Apakah Kita Mencintai Pasangan, atau Mencintai Versi Idealnya?
Ada kalanya seseorang berkata, “Aku mencintaimu apa adanya.” Namun, dalam perjalanan hubungan, kalimat itu perlahan berubah menjadi, “Seharusnya kamu tidak seperti ini.” Di situlah sebuah pertanyaan layak diajukan: apakah kita benar-benar mencintai pasangan, atau sebenarnya hanya mencintai versi ideal tentang dirinya yang kita bangun di dalam kepala?
Kita sering jatuh cinta bukan hanya kepada seseorang, tetapi juga kepada bayangan tentang siapa yang kita harapkan dari orang tersebut. Ia mungkin memang perhatian, tetapi kita berharap ia selalu romantis. Ia pekerja keras, tetapi kita berharap ia segera kaya. Ia baik, tetapi kita berharap ia selalu memahami keinginan kita. Ia mencintai kita, tetapi kita menginginkan cara mencintai yang persis seperti yang kita bayangkan.
Masalahnya, manusia bukan karakter dalam cerita yang dapat ditulis sesuai keinginan pengarang.
Ketika kenyataan mulai memperlihatkan sisi yang berbeda, kekecewaan pun muncul. Kekurangan yang sebenarnya sudah ada sejak awal tiba-tiba dianggap sebagai perubahan. Pasangan yang dahulu disebut sederhana kemudian dianggap tidak ambisius. Yang dahulu dianggap tenang berubah menjadi membosankan. Yang dulu dinilai mandiri kemudian dianggap tidak perhatian.
Padahal mungkin bukan pasangan yang berubah. Ekspektasi kitalah yang semakin tinggi.
Cinta atau proyek perbaikan?
Ada hubungan yang tanpa sadar menjadikan pasangan sebagai sebuah proyek. Ia dicintai dengan syarat: harus berubah menjadi lebih sesuai dengan keinginan kita.
“Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kamu harus berubah.”
Kalimat semacam itu perlu direnungkan. Perubahan memang bagian dari hubungan. Kita semua perlu belajar menjadi pasangan yang lebih baik. Tetapi ada perbedaan antara mengajak seseorang bertumbuh dan memaksanya menjadi orang lain.
Mendorong pasangan meninggalkan kebiasaan buruk tentu berbeda dengan menuntutnya mengubah kepribadian agar sesuai dengan selera kita. Mengingatkan perilaku yang menyakiti berbeda dengan mengendalikan seluruh kehidupannya.
Cinta yang sehat tidak mengatakan, “Aku mencintaimu karena kamu sudah sesuai dengan keinginanku.”
Cinta yang lebih dewasa berkata, “Aku mengenal siapa dirimu, aku tahu kekuranganmu, dan aku tetap memilihmu. Tetapi kita sama-sama harus bertumbuh.”
Jangan mencintai berdasarkan brosur
Barangkali hubungan manusia bisa dianalogikan seperti membeli sebuah rumah.
Ketika melihat rumah dari luar, kita mungkin tertarik pada desainnya. Kita membayangkan halaman yang indah, ruang keluarga yang nyaman, dan suasana yang menyenangkan. Tetapi setelah tinggal di dalamnya, kita menemukan atap yang bocor, saluran air yang tersumbat, dinding yang harus dicat ulang.
Apakah rumah itu langsung tidak layak dihuni?
Tidak selalu.
Ada kerusakan yang memang harus diperbaiki. Tetapi ada pula bagian dari rumah yang memang merupakan karakter dasarnya. Tidak mungkin kita membeli rumah di tengah kota lalu kecewa karena tidak memiliki suasana seperti rumah di pegunungan.
Begitu pula pasangan.
Kita perlu membedakan kekurangan yang harus diperbaiki, perbedaan yang harus dinegosiasikan, dan karakter yang harus diterima.
Sebab salah satu sumber kekecewaan dalam hubungan adalah berharap seseorang menjadi sesuatu yang sejak awal memang bukan dirinya.
Tetapi menerima bukan berarti pasrah
Di sisi lain, gagasan “mencintai apa adanya” juga jangan dijadikan pembenaran untuk mempertahankan hubungan yang tidak sehat.
