketika gelombang reformasi 1998 melanda, pengalaman yang terjadi begitu membekas. Gedung DPRD di sebelah kantor terbakar, kaca-kaca k...