Postingan

Ketika bantuan mulai dinilai seperti pesanan: tidak sesuai selera lalu dibuang

Miris rasanya membaca berita tentang seorang warga terdampak bencana yang justru menghancurkan bantuan yang diterimanya. Apa pun alasan di balik tindakan tersebut, peristiwa semacam ini layak menjadi bahan renungan bersama tentang cara kita memandang bantuan, kepedulian, dan rasa syukur. Bencana memang bukan keadaan yang mudah. Kehilangan rumah, harta benda, pekerjaan, bahkan mungkin orang yang dicintai dapat membuat seseorang berada dalam tekanan psikologis yang luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, kemarahan, kekecewaan, dan frustrasi sangat mungkin muncul. Karena itu, kita juga tidak seharusnya terlalu cepat menghakimi korban hanya dari satu potongan kejadian. Namun memahami kemarahan tidak berarti membenarkan tindakan merusak bantuan. Bantuan mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan penerimanya. Jumlahnya mungkin sedikit, jenis barangnya mungkin bukan yang paling dibutuhkan, atau nilainya mungkin terasa tidak sebanding dengan kerugian yang dialami. Tetapi menghancurkan bantuan...

Tidak Semua Kesalahan Harus Berujung pada Presiden

Ada kecenderungan dalam percakapan publik kita: setiap kali muncul persoalan, ujung-ujungnya presiden yang disalahkan. Ada pejabat korup, presiden yang salah. Ada aparat melakukan pelanggaran, presiden yang salah. Ada kebijakan daerah bermasalah, presiden juga yang dituding. Pertanyaannya, apakah cara berpikir seperti ini selalu adil? Ketika seorang pejabat melakukan korupsi, apakah sebelum menerima suap ia meminta izin kepada presiden? Ketika seseorang memanipulasi anggaran, apakah presiden yang menyuruhnya? Tentu tidak sesederhana itu. Korupsi pada akhirnya juga merupakan keputusan pribadi manusia yang memiliki kehendak, akal, moral, dan tanggung jawab atas tindakannya sendiri. Namun, mengatakan demikian bukan berarti presiden dan pemerintah boleh dilepaskan dari tanggung jawab. Pemimpin tetap bertanggung jawab membangun sistem yang mampu mencegah korupsi, memastikan pengawasan berjalan, menjaga independensi penegakan hukum, memilih pejabat dengan baik, serta tidak melindungi orang-o...

Ketika Menghargai Diri Membuat Orang Lain Menjauh

Cara kita menempatkan diri sering kali memengaruhi bagaimana orang lain memperlakukan kita. Bukan berarti kita harus merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi kita perlu memahami bahwa menghargai orang lain tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan penghargaan terhadap diri sendiri. Ada perbedaan besar antara rendah hati dan merendahkan diri. Rendah hati adalah ketika kita menyadari bahwa kita tidak lebih tinggi dari siapa pun. Sementara merendahkan diri adalah ketika kita membiarkan kebutuhan, perasaan, prinsip, bahkan martabat kita sendiri selalu berada di bawah kepentingan orang lain. Masalahnya, ketika seseorang terlalu terbiasa mengalah, selalu berkata iya, takut mengecewakan, dan terus berusaha menyenangkan semua orang, kebaikan itu perlahan dapat dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Pengorbanan dianggap kewajiban. Kesediaan membantu dianggap sebagai keharusan. Bahkan diamnya kita ketika diperlakukan tidak baik dapat disalahartikan sebagai izin untuk mengulanginya. Ini...

