Postingan

Ketika Hasrat Mengalahkan Kesadaran

Miris.  Mungkin itu kata yang paling mudah terucap ketika melihat beredarnya video pelanggaran norma susila yang dilakukan di ruang kelas sebuah universitas. Ruang yang semestinya menjadi tempat mencari ilmu, berdiskusi, dan membangun masa depan, justru berubah menjadi panggung bagi perilaku yang mengabaikan batas kepantasan. Sebagian orang bertanya, mengapa yang melihat tidak menegur, melainkan memilih merekam dan mengunggahnya ke media sosial? Pertanyaan itu juga penting. Sebab, di era digital, rasa ingin tahu dan keinginan mendapatkan perhatian sering kali lebih besar daripada dorongan untuk mencegah atau melindungi. Ada kecenderungan menjadikan setiap peristiwa sebagai konten, bahkan ketika peristiwa itu menyangkut kehormatan dan masa depan orang lain. Namun pertanyaan yang tak kalah penting adalah, mengapa ruang kelas dipilih? Mengapa tidak di tempat yang lebih privat? Mungkin ada unsur pencarian sensasi, tantangan, atau dorongan adrenalin yang membuat sesuatu yang terlarang t...

Harga Kost dan Hukum Pasar: Catatan Kecil dari Jatinangor

Ketika mencari kos untuk anak ketiga yang akan kuliah di ITS, saya teringat pengalaman beberapa tahun lalu saat anak pertama masuk Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Waktu itu, kos di daerah Sukawening, kenapa mencari kesini karena beberapa lokasi lainnya lumayan juga harga kostnya. Di gkpn, caringin, di ahmad syam, atau apartemen dekat polsek, lumayan harganya. Di Sukawening masih bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp9 juta per tahun. Lokasinya pun masuk kedalam lumayan jauh. Setahun kemudian naik menjadi Rp10 juta, lalu Rp12 juta. Kini, harga yang sama sudah menyentuh Rp16 juta per tahun. Kenaikan yang cukup signifikan hanya dalam beberapa tahun. Fenomena ini mengingatkan pada teori klasik Adam Smith tentang penawaran dan permintaan. Ketika jumlah mahasiswa meningkat sementara ketersediaan kamar kos tidak bertambah secara sebanding, harga pun naik mengikuti mekanisme pasar. Dalam konteks Jatinangor, lonjakan permintaan semakin terasa sejak ITB melakukan peralihan massal Program ...

Mencari Kost di Sekitar ITS: Ketika Informasi Digital Tidak Selalu Menjawab Kenyataan

Minggu lalu saya berkeliling mencari kos di sekitar ITS. Kebetulan anak ketiga diterima disini. Awalnya, seperti kebanyakan orang tua zaman sekarang, saya mengandalkan informasi dari kakak kelas, media sosial, dan aplikasi pencari kos. Namun pada akhirnya, survei langsung ke lapangan tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal. Ada tiga kawasan yang menjadi sasaran: Keputih, Gebang, dan Mulyosari. Ternyata, yang ditemukan di lapangan tidak selalu sama dengan yang terlihat di internet. Banyak kos yang masih penuh, terutama kos putri. Mungkin karena masa wisuda belum berlangsung sehingga penghuni lama belum keluar. Ada beberapa kamar kosong, tetapi setelah dilihat langsung, anak merasa kurang cocok. Padahal menurut saya lokasinya sangat strategis, dekat kampus dan banyak tempat makan. Namun, ternyata memilih tempat tinggal bukan hanya soal jarak dan harga, tetapi juga soal kenyamanan dan "rasa cocok" yang sulit dijelaskan dengan angka. Pengalaman ini menunjukkan bahwa mencari ...

