Postingan

Mencari Kost di Sekitar ITS: Ketika Informasi Digital Tidak Selalu Menjawab Kenyataan

Minggu lalu saya berkeliling mencari kos di sekitar ITS. Kebetulan anak ketiga diterima disini. Awalnya, seperti kebanyakan orang tua zaman sekarang, saya mengandalkan informasi dari kakak kelas, media sosial, dan aplikasi pencari kos. Namun pada akhirnya, survei langsung ke lapangan tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal. Ada tiga kawasan yang menjadi sasaran: Keputih, Gebang, dan Mulyosari. Ternyata, yang ditemukan di lapangan tidak selalu sama dengan yang terlihat di internet. Banyak kos yang masih penuh, terutama kos putri. Mungkin karena masa wisuda belum berlangsung sehingga penghuni lama belum keluar. Ada beberapa kamar kosong, tetapi setelah dilihat langsung, anak merasa kurang cocok. Padahal menurut saya lokasinya sangat strategis, dekat kampus dan banyak tempat makan. Namun, ternyata memilih tempat tinggal bukan hanya soal jarak dan harga, tetapi juga soal kenyamanan dan "rasa cocok" yang sulit dijelaskan dengan angka. Pengalaman ini menunjukkan bahwa mencari ...

Ketika Kuliah di Luar Negeri Lebih Murah daripada di Negeri Sendiri

Ada sebuah ironi yang patut direnungkan. Selama ini banyak orang tua Indonesia beranggapan bahwa menyekolahkan anak ke luar negeri pasti membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan kuliah di dalam negeri. Namun kenyataan yang saya temui justru sebaliknya. Berdasarkan pengalaman membiayai tiga anak yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbeda, biaya kuliah di beberapa kampus dalam negeri ternyata bisa lebih mahal dibandingkan kuliah di China melalui program beasiswa. Jika dihitung secara keseluruhan hingga lulus, mulai dari UKT, biaya tempat tinggal, makan, transportasi, buku, hingga kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan di kampus negeri ternama seperti Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dapat mencapai sekitar Rp300 juta atau bahkan lebih. Sementara itu, untuk kuliah di China melalui jalur beasiswa, biaya yang harus dikeluarkan sejak proses persiapan hingga keberangkatan, termasuk penggunaan jasa konsultan pendidikan, berkisar antara Rp100...

Pinjol Mudah Cair Tapi Brutal Saat Nagih, Kenapa OJK Diam?

Pinjaman online di Indonesia sekarang jadi paradoks. Saat ngajuin, prosesnya 15 menit, KTP + selfie lolos. Gak ada telepon ke kantor, gak ada verifikasi ke penjamin, gak ada cek lapangan. Tapi begitu telat bayar 3 hari, yang dihubungi bukan cuma kamu. Keluarga, teman, mantan HRD kantor, bahkan nomor yang gak pernah kamu kasih, ikut kena _blast call_ dan _chat_ sebar data. Kenapa bisa begitu? Dan kenapa OJK gak melarang? 1. Model Bisnis Pinjol: Kecepatan > Akurasi Pinjol ilegal dan banyak yang legal pun sengaja bikin proses “tanpa klarifikasi” karena itu nilai jualnya. Bank butuh 3-7 hari verifikasi, pinjol cukup 15 menit.  Logikanya gini: makin mudah cair, makin banyak yang pinjam. Bunga 0,8%-1% per hari itu keliatan kecil, tapi efektif tahunannya bisa 200-400%. Untungnya gila-gilaan, jadi mereka bisa tebalin anggaran buat _debt collector_ dan sistem sebar data. Klarifikasi ke penjamin butuh waktu dan biaya. Kalau ditelpon dulu, 70% calon debitur batal. Jadi mereka skip step itu...

