Postingan

Korupsi Tidak Pernah Dimulai dari Uang, tetapi dari Rasa Tidak Pernah Cukup

Belakangan ini publik kembali dihebohkan oleh pemberitaan mengenai seorang aparatur negara yang rumahnya digeledah dan ditemukan menyimpan emas dalam jumlah yang sangat besar. Reaksi masyarakat pun hampir seragam. Banyak yang bertanya, mungkinkah kekayaan sebesar itu berasal dari gaji dan tunjangan, bahkan jika dikumpulkan selama puluhan tahun mengabdi? Namun, pertanyaan yang lebih penting sesungguhnya bukanlah berapa banyak emas yang ditemukan, melainkan dari mana semua itu berasal. Di situlah letak persoalannya. Fenomena seperti ini mengingatkan pada adegan-adegan dalam drama Tiongkok maupun Korea. Ketika seorang pejabat dicurigai, cara paling mudah untuk menguji integritasnya bukanlah langsung mencari bukti, tetapi memberinya jabatan, kewenangan, dan akses terhadap kekuasaan. Kekuasaan sering kali menjadi ujian terbesar karakter seseorang. Jabatan tidak mengubah watak, tetapi memperlihatkan watak yang sebenarnya. Korupsi pada hakikatnya bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah keg...

Korupsi dan Sunyinya Suara Hati

Setiap kali kasus korupsi terungkap, masyarakat hampir selalu bertanya tentang jumlah uang, emas, rumah, atau aset yang berhasil disita. Padahal, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa yang terjadi di dalam hati seseorang hingga ia merasa pantas mengambil sesuatu yang bukan haknya? Mungkin jawabannya berbeda-beda. Ada yang menganggap kesempatan seperti itu tidak akan datang dua kali. Ada yang merasa tidak akan pernah ketahuan. Ada yang berpikir, selama masih hidup, kenikmatan dunia lebih nyata daripada pertanggungjawaban di akhirat. Ada pula yang pandai membenarkan perbuatannya sendiri, menganggap apa yang diperoleh sebagai rezeki, bahkan merasa itu halal karena sudah menjadi kebiasaan di lingkungannya. Semua itu tentu hanya kemungkinan. Tidak seorang pun dapat memastikan apa yang ada dalam hati orang lain. Namun, satu hal yang dapat kita lihat adalah bahwa korupsi hampir selalu diawali oleh kemampuan manusia untuk membenarkan kesalahannya sendiri. Sesungguhnya, dosa tidak menjad...

Puncak yang Kembali Terlihat, Pelajaran yang Belum Tentu Terlihat

Kemarin, ketika menyusuri jalanan Puncak dan Ciloto, ada pemandangan yang terasa berbeda. Deretan bangunan yang selama bertahun-tahun memenuhi pinggir jalan kini banyak yang telah dibongkar. Untuk pertama kalinya, mata bisa lebih leluasa menikmati hamparan perbukitan dan lanskap yang selama ini tertutup bangunan. Seolah kawasan Puncak mendapatkan kembali sebagian wajah aslinya. Tentu penertiban ini memunculkan dua pandangan. Ada yang merasa sedih karena bangunan-bangunan itu menjadi sumber penghidupan masyarakat. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa jika bangunan tersebut memang melanggar aturan, berdiri di sempadan sungai, kawasan hijau, atau tidak memiliki izin yang sah, maka penertiban adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Masalahnya, pembongkaran hanyalah langkah awal. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah kawasan yang sudah ditertibkan akan tetap tertib? Atau justru beberapa tahun kemudian bangunan-bangunan serupa akan tumbuh kembali? Pengalaman di banyak t...

