Kesepian Emosional dalam Pernikahan: Bersama, tetapi Merasa Sendiri
Kesepian yang paling menyakitkan mungkin bukan ketika kita benar-benar hidup sendiri. Kesepian yang lebih sulit dijelaskan adalah ketika setiap hari ada seseorang di samping kita, tetapi hati tetap merasa tidak mempunyai siapa-siapa.
Itulah kesepian emosional dalam pernikahan.
Suami masih pulang ke rumah. Istri masih menyiapkan kebutuhan keluarga. Keduanya masih tidur di kamar yang sama, menghadiri acara keluarga bersama, mengantar anak, membayar tagihan, bahkan sesekali pergi makan bersama.
Secara administratif mereka menikah. Secara fisik mereka bersama.
Tetapi secara emosional, jaraknya mungkin sudah sangat jauh.
Kesepian emosional tidak selalu muncul karena tidak ada cinta. Kadang cinta masih ada, tetapi hubungan kehilangan kehangatan. Perhatian berubah menjadi rutinitas. Percakapan berubah menjadi koordinasi. Pertanyaan yang dahulu berbunyi, “Kamu baik-baik saja?” berubah menjadi, “Besok anak siapa yang antar?”
Tidak ada yang salah dengan membicarakan kebutuhan rumah tangga. Masalahnya muncul ketika hanya itu yang tersisa.
Ketika Kita Berhenti Merasa Didengarkan
Manusia tidak hanya membutuhkan pasangan yang hadir secara fisik. Kita juga membutuhkan seseorang yang membuat kita merasa didengar, dipahami, dihargai, dan dianggap penting.
Bayangkan seseorang pulang membawa banyak persoalan. Ia ingin bercerita. Tetapi pasangannya sibuk dengan telepon genggam. Jawabannya hanya, “Hmm… iya… terus?”
Besok ia mencoba bercerita lagi. Responsnya sama.
Lusa kembali begitu.
Pada suatu titik, ia berhenti bercerita.
Pasangannya mungkin kemudian merasa semuanya baik-baik saja karena tidak ada lagi keluhan. Padahal yang terjadi justru sebaliknya: diam terkadang bukan tanda persoalan telah selesai. Diam bisa berarti seseorang sudah kehilangan harapan bahwa ceritanya akan didengarkan.
Inilah yang perlu diwaspadai.
Pertengkaran memang melelahkan, tetapi dalam kondisi tertentu pertengkaran menunjukkan bahwa seseorang masih peduli dan masih menginginkan perubahan. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika pasangan berkata dalam hatinya:
“Sudahlah. Percuma dibicarakan.”
Saat kalimat itu menjadi kebiasaan, jarak emosional mulai terbentuk.
Kesepian Tidak Selalu Berisik
Keretakan rumah tangga sering dibayangkan sebagai pertengkaran, bentakan, pintu dibanting, atau seseorang meninggalkan rumah.
Padahal ada rumah tangga yang retak dalam keheningan.
Tidak ada bentakan.
Tidak ada piring pecah.
Tidak ada perselingkuhan yang diketahui.
Tidak ada yang pergi.
Keduanya bahkan terlihat baik-baik saja di depan orang lain.
Tetapi mereka sudah jarang tertawa bersama. Tidak lagi memiliki cerita yang ingin dibagikan. Tidak tahu apa yang sedang ditakuti pasangannya. Tidak mengetahui apa yang sedang diperjuangkannya. Bahkan mungkin sudah tidak tahu apa yang membuat pasangannya bahagia.
Mereka tinggal bersama, tetapi menjalani kehidupan masing-masing.
Rumah akhirnya berubah seperti tempat persinggahan dua orang dewasa yang kebetulan mempunyai alamat sama.
Jangan Hanya Menuntut untuk Dipahami
Namun berbicara tentang kesepian emosional juga membutuhkan keberanian untuk bercermin.
Sangat mudah mengatakan:
“Pasanganku tidak pernah memahami aku.”
Pertanyaannya, apakah kita juga masih berusaha memahami pasangan?
Kita menuntut didengarkan, tetapi mungkin kita sendiri sibuk ketika pasangan bercerita.
Kita mengeluh tidak diperhatikan, tetapi mungkin sudah lama tidak menanyakan keadaannya dengan sungguh-sungguh.
Kita merasa pasangan tidak romantis lagi, tetapi kita sendiri mungkin sudah berhenti melakukan hal-hal kecil yang dahulu membuatnya merasa istimewa.
Kesepian emosional dalam pernikahan tidak selalu mempunyai satu pelaku dan satu korban. Kadang ia terbentuk perlahan karena dua orang sama-sama lelah, sama-sama sibuk, sama-sama menunggu diperhatikan, tetapi sama-sama berhenti mengambil langkah pertama.
Masing-masing menunggu.
Akhirnya tidak ada yang bergerak.
Bahaya Ketika Perhatian Datang dari Orang Lain
Pada kondisi seperti inilah muncul sebuah kerentanan yang sering diremehkan.