Menutup Minimarket Bukan Jalan Terbaik untuk Melindungi UMKM

Ada berita yang cukup memprihatinkan ditengah kondisi ekonomi yang sedang lemah. Munculnya kebijakan penutupan gerai minimarket seperti Indomaret dan Alfamart di beberapa wilayah Indonesia timur memunculkan perdebatan yang cukup luas. Alasan yang sering dikemukakan adalah demi melindungi UMKM dan pedagang kecil agar tidak kalah bersaing. Niat ini tentu baik. Semua pihak sepakat bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat yang harus dijaga keberlangsungannya. Namun pertanyaannya, apakah menutup pelaku usaha lain adalah solusi yang tepat? Menurut saya, perlindungan terhadap UMKM tidak seharusnya diwujudkan dengan membatasi atau mematikan usaha lain yang juga dibangun oleh anak bangsa sendiri. Minimarket modern seperti Indomaret dan Alfamart bukanlah usaha yang lahir dalam semalam. Mereka tumbuh melalui proses panjang, investasi besar, pembukaan lapangan kerja, pembayaran pajak, hingga menciptakan rantai distribusi yang melibatkan banyak pelaku usaha lokal. Di balik satu gerai minima...

Kata perpisahanku

  ​Sambutan Perpisahan Purnabakti ​ Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi/siang, dan salam sejahtera untuk kita semua. ​Yang saya hormati Bapak Kepala Kantor, para Kepala Seksi, rekan-rekan Pejabat Fungsional (Jafung), serta seluruh rekan-rekan kerja yang saya banggakan dan saya cintai. ​Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di forum yang penuh kehangatan ini. ​Seuntai Kisah Nostalgia: Dari Manokwari hingga Ibu Kota ​Berdiri di sini, izinkan saya membawa Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian kembali sejenak ke masa lalu, sekadar untuk bernostalgia tentang bagaimana perjalanan ini bermula. ​Perjalanan saya di DJPb ini dimulai pada Desember 1997 , saat pertama kali ditempatkan di Manokwari . Saya masih ingat betul momen pembagian SK di lantai 2 Gedung Prijadi. Di sana, ada Mbak Win, Mbak Elin, dan Mbak Khodijah yang bersama-sama dengan sa...

Hadiah dari teman

  Hadiah ini mungkin salah satu yang tak ternilai... Sebuah kenangan yang akan selalu diingat.. Terimakasih atas hadiah ini...  Teruntuk Pak Agus, Selamat atas kelulusannya Bapak bahkan lulus dengan akselerasi Walaupun kami masih bertanya-tanya Kenapa harus berpisah secepat ini?! Tapi kami harus menyadari Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan Bukankah awal hidup kita ini sendiri Adalah hasil sebuah pilihan Selamat menjalani masa purnabakti Menjalani hari berikutnya yang dinanti Pekerjaan kantor sudah tunai dijalani Tugas lain dengan leluasa bisa ditapaki Sehat selalu ya Bahagia selalu Gerbang kantor selalu terbuka Apalagi kalau Bapak membawa pizza Terimakasih kami haturkan Atas segala inspirasi Mengajarkan kami tentang level tertinggi dari kesabaran Maafkan segala tingkah kami yang selalu merepoti Dari Manokwari ke Kota Hujan Membeli talas Bogor dan koteka Sejauh apapun sebuah perjalanan Keluarga adalah pilihan yang utama

HARI YANG DIPERCEPAT

  Hadiah dari teman seangkatan..yang akan selalu awet dan menjadi kenangan tak terlupa. Bogor, 22 Mei 2026, dari : BO97 Siti, Winarsih, Elin) Hari ini memang disengaja Hari ini hanyalah moment yang tertunda Hari yang tertunda untuk sekian kalinya Purbabakti sebelum umurnya Pendi, berulang diajukan  Sampai tiba saat dikabulkan Sampai Hari ini tiba, mungkin terasa berat Berpisah dengan banyak sahabat Namun hari ini juga ringan, karena sejak lama diinginkan Mas, kita sempat bicara tentang pensiun bersama Tapi ternyata mendahului 7 tahun sebelumnya Mas,  kita sempat start di SK CPNS yang sama Tapi ternyata SK pensiunnya di tahun yang berbeda Mas tahu, pensiun kamipun belum tentu 7 tahun lagi Entah kisah apa yang akan kami lalui Namun kapanpun  moment itu tiba Semoga langkah kami ringan dan suka cita Tidak ada yang bisa kami berikan Hanya doa yang bisa kami panjatkan Semoga apapun yang direncanakan Berjalan sesuai ingin dan diberi ringan Terlalu banyak yang Mas tinggalkan...