Dosa Orang Tua Bukan Warisan Anak
Ada satu hal yang seharusnya menjadi kesadaran moral kita: dosa orang tua tidak otomatis menjadi dosa anak.
Seorang anak tidak pernah ikut memilih kesalahan yang dilakukan orang tuanya. Ia tidak berada di sana ketika kesalahan itu terjadi. Ia tidak ikut mengambil keputusan. Bahkan ketika ia lahir, ia belum memahami apa pun tentang konflik, sejarah, permusuhan, ataupun kebencian yang pernah terjadi sebelum dirinya hadir ke dunia.
Lalu mengapa ada manusia yang membenci seseorang hanya karena ia lahir sebagai keturunan dari kelompok tertentu?
Bukankah itu sebuah ketidakadilan?
Seorang anak tidak memilih akan dilahirkan dari suku mana. Ia tidak memilih siapa orang tuanya. Ia tidak memilih darah yang mengalir dalam tubuhnya. Ia tidak memilih sejarah yang melekat pada keluarganya.
Tetapi terkadang masyarakat memberikan kepadanya hukuman atas sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.
Kesalahan seseorang ditempelkan kepada anaknya.
Kesalahan sebuah kelompok pada masa lalu diwariskan kepada generasi yang bahkan belum lahir ketika peristiwa itu terjadi.
Ini adalah bentuk ketidakadilan yang sering kali tidak kita sadari.
Manusia seharusnya dinilai dari perbuatannya sendiri, bukan dari dosa orang yang kebetulan memiliki hubungan darah dengannya.
Kalau seorang ayah melakukan kesalahan, anaknya tidak otomatis menjadi orang yang bersalah.
Kalau seseorang dari sebuah suku melakukan kejahatan, seluruh suku tidak otomatis menjadi jahat.
Kalau sebuah kelompok pernah melakukan kesalahan pada masa lalu, generasi berikutnya tidak seharusnya dihukum hanya karena identitas yang melekat pada dirinya sejak lahir.
Kita boleh mengingat sejarah. Bahkan kita memang harus mengingat sejarah agar kesalahan tidak terulang. Tetapi mengingat sejarah berbeda dengan mewariskan kebencian.
Sejarah seharusnya menjadi pelajaran, bukan bahan bakar permusuhan tanpa akhir.
Masalahnya, kebencian ternyata memang bisa diwariskan.
Bukan melalui darah.
Bukan melalui gen.
Tetapi melalui pendidikan, cerita, lingkungan, bahasa, dan contoh perilaku.
Seorang anak mungkin lahir tanpa membenci siapa pun. Kemudian ia mendengar dari orang tuanya bahwa suku tertentu harus dijauhi. Ia mendengar bahwa kelompok tertentu buruk. Ia melihat orang dewasa di sekitarnya menghina identitas tertentu. Ia menerima cerita yang sama berulang-ulang sampai akhirnya menganggapnya sebagai kebenaran.
Pada titik itu, kebencian telah menemukan cara untuk berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ironisnya, orang yang mengajarkan kebencian kepada anak sering kali merasa sedang melindungi anaknya.
Padahal bisa jadi ia sedang memberikan beban yang tidak pernah diminta oleh anak tersebut.
Anak itu akhirnya tumbuh membawa konflik yang bukan miliknya.
Ia membenci orang yang tidak pernah menyakitinya.
Ia curiga kepada orang yang tidak pernah berbuat salah kepadanya.
Ia menolak berteman dengan seseorang hanya karena identitas yang melekat pada orang tersebut.
Dan yang paling menyedihkan, ia mungkin tidak pernah tahu dari mana kebencian itu sebenarnya berasal.
Ia hanya mewarisi sebuah perasaan yang diajarkan kepadanya.
Di sinilah orang tua memiliki tanggung jawab moral yang besar.
Rumah seharusnya menjadi tempat pertama seorang anak belajar tentang kasih sayang, bukan tempat pertama ia belajar membenci manusia lain.
Orang tua memang berhak mengajarkan nilai, keyakinan, budaya, dan sejarah kepada anak-anaknya. Tetapi jangan sampai sejarah keluarga berubah menjadi doktrin kebencian.
Ajarkan anak untuk mengenal masa lalu, tetapi juga ajarkan bahwa manusia tidak selalu sama dengan sejarah kelompoknya.
