Ketika bantuan mulai dinilai seperti pesanan: tidak sesuai selera lalu dibuang
Miris rasanya membaca berita tentang seorang warga terdampak bencana yang justru menghancurkan bantuan yang diterimanya. Apa pun alasan di balik tindakan tersebut, peristiwa semacam ini layak menjadi bahan renungan bersama tentang cara kita memandang bantuan, kepedulian, dan rasa syukur.
Bencana memang bukan keadaan yang mudah. Kehilangan rumah, harta benda, pekerjaan, bahkan mungkin orang yang dicintai dapat membuat seseorang berada dalam tekanan psikologis yang luar biasa. Dalam keadaan seperti itu, kemarahan, kekecewaan, dan frustrasi sangat mungkin muncul. Karena itu, kita juga tidak seharusnya terlalu cepat menghakimi korban hanya dari satu potongan kejadian.
Namun memahami kemarahan tidak berarti membenarkan tindakan merusak bantuan.
Bantuan mungkin tidak selalu sesuai dengan keinginan penerimanya. Jumlahnya mungkin sedikit, jenis barangnya mungkin bukan yang paling dibutuhkan, atau nilainya mungkin terasa tidak sebanding dengan kerugian yang dialami. Tetapi menghancurkan bantuan bukanlah cara yang tepat untuk menyampaikan kekecewaan.
Sebab di balik satu kardus makanan, sekarung beras, beberapa helai pakaian, obat-obatan, atau sejumlah uang, mungkin ada banyak tangan yang bekerja.
Ada orang yang menyisihkan sebagian penghasilannya. Ada relawan yang mengangkut bantuan berjam-jam. Ada petugas yang menembus jalan rusak. Ada masyarakat yang sebenarnya hidup pas-pasan tetapi tetap merasa perlu berbagi karena melihat saudara sebangsanya sedang mengalami kesulitan.
Karena itu, besar atau kecilnya bantuan seharusnya diterima dengan lapang dada.
Jika memang bantuan tersebut tidak dibutuhkan, masih ada pilihan yang jauh lebih bermartabat: berikan kepada korban lain yang lebih membutuhkan. Barang yang dianggap tidak berarti bagi seseorang mungkin sangat berarti bagi orang lain.
Di sinilah rasa syukur diuji.
Bersyukur bukan berarti korban tidak boleh mengkritik pemerintah, lembaga kemanusiaan, atau sistem distribusi bantuan. Jika bantuan terlambat, tidak tepat sasaran, kualitasnya buruk, atau distribusinya tidak adil, kritik tetap diperlukan. Bahkan kritik merupakan bagian penting dari pengawasan publik.
Tetapi kritik terhadap sistem berbeda dengan merendahkan pemberian.
Kita boleh menuntut negara menjalankan kewajibannya dengan baik, tetapi jangan sampai kemarahan kepada sistem dilampiaskan kepada barang bantuan yang pada akhirnya juga dapat berasal dari kepedulian masyarakat.
Ada perbedaan besar antara mengatakan, “Kami membutuhkan bantuan yang lebih sesuai dengan kondisi di lapangan,” dengan menghancurkan bantuan yang telah diberikan.
Yang pertama adalah kritik. Yang kedua berpotensi melukai kepedulian.
Dan inilah yang perlu kita khawatirkan. Jangan sampai perilaku segelintir orang membuat masyarakat yang sebelumnya ringan tangan menjadi berpikir dua kali untuk membantu. Jangan sampai muncul perasaan, “Untuk apa membantu kalau akhirnya tidak dihargai?”
Padahal solidaritas sosial adalah salah satu kekuatan terbesar ketika bencana datang.
Hari ini mungkin kita yang menerima bantuan. Besok mungkin kita yang memberikan bantuan. Tidak seorang pun mengetahui kapan kehidupannya berubah. Orang yang hari ini berkecukupan bisa saja suatu saat membutuhkan pertolongan orang lain.
Karena itu, bantuan jangan hanya dinilai dari harga barang yang diterima. Lihatlah juga niat dan kepedulian yang menyertainya.
Bencana memang dapat menghancurkan rumah dan harta benda. Tetapi jangan sampai bencana ikut menghancurkan rasa terima kasih, empati, dan penghargaan kita kepada sesama.
Jika bantuan yang datang hanya sedikit, terimalah dengan baik. Jika kurang sesuai, sampaikan dengan santun. Jika tidak membutuhkan, berikan kepada orang lain.
Sebab mungkin yang kita anggap kecil adalah sesuatu yang sangat besar bagi orang yang memberikannya.
Bantuan tidak selalu mampu mengganti apa yang hilang akibat bencana. Namun setiap bantuan membawa sebuah pesan sederhana: di tengah kesulitan itu, masih ada manusia lain yang peduli. Dan kepedulian sekecil apa pun selayaknya tidak dibalas dengan kemarahan, melainkan dihargai dengan rasa terima kasih.