Merdeka Itu Juga Bernama Rasa Aman
Ada sebuah pertanyaan yang belakangan ramai beredar di media sosial: “Apakah Indonesia benar-benar sudah merdeka?” Pertanyaan itu tentu sah. Kemerdekaan bukan berarti semua persoalan selesai. Kemiskinan masih ada, ketimpangan masih terasa, korupsi belum sepenuhnya hilang, hukum kadang dipertanyakan, dan sebagian masyarakat masih berjuang mendapatkan kehidupan yang layak.
Tetapi dari pertanyaan kritis itu, jangan sampai kita melangkah terlalu jauh hingga muncul keengganan mengibarkan Merah Putih, seolah-olah kemerdekaan Indonesia tidak memiliki arti.
Cobalah kita berhenti sejenak dan membandingkannya dengan mereka yang sampai hari ini belum menikmati kemerdekaan dalam pengertian yang paling sederhana: rasa aman untuk hidup.
Lihat Palestina. Ada manusia yang tidur dengan suara ledakan, bangun dengan ketakutan, kehilangan rumah, kehilangan keluarga, dan tidak pernah benar-benar tahu apakah esok masih bisa melihat matahari. Anak-anak tumbuh bukan dengan kepastian akan masa depan, tetapi dengan suara sirene, dentuman bom, dan kecemasan.
Sementara kita?
Kita bisa bepergian dari Aceh sampai Papua. Kita bisa naik kendaraan melintasi pulau, mengunjungi kota lain, menikmati gunung, pantai, hutan, dan berbagai kebudayaan tanpa setiap saat dihantui kekhawatiran akan ditembak atau dibom.
Mungkin kita terlalu terbiasa dengan keadaan itu sehingga lupa bahwa rasa aman adalah kemewahan yang sering tidak kita sadari.
Kita boleh kecewa kepada pemerintah. Kita boleh mengkritik negara. Kita boleh mempertanyakan kebijakan, ketidakadilan, korupsi, kesenjangan, bahkan kualitas demokrasi. Justru negara yang merdeka seharusnya memberikan ruang bagi warganya untuk mengkritik.
Namun kritik terhadap keadaan hari ini tidak semestinya berubah menjadi penyangkalan terhadap sejarah.
Kemerdekaan Indonesia bukan hadiah. Ada orang-orang yang membayarnya dengan darah, kehilangan keluarga, kehilangan harta, dipenjara, dibuang, bahkan kehilangan nyawa. Mereka tidak pernah menikmati Indonesia seperti yang kita nikmati sekarang. Mereka berjuang agar generasi setelahnya dapat hidup lebih bebas.
Mungkin kita tidak bisa membalas pengorbanan mereka.
Tetapi setidaknya, jangan menganggap remeh hasil perjuangan itu.
Mengibarkan Merah Putih bukan berarti kita sedang mengatakan bahwa Indonesia sudah sempurna. Bendera itu justru bisa menjadi pengingat bahwa pekerjaan untuk mengisi kemerdekaan belum selesai.
Kemerdekaan bukan garis akhir.
Kemerdekaan adalah kesempatan.
Kesempatan untuk memperbaiki negara. Kesempatan untuk sekolah. Kesempatan untuk bekerja. Kesempatan untuk bepergian. Kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Kesempatan untuk berbeda tanpa harus saling membunuh. Dan yang sering kita lupakan: kesempatan untuk hidup tanpa terus-menerus takut kehilangan nyawa karena perang.
Karena itu, bagi generasi muda yang sejak lahir hingga dewasa hanya mengenal satu daerah, mungkin sesekali perlu keluar dari tempurung.
Jelajahilah Indonesia.
Pergilah ke Aceh, lihat bagaimana sejarah hidup berdampingan dengan masyarakatnya. Datang ke Jawa dan rasakan keragaman tradisinya. Menyeberang ke Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Temui orang-orang yang berbeda suku, bahasa, adat, makanan, dan kebiasaan.
Di sana kita mungkin akan menemukan satu hal penting: Indonesia ternyata jauh lebih besar daripada lingkungan tempat kita tumbuh.
Kita mungkin berbeda bahasa, tetapi bisa tertawa bersama. Berbeda adat, tetapi bisa duduk satu meja. Berbeda suku, tetapi tetap bisa saling membantu.
Itulah salah satu wajah kemerdekaan.
Jangan sampai karena terlalu sibuk menghitung kekurangan Indonesia, kita lupa menghitung nikmat yang selama ini kita terima.
Jangan pula karena negara belum sempurna, kita menganggap kemerdekaan tidak berarti.
Indonesia memang belum sempurna. Tetapi Indonesia merdeka.
Dan tugas kita bukan mempertanyakan apakah kemerdekaan itu ada setiap kali melihat persoalan, melainkan memastikan kemerdekaan yang diwariskan para pejuang itu tidak berhenti pada upacara dan pengibaran bendera.
Kita harus mengisinya dengan sesuatu yang lebih sulit: menjaga persatuan, menghormati perbedaan, melawan ketidakadilan, bekerja dengan jujur, dan memastikan generasi berikutnya hidup lebih baik daripada generasi kita.
Sebab pada akhirnya, mungkin kemerdekaan bukan hanya tentang siapa yang berkuasa atas sebuah wilayah.
Kemerdekaan juga tentang apakah seorang manusia bisa bangun pagi, keluar rumah, bepergian ke mana saja, memeluk keluarganya, dan pulang kembali tanpa dihantui ketakutan bahwa hidupnya akan berakhir oleh peluru atau ledakan.
Rasa aman yang kita anggap biasa hari ini, bisa jadi adalah kemerdekaan yang paling mahal yang pernah diperjuangkan oleh generasi sebelum kita.
Maka ketika Merah Putih berkibar, tidak perlu merasa bahwa kita sedang merayakan Indonesia yang sempurna.
Kita sedang menghormati mereka yang telah membuat kita bisa hidup relatif aman di negeri ini.
Dan mungkin, itu sudah cukup menjadi alasan untuk tetap berdiri tegak di bawah Merah Putih.
Selamat HUT Kemerdekaan RI 81.