Ketika Kuliah di Luar Negeri Lebih Murah daripada di Negeri Sendiri

Ada sebuah ironi yang patut direnungkan. Selama ini banyak orang tua Indonesia beranggapan bahwa menyekolahkan anak ke luar negeri pasti membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan kuliah di dalam negeri. Namun kenyataan yang saya temui justru sebaliknya. Berdasarkan pengalaman membiayai tiga anak yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbeda, biaya kuliah di beberapa kampus dalam negeri ternyata bisa lebih mahal dibandingkan kuliah di China melalui program beasiswa. Jika dihitung secara keseluruhan hingga lulus, mulai dari UKT, biaya tempat tinggal, makan, transportasi, buku, hingga kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan di kampus negeri ternama seperti Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dapat mencapai sekitar Rp300 juta atau bahkan lebih. Sementara itu, untuk kuliah di China melalui jalur beasiswa, biaya yang harus dikeluarkan sejak proses persiapan hingga keberangkatan, termasuk penggunaan jasa konsultan pendidikan, berkisar antara Rp100...

Pinjol Mudah Cair Tapi Brutal Saat Nagih, Kenapa OJK Diam?

Pinjaman online di Indonesia sekarang jadi paradoks. Saat ngajuin, prosesnya 15 menit, KTP + selfie lolos. Gak ada telepon ke kantor, gak ada verifikasi ke penjamin, gak ada cek lapangan. Tapi begitu telat bayar 3 hari, yang dihubungi bukan cuma kamu. Keluarga, teman, mantan HRD kantor, bahkan nomor yang gak pernah kamu kasih, ikut kena _blast call_ dan _chat_ sebar data. Kenapa bisa begitu? Dan kenapa OJK gak melarang? 1. Model Bisnis Pinjol: Kecepatan > Akurasi Pinjol ilegal dan banyak yang legal pun sengaja bikin proses “tanpa klarifikasi” karena itu nilai jualnya. Bank butuh 3-7 hari verifikasi, pinjol cukup 15 menit.  Logikanya gini: makin mudah cair, makin banyak yang pinjam. Bunga 0,8%-1% per hari itu keliatan kecil, tapi efektif tahunannya bisa 200-400%. Untungnya gila-gilaan, jadi mereka bisa tebalin anggaran buat _debt collector_ dan sistem sebar data. Klarifikasi ke penjamin butuh waktu dan biaya. Kalau ditelpon dulu, 70% calon debitur batal. Jadi mereka skip step itu...

Menutup Minimarket Bukan Jalan Terbaik untuk Melindungi UMKM

Ada berita yang cukup memprihatinkan ditengah kondisi ekonomi yang sedang lemah. Munculnya kebijakan penutupan gerai minimarket seperti Indomaret dan Alfamart di beberapa wilayah Indonesia timur memunculkan perdebatan yang cukup luas. Alasan yang sering dikemukakan adalah demi melindungi UMKM dan pedagang kecil agar tidak kalah bersaing. Niat ini tentu baik. Semua pihak sepakat bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat yang harus dijaga keberlangsungannya. Namun pertanyaannya, apakah menutup pelaku usaha lain adalah solusi yang tepat? Menurut saya, perlindungan terhadap UMKM tidak seharusnya diwujudkan dengan membatasi atau mematikan usaha lain yang juga dibangun oleh anak bangsa sendiri. Minimarket modern seperti Indomaret dan Alfamart bukanlah usaha yang lahir dalam semalam. Mereka tumbuh melalui proses panjang, investasi besar, pembukaan lapangan kerja, pembayaran pajak, hingga menciptakan rantai distribusi yang melibatkan banyak pelaku usaha lokal. Di balik satu gerai minima...

Kata perpisahanku

  ​Sambutan Perpisahan Purnabakti ​ Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi/siang, dan salam sejahtera untuk kita semua. ​Yang saya hormati Bapak Kepala Kantor, para Kepala Seksi, rekan-rekan Pejabat Fungsional (Jafung), serta seluruh rekan-rekan kerja yang saya banggakan dan saya cintai. ​Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di forum yang penuh kehangatan ini. ​Seuntai Kisah Nostalgia: Dari Manokwari hingga Ibu Kota ​Berdiri di sini, izinkan saya membawa Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian kembali sejenak ke masa lalu, sekadar untuk bernostalgia tentang bagaimana perjalanan ini bermula. ​Perjalanan saya di DJPb ini dimulai pada Desember 1997 , saat pertama kali ditempatkan di Manokwari . Saya masih ingat betul momen pembagian SK di lantai 2 Gedung Prijadi. Di sana, ada Mbak Win, Mbak Elin, dan Mbak Khodijah yang bersama-sama dengan sa...