Ketika Hasrat Mengalahkan Kesadaran

Miris.  Mungkin itu kata yang paling mudah terucap ketika melihat beredarnya video pelanggaran norma susila yang dilakukan di ruang kelas sebuah universitas. Ruang yang semestinya menjadi tempat mencari ilmu, berdiskusi, dan membangun masa depan, justru berubah menjadi panggung bagi perilaku yang mengabaikan batas kepantasan. Sebagian orang bertanya, mengapa yang melihat tidak menegur, melainkan memilih merekam dan mengunggahnya ke media sosial? Pertanyaan itu juga penting. Sebab, di era digital, rasa ingin tahu dan keinginan mendapatkan perhatian sering kali lebih besar daripada dorongan untuk mencegah atau melindungi. Ada kecenderungan menjadikan setiap peristiwa sebagai konten, bahkan ketika peristiwa itu menyangkut kehormatan dan masa depan orang lain. Namun pertanyaan yang tak kalah penting adalah, mengapa ruang kelas dipilih? Mengapa tidak di tempat yang lebih privat? Mungkin ada unsur pencarian sensasi, tantangan, atau dorongan adrenalin yang membuat sesuatu yang terlarang t...

Harga Kost dan Hukum Pasar: Catatan Kecil dari Jatinangor

Ketika mencari kos untuk anak ketiga yang akan kuliah di ITS, saya teringat pengalaman beberapa tahun lalu saat anak pertama masuk Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Waktu itu, kos di daerah Sukawening, kenapa mencari kesini karena beberapa lokasi lainnya lumayan juga harga kostnya. Di gkpn, caringin, di ahmad syam, atau apartemen dekat polsek, lumayan harganya. Di Sukawening masih bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp9 juta per tahun. Lokasinya pun masuk kedalam lumayan jauh. Setahun kemudian naik menjadi Rp10 juta, lalu Rp12 juta. Kini, harga yang sama sudah menyentuh Rp16 juta per tahun. Kenaikan yang cukup signifikan hanya dalam beberapa tahun. Fenomena ini mengingatkan pada teori klasik Adam Smith tentang penawaran dan permintaan. Ketika jumlah mahasiswa meningkat sementara ketersediaan kamar kos tidak bertambah secara sebanding, harga pun naik mengikuti mekanisme pasar. Dalam konteks Jatinangor, lonjakan permintaan semakin terasa sejak ITB melakukan peralihan massal Program ...

Mencari Kost di Sekitar ITS: Ketika Informasi Digital Tidak Selalu Menjawab Kenyataan

Minggu lalu saya berkeliling mencari kos di sekitar ITS. Kebetulan anak ketiga diterima disini. Awalnya, seperti kebanyakan orang tua zaman sekarang, saya mengandalkan informasi dari kakak kelas, media sosial, dan aplikasi pencari kos. Namun pada akhirnya, survei langsung ke lapangan tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal. Ada tiga kawasan yang menjadi sasaran: Keputih, Gebang, dan Mulyosari. Ternyata, yang ditemukan di lapangan tidak selalu sama dengan yang terlihat di internet. Banyak kos yang masih penuh, terutama kos putri. Mungkin karena masa wisuda belum berlangsung sehingga penghuni lama belum keluar. Ada beberapa kamar kosong, tetapi setelah dilihat langsung, anak merasa kurang cocok. Padahal menurut saya lokasinya sangat strategis, dekat kampus dan banyak tempat makan. Namun, ternyata memilih tempat tinggal bukan hanya soal jarak dan harga, tetapi juga soal kenyamanan dan "rasa cocok" yang sulit dijelaskan dengan angka. Pengalaman ini menunjukkan bahwa mencari ...

Ketika Kuliah di Luar Negeri Lebih Murah daripada di Negeri Sendiri

Ada sebuah ironi yang patut direnungkan. Selama ini banyak orang tua Indonesia beranggapan bahwa menyekolahkan anak ke luar negeri pasti membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan kuliah di dalam negeri. Namun kenyataan yang saya temui justru sebaliknya. Berdasarkan pengalaman membiayai tiga anak yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbeda, biaya kuliah di beberapa kampus dalam negeri ternyata bisa lebih mahal dibandingkan kuliah di China melalui program beasiswa. Jika dihitung secara keseluruhan hingga lulus, mulai dari UKT, biaya tempat tinggal, makan, transportasi, buku, hingga kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan di kampus negeri ternama seperti Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dapat mencapai sekitar Rp300 juta atau bahkan lebih. Sementara itu, untuk kuliah di China melalui jalur beasiswa, biaya yang harus dikeluarkan sejak proses persiapan hingga keberangkatan, termasuk penggunaan jasa konsultan pendidikan, berkisar antara Rp100...