Hidup Hanya Sekali, Jangan Habiskan untuk Membenci
Hidup kita di dunia hanya sekali. Waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Karena itu, bukankah lebih baik jika hidup digunakan untuk berbuat sebaik-baiknya, melakukan yang terbaik semampu kita, dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain?
Namun, di tengah kehidupan yang begitu singkat, masih ada manusia yang menghabiskan sebagian waktunya untuk membenci manusia lain hanya karena perbedaan suku, agama, ras, daerah, atau identitas.
Kita membenci sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kita pilih.
Tidak seorang pun memilih dilahirkan dari suku apa. Tidak seorang pun memilih lahir dari keluarga mana. Tidak semua orang memilih agama yang pertama kali dikenalnya. Bahkan tempat kelahiran pun bukan keputusan manusia. Semua itu merupakan keadaan yang kita terima ketika hadir ke dunia.
Lalu mengapa sesuatu yang tidak kita pilih justru dijadikan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Kita boleh bangga dengan suku kita. Kita boleh mencintai agama kita. Kita boleh menjaga tradisi dan budaya sendiri. Tetapi kebanggaan tidak seharusnya berubah menjadi penghinaan terhadap orang lain.
Mencintai identitas sendiri tidak membutuhkan kebencian terhadap identitas orang lain.
Begitu pula dengan agama.
Jika kita meyakini agama yang kita anut sebagai jalan kebenaran, maka tugas kita seharusnya bukan sibuk menghina pemeluk agama lain. Tugas kita adalah mempelajari agama kita dengan sungguh-sungguh, menjalankan ibadah dengan baik, memperbaiki akhlak, dan menjadi manusia yang membawa kebaikan.
Sebab ada ironi besar ketika seseorang begitu sibuk mengatakan bahwa dirinya berada di jalan yang benar, tetapi perilakunya justru penuh kebencian, penghinaan, fitnah, dan permusuhan.
Bukankah keyakinan seharusnya membuat kita semakin rendah hati?
Kita memang boleh yakin terhadap Tuhan yang kita sembah. Kita boleh meyakini agama yang kita anut. Bahkan keyakinan itu seharusnya menjadi pegangan hidup. Tetapi keyakinan kepada Tuhan tidak seharusnya membuat kita merasa memiliki kewenangan untuk memastikan siapa yang pasti masuk surga dan siapa yang pasti masuk neraka.
Urusan keselamatan akhirat bukan wilayah kesombongan manusia.
Kita beribadah karena kita meyakini Tuhan. Kita berbuat baik karena kita meyakini kebaikan memiliki nilai di hadapan-Nya. Kita memperbaiki diri karena kita sadar bahwa diri kita sendiri masih jauh dari sempurna.
Maka, daripada sibuk menghitung dosa orang lain, mungkin lebih baik kita menghitung kekurangan diri sendiri.
Daripada sibuk memastikan orang lain tidak layak masuk surga, mungkin lebih baik memastikan diri kita sendiri terus memperbaiki jalan menuju Tuhan.
Daripada sibuk mencari kesalahan agama, suku, atau ras lain, mungkin lebih baik bertanya: sudah seberapa baik saya menjalankan nilai-nilai kebaikan yang saya yakini?
Pertanyaan itu jauh lebih berat, tetapi juga jauh lebih bermanfaat.
Kita hidup bersama karena manusia memang tidak diciptakan untuk hidup sendirian. Tidak ada manusia yang sepenuhnya mandiri. Makanan yang kita makan, pakaian yang kita kenakan, rumah yang kita tinggali, jalan yang kita gunakan, ilmu yang kita pelajari, bahkan teknologi yang kita nikmati, semuanya merupakan hasil kerja banyak manusia dengan latar belakang yang berbeda-beda.
Kita mungkin berbeda suku.
Kita mungkin berbeda agama.
Kita mungkin berbeda ras.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, kita saling membutuhkan.
Dokter bisa berasal dari suku yang berbeda dengan pasiennya. Guru bisa berbeda agama dengan muridnya. Pedagang bisa berbeda ras dengan pembelinya. Tetangga bisa berbeda keyakinan dengan kita. Tetapi kehidupan tetap berjalan karena manusia mampu bekerja sama melampaui sekat-sekat identitas.
