Kata perpisahanku

 

​Sambutan Perpisahan Purnabakti

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi/siang, dan salam sejahtera untuk kita semua.

​Yang saya hormati Bapak Kepala Kantor, para Kepala Seksi, rekan-rekan Pejabat Fungsional (Jafung), serta seluruh rekan-rekan kerja yang saya banggakan dan saya cintai.

​Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di forum yang penuh kehangatan ini.

​Seuntai Kisah Nostalgia: Dari Manokwari hingga Ibu Kota

​Berdiri di sini, izinkan saya membawa Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian kembali sejenak ke masa lalu, sekadar untuk bernostalgia tentang bagaimana perjalanan ini bermula.

​Perjalanan saya di DJPb ini dimulai pada Desember 1997, saat pertama kali ditempatkan di Manokwari. Saya masih ingat betul momen pembagian SK di lantai 2 Gedung Prijadi. Di sana, ada Mbak Win, Mbak Elin, dan Mbak Khodijah yang bersama-sama dengan saya menerima amanah tersebut.

​Penempatan pertama itu membawa banyak cerita "pertama kali" dalam hidup saya:

  • Pertama kali naik pesawat dalam waktu yang sangat lama. Berangkat jam 5 pagi, baru sampai ashar di Biak—itu pun belum sampai Manokwari. Kami harus transit dan menginap 3 hari di Biak karena penerbangan ke Manokwari selalu penuh (full book). Pesawatnya pun makin lama makin kecil, dari kursi 3 baris ganti ke 2 baris.
  • Pengalaman naik kapal laut yang menguji kesabaran. Enam hari tujuh malam perjalanan dari Manokwari ke Surabaya. Kalau mau lanjut sampai Jakarta, tambah lagi dua hari tiga malam. Sampai di titik jenuh yang luar biasa di atas kapal. Begitupun sebaliknya ketika kembali ke Manokwari... Hampir setengah bulan dihabiskan waktunya dalam perjalanan. Sangat melelahkan memang, namun bagaimana lagi karena ini yang terjangkau kantong
  • Momen menegangkan pada Kerusuhan '98. Ini adalah pengalaman yang membuat ngeri. Ketika semua orang sudah menyelamatkan diri, saya, Mas Wi, dan Mas Mursyid justru ketinggalan di kantor. Gedung persis di sebelah kantor sudah dibakar massa, dan gedung KPPN pun sudah dilempari batu, hampir ikut dibakar. Namun, Alhamdulillah, Allah masih memberikan umur panjang melalui teriakan salah seorang warga massa, "Jangan dibakar, kitorang gajian dari sini!" Sungguh sebuah mukjizat yang tidak akan pernah saya lupakan.

​Sebenarnya, cerita di Manokwari masih sangat banyak, tapi kalau diceritakan semua, bisa sampai malam kita di sini.

​Perjalanan Mutasi dan Blessing in Disguise

​Memasuki bulan September 2000, saya dipindahtugaskan ke Bogor. Saat itu saya sempat bingung, karena teman-teman seangkatan rata-rata mutasi ke homebase mereka masing-masing, sementara saya malah terlempar ke Bogor. Namun ternyata, itu adalah blessing in disguise—rencana indah Allah agar saya menemukan tulang rusuk dan pendamping hidup saya di kota ini.

​Tantangan berikutnya hadir di bulan September 2006 saat saya mutasi ke Pekanbaru. Di sinilah momen pertama kali saya berniat untuk mengajukan pensiun dini. Saat itu, anak ketiga kami lahir, namun tidak ada satu pun keluarga yang menemani istri saya. Dari mulai menandatangani surat rumah sakit hingga proses melahirkan, istri saya harus berjuang sendiri. Tapi Allah Maha Besar, saya tidak lama di sana, hanya sekitar 10 bulan.

​Pada Juli 2007, saya kembali bergeser ke KPPN Jakarta 1. Di sana saya bertemu dengan Mas Sunti dan Pak Sukemi. Di sinilah saya merasakan pengalaman pertama lembur hingga menginap di kantor saat menghadapi masa-masa genting akhir tahun anggaran.

​Perjalanan berlanjut ke Kantor Pusat pada Oktober 2011 di Direktorat PKN, tepatnya di Subdit Audit PN—yang menjadi cikal bakal KPPN Penerimaan. Di sana saya bertemu dengan Bu Indra. Bekerja di Kantor Pusat memberikan atmosfer yang jauh berbeda; pulang jam 5 sore rasanya menjadi hal paling aneh sedunia. Kami menyusun regulasi, rapat marathon sampai larut malam, bahkan sering kali tidak pulang ke rumah.

​Hingga akhirnya, pada September 2014, saya kembali "pulang" ke Bogor. Bekerja di kantor vertikal rasanya berbanding 180 derajat dengan Kantor Pusat. Di sini, sungguh banyak sukanya dan hampir tidak ada dukanya.

​Akhir dari Sebuah Pengabdian

​Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian...,

Tanpa terasa, 30 tahun 3 bulan sudah masa kerja saya dedikasikan di Direktorat Jenderal Perbendaharaan ini. Sebuah perjalanan yang cukup panjang, yang kelak akan menjadi modal cerita yang indah untuk anak dan cucu saya.

​Pada kesempatan yang khidmat ini, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga atas bantuan, dukungan, kerja sama, dan bimbingan yang telah diberikan oleh Bapak Kepala Kantor, para Kasi, dan seluruh rekan-rekan tanpa terkecuali.

​Saya dan keluarga juga memohon maaf yang sebesar-besarnya lahir dan batin, apabila selama berinteraksi, bekerja sama, dan bertutur kata, terdapat kekeliruan, khilaf, maupun kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja.

​Saya memohon doa restu dari rekan-rekan sekalian, semoga di masa purnabakti nanti, saya senantiasa diberikan kesehatan yang paripurna, keselamatan, serta keberkahan oleh Allah SWT.

​Satu permohonan terakhir saya: jangan lupakan saya. Walaupun raga saya sudah tidak lagi berada di kantor ini, semoga silaturahmi kita tetap terjaga. Siapa tahu ada kabar rekan-rekan yang mau menikahkan anaknya, atau suatu saat nanti menikahkan cucunya, silakan kabari saya, insya Allah saya akan usahakan untuk hadir.

​Demikian yang dapat saya sampaikan. Kurang dan lebihnya mohon dimaafkan.

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo

Contoh surat ralat