Dosa Orang Tua Bukan Warisan Anak

Ada satu hal yang seharusnya menjadi kesadaran moral kita: dosa orang tua tidak otomatis menjadi dosa anak. Seorang anak tidak pernah ikut memilih kesalahan yang dilakukan orang tuanya. Ia tidak berada di sana ketika kesalahan itu terjadi. Ia tidak ikut mengambil keputusan. Bahkan ketika ia lahir, ia belum memahami apa pun tentang konflik, sejarah, permusuhan, ataupun kebencian yang pernah terjadi sebelum dirinya hadir ke dunia. Lalu mengapa ada manusia yang membenci seseorang hanya karena ia lahir sebagai keturunan dari kelompok tertentu? Bukankah itu sebuah ketidakadilan? Seorang anak tidak memilih akan dilahirkan dari suku mana. Ia tidak memilih siapa orang tuanya. Ia tidak memilih darah yang mengalir dalam tubuhnya. Ia tidak memilih sejarah yang melekat pada keluarganya. Tetapi terkadang masyarakat memberikan kepadanya hukuman atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan. Kesalahan seseorang ditempelkan kepada anaknya. Kesalahan sebuah kelompok pada masa lalu diwariskan kepada generas...

Pernikahan Bukan Tempat untuk Bersabar Tanpa Batas

Ada kalanya kita perlu bersabar menghadapi pasangan. Pernikahan memang bukan perjalanan yang selalu dihiasi tawa. Ada perbedaan pendapat, kekurangan, kesalahpahaman, masalah ekonomi, kelelahan, dan berbagai ujian kehidupan. Dalam keadaan seperti itu, kesabaran adalah salah satu kekuatan yang membuat dua manusia tetap memilih bertahan. Namun, ada hal yang perlu dibedakan: bersabar menghadapi ujian dengan bersabar menghadapi perilaku yang terus-menerus menyakiti. Tidak semua penderitaan harus diberi nama kesabaran. Jika seseorang terus membuat kita terluka, terus mengabaikan perasaan kita, terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa keinginan untuk berubah, lalu kita diminta bersabar lagi dan lagi, pertanyaannya bukan lagi “Seberapa besar kesabaran kita?” Pertanyaannya adalah: “Apakah hubungan ini masih berjalan dengan sehat?” Sebab pernikahan bukan tempat bagi satu orang untuk terus berbuat salah dan orang lainnya terus-menerus diminta memaklumi. Pernikahan adalah pertemuan dua manusia y...

Menjadi Sandaran bagi Diri Sendiri

Pada akhirnya, kita harus belajar menjadi sandaran bagi diri kita sendiri. Bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain, melainkan kita tidak boleh menjadikan keberadaan orang lain sebagai satu-satunya penopang hidup. Sebab ketika seluruh hidup kita bergantung kepada orang lain, kita menjadi mudah kecewa, mudah takut kehilangan, bahkan mudah diremehkan. Kemandirian bukan tentang merasa paling kuat dan tidak membutuhkan siapa pun. Kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri ketika tidak ada tangan yang mengulurkan bantuan. Ia adalah keberanian untuk berkata, “Saya akan berusaha mencari jalan, meskipun jalan itu tidak mudah.” Karena itu, belajar seharusnya tidak hanya mengejar ijazah atau nilai. Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar memiliki kemampuan yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Pelajari keterampilan, bangun pengalaman, pahami teknologi, belajar berkomunikasi, belajar mengelola keuangan, dan bila memiliki kesempatan, pelajari juga dunia usaha. Kita tidak pernah tahu baga...

Semua Waktu Ada Masanya, Semua Masa Ada Waktunya

Semua waktu ada masanya, dan semua masa ada waktunya. Tidak ada sesuatu yang benar-benar abadi dalam kehidupan manusia. Ada saat kita berada di atas, ada saat kita harus berada di bawah. Ada masa ketika segala sesuatu berjalan sesuai harapan, tetapi ada pula masa ketika rencana yang sudah disusun dengan matang justru berantakan. Begitulah kehidupan. Kadang kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang kita justru dipertemukan dengan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Hari ini kita mungkin sedang menikmati keberhasilan, tetapi tidak ada jaminan bahwa esok kita tidak akan menghadapi kegagalan. Begitu pula sebaliknya, keterpurukan hari ini bukan berarti kehidupan akan selamanya berada di titik yang sama. Karena itu, mungkin tidak ada alasan untuk terlalu sombong ketika berada di atas dan tidak perlu terlalu lama merasa rendah diri ketika berada di bawah. Sebab semuanya hanya titipan. Jabatan adalah titipan. Kekuasaan adalah titipan. Harta adalah titipan. Popularitas a...