Ironisnya, ketika kehidupan nyata memperlihatkan bahwa perbedaan bukan hambatan untuk saling membantu, media sosial justru sering memperlihatkan manusia saling membenci hanya karena identitas.
Seseorang melakukan kesalahan, lalu seluruh sukunya disalahkan.
Seseorang melakukan kejahatan, lalu agamanya dihina.
Seseorang berperilaku buruk, lalu rasnya dijadikan bahan cercaan.
Ini bukan keadilan. Ini adalah generalisasi yang lahir dari kebencian.
Orang jahat tidak mewakili seluruh sukunya.
Orang bodoh tidak mewakili seluruh agamanya.
Orang baik juga tidak menjadi baik hanya karena sukunya atau agamanya.
Yang seharusnya dinilai adalah perbuatannya sebagai manusia.
Kita perlu berhenti mewariskan kebencian yang bahkan tidak kita ketahui asal-usulnya. Jangan sampai kita membenci seseorang hanya karena dia berasal dari kelompok yang sejak kecil diajarkan kepada kita sebagai “berbeda”.
Barangkali kita perlu bertanya: apakah kebencian itu benar-benar lahir dari pengalaman pribadi, atau hanya warisan cerita yang terus diulang dari satu generasi ke generasi berikutnya?
Sebab kebencian yang terus diwariskan akan menjadi prasangka. Prasangka yang terus dipelihara akan menjadi permusuhan. Dan permusuhan yang dibiarkan dapat berubah menjadi kekerasan.
Padahal hidup ini terlalu singkat untuk digunakan membenci sebanyak itu.
Kita mempunyai keluarga yang harus dicintai, pekerjaan yang harus diselesaikan, anak-anak yang harus dididik, tetangga yang harus dihormati, masyarakat yang harus dibangun, dan kehidupan yang harus dijalani.
Mengapa waktu yang sedikit itu harus dihabiskan untuk membenci manusia lain?
Jika kita benar-benar percaya kepada Tuhan, seharusnya keyakinan itu membuat kita lebih sibuk memperbaiki diri daripada menghakimi orang lain.
Kita tidak tahu kapan hidup kita berakhir.
Kita juga tidak tahu bagaimana akhir perjalanan kita.
Dan yang paling penting, kita tidak pernah bisa memastikan dengan kesombongan manusia bahwa diri kita pasti lebih baik di hadapan Tuhan daripada orang lain.
Karena itu, mari menjalani hidup dengan keyakinan yang kuat tetapi hati yang rendah.
Pelajarilah agama kita dengan baik. Jalankan ibadah dengan sungguh-sungguh. Pegang teguh keyakinan kita. Tetapi pada saat yang sama, hormati manusia lain sebagai sesama ciptaan Tuhan.
Tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi baik.
Tidak perlu membenci agama lain untuk mencintai agama sendiri.
Tidak perlu merendahkan suku lain untuk mencintai suku sendiri.
Tidak perlu menghina ras lain untuk merasa bangga dengan identitas sendiri.
Kebaikan tidak membutuhkan kebencian sebagai pembanding.
Pada akhirnya, kita semua hanya sedang menjalani satu kehidupan. Tidak ada kesempatan untuk mengulang hari yang telah berlalu.
Maka, kalau hidup hanya sekali, mengapa tidak kita gunakan untuk meninggalkan lebih banyak kebaikan daripada kebencian?
Kalau kita bisa memilih antara menjadi manusia yang membuat orang lain merasa dihargai atau manusia yang membuat orang lain merasa direndahkan, bukankah pilihan pertama jauh lebih layak?
Kita boleh berbeda dalam identitas.
Kita boleh berbeda dalam keyakinan.
Kita boleh berbeda dalam cara melihat dunia.
Tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita lupa bahwa di balik semua label itu, kita tetap manusia.
Barangkali yang paling penting bukan seberapa keras kita mengatakan bahwa kita adalah umat, suku, atau kelompok yang paling benar, tetapi seberapa nyata kebenaran itu membuat kita menjadi manusia yang lebih baik.
Sebab pada akhirnya, bukan kebencian kita kepada orang lain yang akan membuat hidup kita berarti.
Melainkan kebaikan yang kita tinggalkan ketika kita tidak lagi berada di dunia ini.