Ketika seseorang bertahun-tahun merasa tidak didengarkan di rumah, lalu suatu hari ada orang lain yang mau mendengarkan, perhatian sederhana bisa terasa luar biasa.
Bukan berarti kesepian membenarkan perselingkuhan. Tidak. Perselingkuhan tetap merupakan pilihan dan tanggung jawab orang yang melakukannya.
Namun kita perlu memahami bagaimana kedekatan emosional dapat berkembang.
Awalnya mungkin hanya teman bercerita.
Kemudian muncul perasaan nyaman.
Setelah itu mulai menunggu pesan.
Kemudian ada cerita yang justru disampaikan kepada orang tersebut tetapi tidak lagi kepada pasangan sendiri.
Tanpa disadari, ruang emosional yang seharusnya dibangun kembali bersama pasangan perlahan ditempati orang lain.
Karena itu, persoalan sebenarnya terkadang dimulai jauh sebelum perselingkuhan fisik terjadi. Ia bisa bermula ketika seseorang merasa lebih aman membuka hatinya kepada orang lain dibandingkan kepada orang yang tidur di sebelahnya setiap malam.
Sekali lagi, keadaan rumah tangga tidak menghapus tanggung jawab pribadi untuk menjaga batas. Tetapi keadaan tersebut seharusnya menjadi alarm bahwa hubungan membutuhkan perhatian serius.
Pernikahan Tidak Cukup Hanya Bertahan
Masyarakat sering mengagungkan lamanya pernikahan.
Sudah 20 tahun.
Sudah 30 tahun.
Sudah 40 tahun.
Tentu mempertahankan pernikahan selama itu bukan perkara sederhana. Namun usia pernikahan tidak selalu menggambarkan kualitas hubungan di dalamnya.
Ada pernikahan yang panjang karena cinta dan persahabatan terus dipelihara.
Ada pula yang panjang karena anak, ekonomi, tekanan keluarga, ketakutan terhadap stigma perceraian, atau sekadar karena keduanya sudah terbiasa menjalani kehidupan masing-masing.
Karena itu ukuran keberhasilan pernikahan seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Apakah kalian masih bersama?”
Ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
“Apakah kalian masih merasa ditemani?”
Sebab mempertahankan status jauh lebih mudah daripada mempertahankan kedekatan.
Jangan Menunggu Sampai Pasangan Berhenti Berharap
Kadang kita baru menyadari pentingnya seseorang ketika ia benar-benar pergi.
Padahal ada fase yang lebih awal dan sering tidak terlihat: ketika tubuhnya belum pergi, tetapi hatinya perlahan menarik diri.
Ia tidak lagi protes.
Tidak lagi cemburu.
Tidak lagi meminta ditemani.
Tidak lagi meminta didengarkan.
Bahkan tidak lagi marah ketika kita melupakan hal-hal yang dahulu dianggap penting.
Jangan terlalu cepat menganggap perubahan itu sebagai tanda bahwa pasangan semakin dewasa atau semakin pengertian.
Bisa jadi ia memang sedang belajar menerima.
Tetapi bisa pula ia sedang belajar hidup tanpa mengandalkan kehadiran emosional kita.
Dan ketika seseorang sudah terbiasa menghadapi kesedihan, kegembiraan, ketakutan, dan persoalannya sendirian, hubungan mungkin memasuki fase yang jauh lebih sulit diperbaiki.
Refleksi
Pernikahan bukan hanya tentang mempunyai seseorang yang pulang ke rumah setiap malam.
Pernikahan adalah tentang mempunyai seseorang yang kepadanya kita masih ingin pulang secara emosional.
Tempat kita bisa berkata, “Hari ini aku lelah,” tanpa takut diremehkan.
Tempat kita bisa mengakui ketakutan tanpa dianggap lemah.
Tempat kita bisa bercerita tentang kegembiraan kecil tanpa merasa cerita itu tidak penting.
Dan tempat kita mengetahui bahwa ketika hidup terasa berat, ada seseorang yang mungkin tidak mampu menyelesaikan masalah kita, tetapi bersedia duduk di samping kita dan berkata:
“Ceritakan. Aku mendengarkan.”
Karena pada akhirnya, kesepian dalam pernikahan bukan selalu tentang tidak adanya seseorang di sebelah kita.
Kesepian adalah ketika seseorang itu ada, tetapi kita tidak lagi merasakan kehadirannya.
Maka sebelum bertanya, “Mengapa pasangan saya semakin jauh?”, mungkin masing-masing perlu lebih dahulu bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah selama ini aku benar-benar hadir dalam hidupnya, atau aku hanya tinggal bersamanya?”
Sebab ada perbedaan besar antara hidup bersama seseorang dan menjalani kehidupan bersama seseorang.
Dan mungkin salah satu bentuk cinta yang paling sederhana sekaligus paling sulit dipertahankan dalam pernikahan adalah memastikan bahwa setelah bertahun-tahun hidup bersama, orang yang kita cintai tetap dapat berkata:
“Selama ada kamu, aku tidak merasa menghadapi hidup ini sendirian.”