Jangan Padamkan Lampu Kebaikan

Sinar matahari begitu kuat, tetapi bahkan matahari pun tidak mampu menerangi semua tempat. Selalu ada sudut yang tertutup, ruang yang gelap, atau malam yang membuat cahaya matahari tak sampai. Karena itulah manusia menciptakan lampu—cahaya kecil yang mungkin tidak mampu menerangi seluruh dunia, tetapi cukup untuk membuat seseorang tidak berjalan dalam kegelapan.

Begitu pula dengan kebaikan.
Kita tidak harus menjadi matahari untuk memberi manfaat kepada banyak orang. Kadang cukup menjadi lampu kecil bagi seseorang: membantu ketika ia kesulitan, mendengarkan ketika ia membutuhkan teman, memberi ketika kita memiliki sedikit kelebihan, atau sekadar memperlakukan orang lain dengan baik.
Namun persoalannya, tidak setiap kebaikan akan diterima sebagai kebaikan.
Ada orang yang berterima kasih. Ada yang menganggapnya biasa. Ada pula yang setelah berkali-kali menerima bantuan mulai menganggapnya sebagai kewajiban. Bahkan tidak jarang orang yang kita bantu justru mengecewakan, meremehkan, atau membicarakan kita dengan buruk.
Di titik seperti itulah kebaikan diuji.
Mudah berbuat baik kepada orang yang selalu berterima kasih. Mudah memberi kepada orang yang menghargai pemberian kita. Yang jauh lebih sulit adalah mempertahankan keyakinan terhadap nilai kebaikan setelah mengalami kekecewaan.
Tetapi jangan sampai satu-dua orang yang tidak tahu berterima kasih membuat kita menghukum banyak orang lain yang sebenarnya masih layak menerima kebaikan.
Ibarat sebuah lampu, jangan memadamkannya hanya karena pernah ada seseorang yang tidak menghargai cahayanya. Sebab ketika lampu itu kita padamkan, yang bertambah bukanlah pelajaran bagi orang yang tidak tahu berterima kasih, melainkan kegelapan bagi mereka yang mungkin benar-benar membutuhkan cahaya.
Meski demikian, berbuat baik bukan berarti membiarkan diri dimanfaatkan.
Kebaikan tetap membutuhkan batas. Memaafkan bukan berarti memberikan kesempatan tanpa akhir untuk disakiti. Menolong bukan berarti mengambil alih seluruh tanggung jawab orang lain. Memberi bukan berarti kita harus mengorbankan diri sampai kehilangan kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri.
Kebaikan tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi ruang bagi orang lain untuk mengambil keuntungan. Sebaliknya, kebijaksanaan tanpa kebaikan dapat menjadikan hati terlalu keras karena pengalaman buruk.
Maka yang perlu dihentikan bukanlah kebaikannya, melainkan cara memberi yang keliru.
Jika seseorang berkali-kali menyalahgunakan pertolongan kita, kita boleh berhenti menolongnya dengan cara yang sama. Kita boleh menjaga jarak. Kita boleh mengatakan tidak. Tetapi jangan sampai pengalaman buruk dengan seseorang mengubah kita menjadi manusia yang curiga kepada semua orang.
Sebab pada akhirnya, nilai sebuah kebaikan tidak selalu ditentukan oleh bagaimana penerimanya membalas.
Bunga tetap harum meskipun orang yang melewatinya tidak memuji wanginya. Matahari tetap terbit meskipun ada orang yang mengeluhkan panasnya. Dan lampu tetap memiliki arti meskipun hanya menerangi sebuah ruangan kecil.
Demikian pula manusia.
Kita mungkin tidak mampu menjadi cahaya bagi semua orang. Tidak semua orang akan menyukai kita, memahami niat kita, atau menghargai apa yang kita lakukan. Itu tidak mengapa.
Tetaplah berbuat baik.
Bukan karena semua orang pantas menerima kebaikan kita, tetapi karena kita tidak ingin perilaku buruk orang lain menentukan siapa diri kita.
Jangan biarkan orang yang tidak menghargai kebaikan berhasil melakukan dua kerugian sekaligus: pertama, mengecewakan kita; kedua, mematikan kebaikan dalam diri kita.
Biarkan lampu itu tetap menyala.
Mungkin cahayanya kecil. Mungkin tidak menerangi seluruh dunia. Tetapi bagi seseorang yang sedang berjalan dalam kegelapan, cahaya kecil itu bisa berarti segalanya.
 

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo

Contoh surat ralat