Nafsu yang Tak Pernah Puas
Perselingkuhan sering dimulai dari sesuatu yang tampak kecil: percakapan yang terlalu akrab, perhatian yang terasa menyenangkan, atau rasa penasaran yang dianggap sepele. Namun ketika seseorang sekali mencoba melangkah melewati batas itu—dan berhasil melakukannya tanpa konsekuensi langsung—sering kali muncul keberanian baru untuk mengulanginya. Bukan karena cinta semakin besar, tetapi karena batas moralnya telah bergeser. Di sinilah letak persoalan kritisnya. Perselingkuhan jarang didorong oleh cinta yang tulus. Ia lebih sering berakar pada nafsu: keinginan untuk divalidasi, merasa diinginkan, atau merasakan sensasi baru. Nafsu memiliki sifat yang berbeda dengan cinta. Cinta cenderung menenangkan dan mengikat, sementara nafsu cenderung menuntut lebih dan lebih lagi. Ketika seseorang sudah terbiasa mengikuti dorongan itu, rasa “cukup” menjadi sulit ditemukan. Secara reflektif, sekali seseorang membenarkan perselingkuhan dalam dirinya, ia sebenarnya sedang melonggarkan batas integritasny...