Semua Waktu Ada Masanya, Semua Masa Ada Waktunya

Semua waktu ada masanya, dan semua masa ada waktunya. Tidak ada sesuatu yang benar-benar abadi dalam kehidupan manusia. Ada saat kita berada di atas, ada saat kita harus berada di bawah. Ada masa ketika segala sesuatu berjalan sesuai harapan, tetapi ada pula masa ketika rencana yang sudah disusun dengan matang justru berantakan.

Begitulah kehidupan.
Kadang kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Kadang kita justru dipertemukan dengan sesuatu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Hari ini kita mungkin sedang menikmati keberhasilan, tetapi tidak ada jaminan bahwa esok kita tidak akan menghadapi kegagalan. Begitu pula sebaliknya, keterpurukan hari ini bukan berarti kehidupan akan selamanya berada di titik yang sama.
Karena itu, mungkin tidak ada alasan untuk terlalu sombong ketika berada di atas dan tidak perlu terlalu lama merasa rendah diri ketika berada di bawah.
Sebab semuanya hanya titipan.
Jabatan adalah titipan. Kekuasaan adalah titipan. Harta adalah titipan. Popularitas adalah titipan. Bahkan kesempatan untuk hidup dan menikmati waktu pun pada akhirnya adalah titipan dari Tuhan.
Yang sering menjadi persoalan adalah manusia kerap menganggap titipan sebagai kepemilikan mutlak. Ketika mendapatkan jabatan, seolah-olah jabatan itu miliknya selamanya. Ketika memiliki kekayaan, seolah-olah harta itu akan dibawa sampai akhir hayat. Ketika berada di posisi yang kuat, terkadang lupa bahwa posisi tersebut suatu saat akan ditinggalkan.
Padahal waktu terus berjalan tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun.
Orang yang hari ini dihormati bisa saja suatu hari dilupakan. Mereka yang hari ini berada di puncak bisa saja suatu ketika harus turun. Demikian pula orang yang hari ini diremehkan, bukan tidak mungkin suatu saat justru berada di tempat yang lebih tinggi.
Inilah salah satu pelajaran penting dari perjalanan hidup: jangan terlalu larut dalam keadaan yang sedang kita alami.
Ketika sedang mendapatkan keberhasilan, jangan merasa diri paling hebat. Ketika sedang mengalami kegagalan, jangan merasa diri paling malang. Keduanya hanyalah bagian dari perjalanan.
Dalam pandangan orang Jawa ada ungkapan “sak dermo nglampahi”—menjalani apa yang harus dijalani. Bukan berarti menyerah kepada keadaan atau berhenti berusaha. Justru sebaliknya, kita tetap berikhtiar sebaik mungkin, tetapi setelah usaha dilakukan, kita belajar menerima bahwa tidak semua hasil berada dalam kendali kita.
Di sinilah perbedaan antara pasrah dan menyerah.
Pasrah bukan berarti tidak berbuat apa-apa. Pasrah adalah menyadari batas kemampuan manusia setelah melakukan ikhtiar. Menyerah adalah berhenti berjuang karena merasa tidak ada gunanya lagi. Pasrah masih memiliki usaha, doa, dan harapan. Menyerah kehilangan semuanya.
Manusia memiliki kewajiban untuk berusaha, tetapi tidak memiliki kewenangan untuk menentukan seluruh hasilnya.
Kita boleh menyusun rencana, tetapi Tuhan yang menentukan jalannya. Kita boleh mengejar sesuatu dengan sungguh-sungguh, tetapi hasil akhirnya bisa berbeda dari yang kita bayangkan. Terkadang sesuatu yang kita anggap sebagai kegagalan justru menjadi jalan menuju sesuatu yang lebih baik. Sebaliknya, sesuatu yang kita anggap sebagai keberhasilan belum tentu membawa kebaikan dalam jangka panjang.
Karena itu, mungkin hidup bukan semata-mata tentang mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi tentang bagaimana kita menjalani setiap fase dengan sebaik-baiknya.
Saat berada di atas, gunakan kesempatan untuk membantu, bukan menindas.
Saat memiliki kekuasaan, gunakan untuk melayani, bukan memperkaya diri.
Saat memiliki ilmu, gunakan untuk menerangi, bukan merendahkan.
Saat memiliki harta, gunakan untuk berbagi, bukan sekadar menunjukkan bahwa kita lebih kaya.
Dan ketika berada di bawah, jangan kehilangan harga diri. Jangan menganggap kehidupan telah selesai hanya karena hari ini kita sedang berada dalam kesulitan.
Sebab tidak ada yang tahu kapan waktu akan berputar.
Yang perlu kita khawatirkan bukan apakah kita sedang berada di atas atau di bawah, tetapi apakah kita tetap menjadi manusia yang baik di mana pun Tuhan menempatkan kita.
Pada akhirnya, kehidupan adalah perjalanan dari satu waktu menuju waktu berikutnya. Kita datang tanpa membawa apa-apa dan pergi pun tidak membawa apa-apa. Di antara keduanya, kita hanya diberi kesempatan untuk menjalani, memilih, berusaha, mencintai, berbuat baik, dan meninggalkan sesuatu yang berarti.
Maka ketika sedang berada di atas, jangan lupa melihat ke bawah.
Ketika sedang berada di bawah, jangan berhenti melihat ke atas.
Karena semua waktu ada masanya, semua masa ada waktunya.
Kita hanya menjalani bagian kita—berusaha sebaik mungkin, berdoa sekuat hati, kemudian menerima apa yang telah ditetapkan Tuhan. Sak dermo nglampahi.
Refleksi utamanya sederhana: kita tidak pernah benar-benar memiliki waktu, keadaan, jabatan, maupun keberhasilan; kita hanya sedang diberi kesempatan untuk menjalaninya.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo

Contoh surat ralat