Mencari Kost di Sekitar ITS: Ketika Informasi Digital Tidak Selalu Menjawab Kenyataan
Minggu lalu saya berkeliling mencari kos di sekitar ITS. Kebetulan anak ketiga diterima disini. Awalnya, seperti kebanyakan orang tua zaman sekarang, saya mengandalkan informasi dari kakak kelas, media sosial, dan aplikasi pencari kos. Namun pada akhirnya, survei langsung ke lapangan tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal.
Ada tiga kawasan yang menjadi sasaran: Keputih, Gebang, dan Mulyosari. Ternyata, yang ditemukan di lapangan tidak selalu sama dengan yang terlihat di internet. Banyak kos yang masih penuh, terutama kos putri. Mungkin karena masa wisuda belum berlangsung sehingga penghuni lama belum keluar. Ada beberapa kamar kosong, tetapi setelah dilihat langsung, anak merasa kurang cocok. Padahal menurut saya lokasinya sangat strategis, dekat kampus dan banyak tempat makan. Namun, ternyata memilih tempat tinggal bukan hanya soal jarak dan harga, tetapi juga soal kenyamanan dan "rasa cocok" yang sulit dijelaskan dengan angka.
Pengalaman ini menunjukkan bahwa mencari kos mirip mencari rumah kedua. Orang tua cenderung berpikir rasional: dekat kampus, aman, murah, fasilitas cukup. Sementara anak lebih memperhatikan suasana, kebersihan, pencahayaan, privasi, dan lingkungan sekitar. Tidak jarang, tempat yang menurut orang tua sudah ideal justru tidak membuat anak merasa nyaman.
Ada hal menarik yang saya amati. Di sekitar ITS, jumlah kos sangat banyak, tetapi informasi ketersediaannya belum sepenuhnya terintegrasi. Banyak pemilik kos yang belum memperbarui data secara rutin di aplikasi, sehingga calon penghuni tetap harus datang satu per satu. Banyak kost yang tidak memasukkan tempat kostnya di aplikasi. Akibatnya, proses pencarian menjadi melelahkan dan memakan waktu. Di era digital, ternyata keputusan akhir masih sering ditentukan oleh observasi langsung.
Pada malam hari, saya kembali membuka Mamikos dan menemukan beberapa pilihan. Sebagian pemilik meminta calon penghuni datang pada akhir Juni karena kamar belum kosong. Akhirnya, ada satu kos di daerah Manyar Kerta Adi yang kebetulan tinggal satu kamar. Setelah disurvei, anak merasa cocok. Barangkali inilah yang sering disebut rezeki. Bukan yang pertama dilihat, bukan pula yang paling dekat, tetapi yang paling sesuai dengan kebutuhan.
Pengalaman ini juga memberi pelajaran bahwa biaya kuliah bukan satu-satunya tantangan bagi orang tua. Ada biaya waktu, tenaga, dan emosi yang tidak pernah masuk dalam tabel pengeluaran. Kita rela berjalan dari satu gang ke gang lain, naik turun tangga, menunggu pemilik kos, hanya demi memastikan anak memiliki tempat tinggal yang nyaman selama menempuh pendidikan.
Dan mungkin, di sinilah letak perubahan peran orang tua. Bukan lagi menentukan segalanya, melainkan menjadi teman perjalanan yang membantu anak mengambil keputusan. Sebab pada akhirnya, yang akan tinggal bertahun-tahun di kamar itu bukan orang tuanya, melainkan anak itu sendiri. Maka, rasa nyaman menurutnya sering kali lebih penting daripada pertimbangan rasional menurut kita.
Ironisnya, di tengah kemajuan teknologi dan banyaknya aplikasi pencarian kos, keputusan akhir tetap ditentukan oleh sesuatu yang tidak bisa diwakili oleh foto atau rating: perasaan bahwa "di sinilah saya ingin pulang setelah seharian kuliah". Dan mungkin, itulah yang membuat survei langsung tidak akan pernah benar-benar tergantikan oleh dunia digital.