Ketika Hasrat Mengalahkan Kesadaran
Miris.
Mungkin itu kata yang paling mudah terucap ketika melihat beredarnya video pelanggaran norma susila yang dilakukan di ruang kelas sebuah universitas. Ruang yang semestinya menjadi tempat mencari ilmu, berdiskusi, dan membangun masa depan, justru berubah menjadi panggung bagi perilaku yang mengabaikan batas kepantasan.
Sebagian orang bertanya, mengapa yang melihat tidak menegur, melainkan memilih merekam dan mengunggahnya ke media sosial? Pertanyaan itu juga penting. Sebab, di era digital, rasa ingin tahu dan keinginan mendapatkan perhatian sering kali lebih besar daripada dorongan untuk mencegah atau melindungi. Ada kecenderungan menjadikan setiap peristiwa sebagai konten, bahkan ketika peristiwa itu menyangkut kehormatan dan masa depan orang lain.
Namun pertanyaan yang tak kalah penting adalah, mengapa ruang kelas dipilih? Mengapa tidak di tempat yang lebih privat? Mungkin ada unsur pencarian sensasi, tantangan, atau dorongan adrenalin yang membuat sesuatu yang terlarang terasa lebih memikat. Dalam psikologi, perilaku seperti ini bukan hal yang sepenuhnya asing. Sebagian orang memang mencari kepuasan melalui risiko dan sensasi. Tetapi pencarian sensasi tanpa kendali pada akhirnya dapat mengalahkan akal sehat.
Ketika keinginan mendominasi, manusia bisa lupa banyak hal. Lupa bahwa kampus adalah ruang publik. Lupa bahwa siapa saja bisa lewat. Lupa bahwa ada etika yang harus dijaga. Lupa bahwa orang tua mengirim anak ke perguruan tinggi dengan harapan memperoleh ilmu dan masa depan yang lebih baik, bukan sekadar mengejar kesenangan sesaat. Bahkan yang lebih mendasar, lupa bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab moral kepada dirinya sendiri, kepada sesama, dan kepada Tuhan sesuai keyakinannya.
Namun, peristiwa seperti ini juga mengajak kita untuk tidak hanya sibuk menghakimi generasi muda. Generasi sekarang hidup di tengah budaya instan, banjir informasi, dan media sosial yang sering mengaburkan batas antara ruang privat dan ruang publik. Segala sesuatu dipertontonkan, dan perhatian menjadi komoditas yang mahal. Di tengah arus seperti itu, pendidikan karakter, keteladanan, dan penguatan nilai moral sering kali kalah oleh budaya viral dan sensasi.
Karena itu, yang dibutuhkan bukan sekadar kemarahan atau cemoohan. Yang lebih penting adalah refleksi bersama. Orang tua perlu lebih hadir, bukan hanya menyediakan biaya pendidikan. Kampus perlu memperkuat pembinaan karakter, bukan hanya mengejar prestasi akademik. Masyarakat juga perlu bijak dalam menggunakan media sosial, tidak ikut menyebarkan sesuatu yang justru memperpanjang dampak buruk bagi semua pihak.
Pada akhirnya, manusia memang memiliki hasrat. Itu adalah bagian dari fitrah. Tetapi peradaban dibangun bukan oleh manusia yang selalu menuruti hasratnya, melainkan oleh manusia yang mampu mengendalikan hasratnya. Sebab, kebebasan tanpa batas bukanlah tanda kemajuan, melainkan awal dari hilangnya kesadaran akan etika, tanggung jawab, dan martabat diri.
Dan mungkin, yang paling menyedihkan bukanlah ketika seseorang melakukan kesalahan. Yang paling menyedihkan adalah ketika sesaat demi memenuhi keinginan, ia melupakan siapa dirinya, untuk apa ia belajar, dan harapan besar yang dititipkan oleh orang-orang yang mencintainya.