Ketika Pernikahan Lebih Luas dari Hasrat, dan Perselingkuhan Menyempit Menjadi Nafsu
Pernikahan tidak pernah sesederhana urusan ranjang. Ia adalah ikatan panjang yang diisi oleh kasih sayang, cinta yang bertumbuh, pengorbanan yang sering sunyi, kesabaran yang diuji setiap hari, serta tanggung jawab yang tidak bisa ditawar. Di dalamnya ada kelelahan, kompromi, dan kesediaan untuk tetap tinggal meski perasaan sedang tidak hangat. Sebaliknya, perselingkuhan hampir selalu bermuara pada hasrat. Mungkin ia tidak dimulai dari seks—bisa saja diawali obrolan, empati, atau perhatian yang tampak polos. Namun ketika batas dilanggar dan hubungan itu dipelihara, arah akhirnya hampir pasti: pemuasan nafsu dengan pihak lain. Di titik itu, perselingkuhan kehilangan segala pembenaran moral yang sering dipakai pelakunya. Secara kritis, inilah perbedaan mendasar yang kerap diabaikan. Pernikahan menuntut kedewasaan emosi dan tanggung jawab jangka panjang, sementara perselingkuhan memilih jalan pintas: kenikmatan instan tanpa kesetiaan, tanpa komitmen, dan tanpa keberanian menanggung akibat...