Ajarkan anak untuk berhati-hati, tetapi jangan ajarkan mereka untuk membenci semua orang yang berbeda.
Ajarkan mereka mencintai sukunya, tetapi jangan mengajarkan bahwa sukunya lebih tinggi daripada suku lain.
Ajarkan mereka mencintai agamanya, tetapi jangan membuat mereka merasa memiliki hak untuk merendahkan pemeluk agama lain.
Sebab mencintai kelompok sendiri dan membenci kelompok lain adalah dua hal yang berbeda.
Kita bisa mencintai identitas tanpa menciptakan musuh.
Kita bisa menjaga sejarah tanpa memelihara dendam.
Kita bisa mengingat ketidakadilan tanpa mengubah anak-anak kita menjadi pewaris kebencian.
Dan kita bisa mengatakan kepada generasi berikutnya:
"Apa yang terjadi dahulu adalah pelajaran. Bukan alasan bagimu untuk membenci orang yang lahir hari ini."
Bukankah itu jauh lebih adil?
Setiap generasi seharusnya memiliki kesempatan untuk memperbaiki dunia yang diwarisinya.
Kalau setiap kesalahan masa lalu terus dibalas oleh generasi berikutnya, kapan rantai kebencian itu akan berakhir?
Jika seseorang membenci anak keturunan dari kelompok tertentu karena kesalahan leluhurnya, kemudian anak itu tumbuh dan membenci balik kelompok yang dianggap memusuhinya, maka kebencian akan terus berputar.
Satu generasi mewariskan luka.
Generasi berikutnya mewariskan dendam.
Generasi setelahnya mewariskan prasangka.
Dan akhirnya orang-orang yang tidak pernah saling melakukan kesalahan justru menjadi musuh hanya karena cerita yang mereka warisi.
Inilah lingkaran yang harus diputus.
Dan mungkin kita tidak perlu menunggu pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat, atau siapa pun untuk memulainya.
Kita bisa memulainya dari rumah.
Dari cara kita berbicara kepada anak.
Dari cara kita membicarakan tetangga yang berbeda suku.
Dari cara kita menyikapi orang yang berbeda agama.
Dari cara kita menggunakan media sosial.
Karena anak-anak tidak hanya mendengarkan apa yang kita katakan. Mereka juga belajar dari apa yang kita lakukan.
Jika kita ingin anak-anak kita hidup dalam masyarakat yang damai, jangan hanya mengajarkan mereka untuk membela kelompoknya.
Ajarkan mereka untuk menghormati manusia.
Sebab identitas adalah sesuatu yang melekat sejak lahir, sementara karakter dibentuk melalui pilihan dan perjalanan hidup.
Seorang anak tidak bertanggung jawab atas dosa orang tuanya.
Ia juga tidak bertanggung jawab atas kesalahan leluhurnya.
Dan ia tidak seharusnya dihukum hanya karena lahir dari suku, ras, agama, atau keluarga tertentu.
Kalau ada kesalahan, pertanggungjawabkan kepada orang yang melakukannya.
Kalau ada kejahatan, hukum pelakunya.
Kalau ada sejarah kelam, pelajari.
Tetapi jangan jadikan anak-anak yang lahir kemudian sebagai terdakwa atas perkara yang tidak pernah mereka lakukan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar bukan “kebencian apa yang diwariskan kepada kita?”
Melainkan:
“Kebencian apa yang berani kita hentikan agar tidak diwariskan kepada anak-anak kita?”
Sebab dosa mungkin tidak diwariskan kepada anak.
Kesalahan masa lalu juga tidak otomatis menjadi kesalahan generasi berikutnya.
Tetapi kebencian bisa diwariskan.
Ia bisa ditanam melalui kata-kata.
Ia bisa disuburkan melalui prasangka.
Ia bisa tumbuh melalui pendidikan yang salah.
Dan akhirnya menjadi pohon besar yang menaungi beberapa generasi dengan permusuhan.
Karena itu, kalau kita pernah menerima kebencian sebagai warisan, mungkin sudah waktunya kita menjadi generasi yang mengatakan:
“Cukup sampai di sini. Anak-anak kami berhak mewarisi masa depan, bukan kebencian masa lalu.”