Ketika Menghargai Diri Membuat Orang Lain Menjauh

Cara kita menempatkan diri sering kali memengaruhi bagaimana orang lain memperlakukan kita. Bukan berarti kita harus merasa lebih tinggi daripada orang lain, tetapi kita perlu memahami bahwa menghargai orang lain tidak seharusnya dilakukan dengan mengorbankan penghargaan terhadap diri sendiri.

Ada perbedaan besar antara rendah hati dan merendahkan diri.
Rendah hati adalah ketika kita menyadari bahwa kita tidak lebih tinggi dari siapa pun. Sementara merendahkan diri adalah ketika kita membiarkan kebutuhan, perasaan, prinsip, bahkan martabat kita sendiri selalu berada di bawah kepentingan orang lain.
Masalahnya, ketika seseorang terlalu terbiasa mengalah, selalu berkata iya, takut mengecewakan, dan terus berusaha menyenangkan semua orang, kebaikan itu perlahan dapat dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Pengorbanan dianggap kewajiban. Kesediaan membantu dianggap sebagai keharusan. Bahkan diamnya kita ketika diperlakukan tidak baik dapat disalahartikan sebagai izin untuk mengulanginya.
Inilah mengapa menjadi people pleaser tidak selalu membuat hubungan menjadi lebih baik. Kita mungkin berhasil membuat banyak orang senang, tetapi diam-diam kehilangan diri sendiri.
Padahal hubungan yang sehat seharusnya memiliki batas.
Kita berhak mengatakan tidak. Kita berhak tidak selalu tersedia. Kita berhak berbeda pendapat. Kita berhak menentukan bagaimana orang lain boleh memperlakukan kita. Dan kita berhak meninggalkan hubungan yang terus-menerus mengharuskan kita mengorbankan harga diri hanya agar tetap diterima.
Namun, memiliki standar bukan berarti menjadi angkuh. Memiliki prinsip bukan berarti merasa paling benar. Menghargai diri sendiri juga bukan alasan untuk meremehkan orang lain. Justru kedewasaan terletak pada kemampuan menjaga martabat diri tanpa merendahkan martabat orang lain.
Menariknya, ketika kita mulai membuat batasan, mungkin ada orang yang berubah.
Orang yang sebelumnya nyaman karena kita selalu mengalah mungkin mengatakan bahwa kita sekarang berbeda. Orang yang terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan mungkin menganggap kita egois. Bahkan ada yang memilih menjauh ketika mengetahui bahwa kita tidak lagi mudah dikendalikan.
Tidak semua kepergian seperti itu perlu disesali.
Sebab terkadang seseorang menjauh bukan karena kita menjadi buruk, tetapi karena kita tidak lagi memberikan kenyamanan yang dahulu mereka dapatkan dengan mengorbankan diri kita.
Meski demikian, kita juga perlu melakukan introspeksi. Jangan sampai kalimat “aku punya standar” menjadi pembenaran untuk menutup diri dari kritik. Ada perbedaan antara batasan yang sehat dengan tembok kesombongan. Orang yang menghargai dirinya tetap mampu mendengarkan, meminta maaf ketika salah, berkompromi, dan memperbaiki diri.
Harga diri bukan tentang memenangkan setiap pertengkaran atau memaksa orang lain mengikuti keinginan kita. Harga diri adalah keberanian berkata, “Aku menghargaimu, tetapi aku juga menghargai diriku sendiri.”
Pada akhirnya, kita memang tidak dapat mengendalikan bagaimana semua orang memandang kita. Namun kita dapat menentukan bagaimana kita menempatkan diri.
Jangan terlalu tinggi hingga merasa tidak membutuhkan siapa pun. Tetapi jangan pula terlalu rendah hingga siapa pun merasa berhak menginjak kita.
Berbuat baiklah tanpa kehilangan prinsip. Mengalahlah ketika memang diperlukan, tetapi jangan menjadikan mengalah sebagai kewajiban sepanjang hidup. Sayangi orang lain, tetapi jangan sampai dalam proses menyayangi mereka kita justru kehilangan rasa sayang kepada diri sendiri.
Dan jika seseorang memilih pergi hanya karena kita mulai menetapkan batas tentang bagaimana kita ingin diperlakukan, mungkin kepergiannya bukan sebuah kehilangan.
Sebab orang yang tepat tidak akan meminta kita kehilangan harga diri sebagai harga untuk mempertahankan dirinya.
 

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo

Contoh surat ralat