Ketika Identitas Berubah Menjadi Kebencian

Belakangan ini ramai di media sosial, sebuah ungkapan yang menyebut suku Jawa sebagai “hama”. Kalimat semacam itu bukan sekadar persoalan pilihan kata. Ia memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih serius: ketika identitas kesukuan digunakan untuk merendahkan manusia lain, kebencian telah mengambil alih akal sehat.

Pertanyaannya bukan hanya, kebencian apa yang membuat seseorang sampai menyebut kelompok manusia sebagai hama? Pertanyaan yang lebih penting adalah: mengapa identitas yang seharusnya menjadi bagian dari kekayaan kebudayaan justru dijadikan alasan untuk membenci?
Tidak ada seorang pun yang memilih dilahirkan dari rahim siapa, dari keluarga mana, atau dari suku apa. Tidak ada manusia yang ketika lahir kemudian berkata, “Saya ingin menjadi Jawa, Sunda, Aceh, Batak, Bugis, Madura, Dayak, Papua, atau suku lainnya.” Identitas itu hadir lebih dahulu daripada kesadaran kita untuk memilihnya.
Karena itu, menjadikan suku sebagai ukuran moral seseorang adalah kekeliruan mendasar.
Orang Jawa tidak otomatis baik hanya karena ia Jawa. Orang dari suku lain juga tidak otomatis buruk hanya karena ia berasal dari kelompok tertentu. Di dalam setiap suku ada manusia baik dan buruk, jujur dan curang, penyayang dan pendendam, rendah hati dan sombong. Suku tidak menentukan kualitas moral seseorang. Pilihan dan perilakunyalah yang menentukan.
Di sinilah kritik terhadap kebencian berbasis suku harus diletakkan.
Kita boleh mengkritik sejarah. Kita boleh memperdebatkan kebijakan. Kita boleh mempersoalkan ketimpangan, dominasi, ketidakadilan, bahkan perilaku kelompok tertentu. Tetapi kritik harus diarahkan kepada tindakan, kebijakan, struktur kekuasaan, atau individu yang bertanggung jawab, bukan digeneralisasi menjadi kebencian terhadap seluruh suku.
Sebab ketika kesalahan beberapa orang kemudian ditempelkan kepada jutaan manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan itu, kita tidak sedang memperjuangkan keadilan. Kita sedang menciptakan ketidakadilan baru.
Lebih mengkhawatirkan lagi ketika kebencian semacam itu dibungkus dengan identitas agama. Kita mungkin memiliki agama yang sama, kitab yang sama, tempat ibadah yang sama, bahkan menyebut Tuhan dengan nama yang sama. Tetapi jika kita mampu menyebut manusia lain sebagai “hama” hanya karena sukunya, kita patut bertanya kepada diri sendiri: apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kemanusiaan kita?
Bukan soal apakah Tuhan kita berbeda. Bisa jadi kita menyembah Tuhan yang sama, tetapi pemahaman dan cara kita memperlakukan sesama manusia justru sangat berbeda.
Agama seharusnya memperluas kemanusiaan, bukan mempersempitnya menjadi sekat-sekat identitas. Kesalehan tidak semestinya membuat seseorang merasa lebih tinggi karena suku, agama, daerah, atau kelompoknya. Sebaliknya, semakin seseorang memahami nilai kemanusiaan, semakin ia sadar bahwa perbedaan identitas bukan alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Kita juga perlu berhati-hati terhadap logika “mereka lebih dulu membenci”. Jika ada seseorang dari kelompok tertentu menghina suku kita, jawabannya bukan membalas dengan penghinaan kepada seluruh kelompok tersebut.
Kalau seseorang mengatakan “suku X adalah hama”, lalu kita membalas “suku X memang begini dan begitu”, kita sebenarnya hanya mengganti posisi pelaku kebencian. Kita tidak menyelesaikan persoalan. Kita hanya memperpanjang rantai kebencian.
Kebencian tidak menjadi benar hanya karena dibalas dengan kebencian.
Media sosial semakin memperumit keadaan. Satu kalimat provokatif dapat dipotong dari konteks, disebarkan, dikomentari ribuan orang, lalu berkembang menjadi generalisasi terhadap seluruh kelompok. Algoritma tidak selalu mempertemukan kita dengan kebenaran; sering kali ia mempertemukan kita dengan sesuatu yang membuat kita marah.
Akhirnya, seseorang tidak lagi melihat manusia sebagai individu. Ia melihatnya sebagai label.
“Dia Jawa.”
“Dia Aceh.”
“Dia Sunda.”
“Dia Batak.”
“Dia Papua.”
Dan setelah label itu ditempelkan, perilakunya seolah tidak lagi penting. Orang baik dicurigai karena identitasnya. Orang jujur dianggap memiliki agenda hanya karena berasal dari kelompok tertentu. Sebaliknya, kesalahan orang dari kelompok sendiri dengan mudah dimaafkan.
Di titik inilah identitas berubah menjadi tempurung.
Kita terlalu sibuk mempertahankan tempurung identitas sampai lupa bahwa dunia di luar tempurung jauh lebih luas. Kita begitu takut terhadap kelompok lain sampai lupa bahwa di balik setiap identitas terdapat manusia yang juga ingin dihormati, dicintai, bekerja, membesarkan keluarga, mencari penghidupan, dan menjalani hidup dengan tenang.
Indonesia dibangun bukan karena semua orang memiliki identitas yang sama. Indonesia justru lahir dari kenyataan bahwa kita berbeda.
Jawa bukan ancaman bagi Sunda. Aceh bukan ancaman bagi Jawa. Batak bukan ancaman bagi Minangkabau. Bugis bukan ancaman bagi Melayu. Papua bukan ancaman bagi siapa pun. Yang menjadi ancaman adalah ketika identitas digunakan untuk membangun kebencian dan membenarkan perlakuan tidak manusiawi.
Kita tentu tidak harus menyukai semua orang. Kita juga tidak wajib menyetujui semua perilaku kelompok lain. Tetapi ada batas moral yang tidak boleh dilampaui: perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan martabat manusia.
Pada akhirnya, persoalannya bukan siapa suku yang lebih unggul. Bukan pula siapa yang paling lama tinggal di suatu wilayah atau siapa yang merasa paling berhak atas suatu identitas.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: setelah kita menerima identitas yang tidak pernah kita pilih itu, manusia seperti apa yang ingin kita menjadi?
Sebab manusia tidak memilih di mana ia dilahirkan.
Tidak semua orang memilih darah yang mengalir dalam tubuhnya.
Tetapi manusia masih memiliki pilihan yang jauh lebih penting: bagaimana ia memperlakukan manusia lain.
Jangan sampai kita begitu sibuk membela suku sendiri sampai kehilangan kemampuan melihat kebaikan pada suku lain.
Jangan sampai kebencian kepada satu kelompok membuat kita menganggap semua orang dari kelompok tersebut bersalah.
Dan jangan sampai kita begitu takut kehilangan identitas sampai kehilangan sesuatu yang jauh lebih mendasar: kemanusiaan.
Sebab ketika seseorang sudah tidak mampu mempercayai orang baik hanya karena sukunya, sesungguhnya yang sedang rusak bukanlah suku orang lain.
Yang sedang rusak adalah cara kita memandang manusia.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo

Contoh surat ralat