Kesempurnaan yang Dipilih

Emas murni seratus persen hampir tidak pernah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan emas dengan kadar tertinggi pun tetap memiliki campuran tertentu agar lebih kuat dan bermanfaat. Demikian pula manusia. Tidak ada seorang pun yang benar-benar sempurna. Setiap orang membawa kelebihan sekaligus kekurangan, kekuatan sekaligus kelemahan.

Ironisnya, banyak hubungan justru retak karena pencarian akan sosok yang dianggap lebih sempurna. Di era media sosial, kehidupan orang lain tampak selalu lebih indah. Selalu ada pasangan yang terlihat lebih romantis, lebih mapan, lebih menarik, atau lebih perhatian. Padahal yang terlihat hanyalah permukaannya. Perbandingan tanpa henti membuat seseorang lupa menghargai apa yang telah dimilikinya.
Mungkin persoalannya bukan karena pasangan kita kurang sempurna, melainkan karena kita tidak pernah memutuskan untuk menjadikannya sempurna dalam pandangan kita. Kesempurnaan dalam hubungan bukanlah sifat bawaan seseorang, melainkan hasil dari sebuah pilihan. Ketika seseorang memilih menerima pasangannya secara utuh—kelebihan, kekurangan, masa lalu, dan proses bertumbuhnya—maka hatinya tidak lagi sibuk mencari pembanding.
Ini bukan berarti menutup mata terhadap kesalahan. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan kritik, komunikasi, dan perbaikan. Menjadikan pasangan sebagai "yang terbaik" bukan berarti menganggapnya tanpa cela, melainkan meyakini bahwa tidak ada orang lain yang lebih layak diperjuangkan daripada dirinya.
Banyak perselingkuhan tidak berawal dari kebencian kepada pasangan, tetapi dari kebiasaan membandingkan dan mengidealkan orang lain. Ketika hati dibiarkan selalu merasa ada pilihan yang lebih baik, maka tidak ada hubungan yang akan pernah cukup. Sebaliknya, ketika hati memutuskan, "Inilah orang yang akan aku perjuangkan," maka perhatian tidak lagi terpecah untuk mencari yang lain.
Dalam psikologi, kepuasan hubungan lebih banyak dipengaruhi oleh komitmen dan cara memandang pasangan daripada sekadar kesempurnaan objektif pasangan itu sendiri. Orang yang terus berorientasi pada alternatif cenderung lebih mudah merasa tidak puas, sedangkan mereka yang berkomitmen membangun hubungan justru lebih mampu melihat nilai dalam diri pasangannya.
Pada akhirnya, cinta yang dewasa bukanlah menemukan manusia yang sempurna. Cinta yang dewasa adalah berhenti mencari kesempurnaan pada orang lain, lalu bersama-sama bertumbuh menuju kehidupan yang lebih baik. Sebab, kesetiaan tidak lahir karena pasangan tidak memiliki kekurangan, tetapi karena hati telah memilih bahwa di antara jutaan manusia yang tidak sempurna, dialah yang akan selalu menjadi rumah.
Ketika hati telah penuh oleh pilihan itu, ruang untuk membandingkan, menginginkan, atau mencari pengganti semakin sempit. Bukan karena dunia berhenti menawarkan yang lain, tetapi karena kita telah memutuskan bahwa yang kita miliki adalah yang paling berharga untuk dijaga.


Ada kalimat sederhana yang merangkum ini yakni: "Pernikahan yang kokoh tidak dibangun oleh dua manusia yang sempurna, tetapi oleh dua orang yang berhenti mencari kesempurnaan pada orang lain dan memilih saling menyempurnakan."

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo

Contoh surat ralat