Menjadi Sandaran bagi Diri Sendiri
Pada akhirnya, kita harus belajar menjadi sandaran bagi diri kita sendiri. Bukan berarti kita tidak membutuhkan orang lain, melainkan kita tidak boleh menjadikan keberadaan orang lain sebagai satu-satunya penopang hidup. Sebab ketika seluruh hidup kita bergantung kepada orang lain, kita menjadi mudah kecewa, mudah takut kehilangan, bahkan mudah diremehkan.
Kemandirian bukan tentang merasa paling kuat dan tidak membutuhkan siapa pun. Kemandirian adalah kemampuan untuk berdiri ketika tidak ada tangan yang mengulurkan bantuan. Ia adalah keberanian untuk berkata, “Saya akan berusaha mencari jalan, meskipun jalan itu tidak mudah.”
Karena itu, belajar seharusnya tidak hanya mengejar ijazah atau nilai. Belajarlah dengan sungguh-sungguh agar memiliki kemampuan yang bisa digunakan untuk bertahan hidup. Pelajari keterampilan, bangun pengalaman, pahami teknologi, belajar berkomunikasi, belajar mengelola keuangan, dan bila memiliki kesempatan, pelajari juga dunia usaha.
Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan akan berubah. Hari ini mungkin kita memiliki pekerjaan yang nyaman, tetapi belum tentu sepuluh atau dua puluh tahun kemudian keadaan masih sama. Dunia kerja berubah, kebutuhan berubah, teknologi berkembang, dan kesempatan bisa datang sekaligus pergi. Orang yang hanya mengandalkan satu sumber penghasilan tanpa mau meningkatkan kemampuan akan lebih mudah goyah ketika keadaan berubah.
Namun ada satu hal yang sering dilupakan: mandiri bukan berarti memilih-milih pekerjaan.
Apapun pekerjaan yang sedang kita jalani, lakukan dengan optimal. Jangan merasa rendah hanya karena pekerjaan kita belum sesuai dengan cita-cita. Tidak ada pekerjaan halal yang pantas dihina. Yang membedakan bukan semata-mata jenis pekerjaannya, tetapi bagaimana seseorang menjalankannya.
Jika hari ini kita bekerja sebagai pedagang, jadilah pedagang yang jujur. Jika menjadi pegawai, jadilah pegawai yang bertanggung jawab. Jika menjadi pekerja lapangan, jadilah pekerja yang dapat dipercaya. Jika menjadi pengusaha kecil, bangun usahanya dengan disiplin.
Kerjakan yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya, sambil terus mempersiapkan diri untuk kesempatan yang lebih besar.
Kita juga perlu mengkritik budaya yang terlalu sering mengukur keberhasilan seseorang dari jabatan, gaji, rumah, kendaraan, atau status sosial. Akibatnya, banyak orang mengejar pengakuan tetapi lupa membangun kemampuan. Mereka ingin terlihat berhasil sebelum benar-benar memiliki fondasi kehidupan yang kuat.
Padahal, kemandirian tidak selalu terlihat dari luar.
Seseorang mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak mudah mengeluh, mampu mengambil keputusan, dan terus belajar. Itu pun sebuah keberhasilan.
Sebaliknya, seseorang bisa memiliki banyak fasilitas tetapi seluruh hidupnya bergantung kepada orang lain. Ketika bantuan berhenti, ia tidak tahu harus berbuat apa. Di situlah kita memahami bahwa kemapanan dan kemandirian adalah dua hal yang berbeda.
Menjadi mandiri juga bukan alasan untuk menjadi sombong. Kita tetap membutuhkan keluarga, sahabat, tetangga, rekan kerja, dan masyarakat. Tidak ada manusia yang benar-benar mampu hidup sendiri. Bahkan orang yang paling mandiri sekalipun pernah menerima bantuan dari orang lain.
Karena itu, tujuan kemandirian bukan agar kita tidak membutuhkan siapa pun, tetapi agar ketika mendapatkan bantuan, kita menerimanya sebagai bentuk kebaikan, bukan sebagai sesuatu yang wajib diberikan orang lain.
Ada saatnya kita menjadi orang yang disandari. Ada saatnya kita menjadi orang yang bersandar.
Keduanya adalah bagian dari kehidupan.
Maka, selama masih memiliki kesempatan, belajarlah. Tingkatkan kemampuan. Jangan malu memulai dari bawah. Jangan terlalu sibuk membuktikan diri kepada orang lain. Bangun kemampuan sedikit demi sedikit sampai kita memiliki pilihan dalam hidup.
Sebab orang yang memiliki kemampuan akan lebih sulit dipaksa oleh keadaan.
Dan orang yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri tidak akan mudah runtuh hanya karena satu pintu tertutup.
Jadilah manusia yang mandiri. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh di mana pun berada. Teruslah belajar apa pun pekerjaan yang dilakukan. Jangan menunggu hidup menjadi mudah untuk menjadi kuat. Justru karena hidup tidak selalu mudah, kita harus mempersiapkan diri agar mampu menghadapinya.
Pada akhirnya, sandaran terbaik yang harus kita bangun bukanlah kekayaan, jabatan, ataupun pujian manusia, melainkan kemampuan, karakter, kerja keras, dan keyakinan bahwa kita akan selalu berusaha mencari jalan ketika kehidupan membawa kita ke persimpangan.