Menerima pasangan bukan berarti menerima kekerasan. Bukan berarti memaklumi kebohongan berulang. Bukan pula berarti membiarkan perselingkuhan, penghinaan, manipulasi, atau perilaku yang merusak hubungan.
Ada kekurangan yang manusiawi dan ada perilaku yang memang tidak layak ditoleransi.
Karena itu, cinta membutuhkan bukan hanya penerimaan, tetapi juga batas, keberanian, dan kejujuran.
Pasangan tidak harus sempurna. Tetapi hubungan tetap harus memiliki standar moral.
Ketika media sosial ikut membentuk pasangan ideal
Persoalan semakin rumit ketika standar pasangan ideal tidak lagi hanya dibentuk oleh pengalaman pribadi, tetapi juga oleh media sosial.
Kita setiap hari melihat pasangan yang tampak romantis, keluarga yang terlihat harmonis, suami yang selalu memberikan kejutan, istri yang selalu cantik dan tersenyum, rumah yang selalu rapi, liburan yang selalu menyenangkan.
Lalu kita melihat pasangan sendiri.
Ia pulang kerja dalam keadaan lelah. Tidak selalu romantis. Sesekali lupa memberi perhatian. Rumah tidak selalu rapi. Ada tagihan, pertengkaran, kesibukan, dan persoalan yang tidak pernah masuk kamera.
Kemudian kita membandingkan kehidupan nyata kita dengan potongan kehidupan orang lain.
Padahal kita tidak pernah tahu apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Ironisnya, seseorang bisa kehilangan kebahagiaan yang nyata karena mengejar kesempurnaan yang sebenarnya hanya tampak di layar.
Cinta yang dewasa dimulai ketika ilusi berakhir
Mungkin cinta pada awalnya memang membutuhkan sedikit ilusi. Kita melihat seseorang melalui kacamata ketertarikan. Kekurangannya tampak kecil, kelebihannya terlihat besar.
Namun, cinta yang dewasa justru dimulai ketika kacamata itu dilepas.
Kita mulai melihat pasangan sebagaimana adanya: manusia dengan kelebihan dan kekurangan, dengan masa lalu dan luka, dengan kebiasaan yang menyenangkan sekaligus menjengkelkan.
Dan setelah mengetahui semua itu, kita masih berkata:
“Aku memilihmu.”
Di situlah pilihan memiliki makna.
Sebab mencintai seseorang ketika ia sesuai dengan seluruh ekspektasi kita mungkin tidak terlalu sulit. Yang lebih sulit adalah tetap mencintai setelah kita mengetahui bahwa ia tidak seperti yang kita bayangkan.
Namun tetap ada satu pertanyaan penting: apakah pasangan juga memilih kita?
Sebab hubungan bukan pekerjaan satu orang. Jangan sampai kita sibuk belajar menerima pasangan, sementara pasangan terus-menerus memaksa kita menjadi versi ideal yang ia inginkan.
Pada akhirnya, siapa yang sebenarnya harus berubah?
Barangkali sebelum menuntut pasangan berubah, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah aku sedang kecewa kepada dirinya, atau kecewa karena dia tidak menjadi seperti yang ada dalam pikiranku?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa menyelamatkan sebuah hubungan.
Sebab manusia bukan barang yang kita pesan sesuai katalog. Tidak ada pasangan yang datang dalam keadaan sempurna. Bahkan orang yang paling kita cintai sekalipun akan memiliki sisi yang suatu hari mungkin membuat kita kecewa.
Maka, cinta bukan tentang menemukan manusia yang seluruh bagiannya sesuai dengan keinginan kita.
Cinta adalah mengenal manusia yang nyata setelah bayangan tentang manusia ideal itu runtuh, lalu memutuskan apakah ia tetap layak dicintai, diperjuangkan, dan diajak bertumbuh.
Sebab mungkin selama ini kita bukan kekurangan pasangan yang sempurna.
Kita hanya terlalu sibuk mencari versi ideal seseorang, sampai lupa mencintai manusia yang benar-benar ada di hadapan kita.