Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Tahun Baru dan Keberanian untuk Tidak Mengulang Kesalahan

 Tahun baru sering dirayakan dengan kembang api dan resolusi singkat, namun maknanya yang paling dalam justru terletak pada refleksi. Ia memberi jeda bagi kita untuk jujur pada diri sendiri: mengakui kekeliruan yang pernah dilakukan dan berjanji—bukan sekadar berharap—untuk tidak mengulanginya di masa depan. Refleksi bukan tentang menyalahkan masa lalu, melainkan bertanggung jawab atasnya. Kesalahan yang tidak direfleksikan akan kembali terulang dengan wajah yang sama, hanya dengan alasan yang berbeda. Karena itu, niat untuk berubah harus lebih dari sekadar kata-kata. Ia harus hadir dalam pilihan-pilihan kecil sehari-hari: cara kita bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang yang kita cintai. Di sisi lain, kebaikan yang pernah dilakukan tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan. Ia perlu ditingkatkan. Kebaikan yang dirawat akan menjadi karakter, bukan sekadar momen. Dalam relasi, kebaikan kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada janji besar yang jarang ditepati. Opini i...

Masihkah Layak Mengharapkan Kesetiaan Setelah Merusak Diri Sendiri?

 Pertanyaan ini terdengar kejam, tetapi jujur: apakah pria atau wanita yang dengan sadar merusak dirinya—melalui perselingkuhan, pengkhianatan, dan pengabaian komitmen—masih berhak mengharapkan pasangan yang baik dan setia? Secara moral, pertanyaan ini sering membuat orang tidak nyaman. Namun justru di situlah refleksi perlu dimulai. Secara prinsip, setiap manusia memang berhak atas kebaikan. Tetapi hak tidak selalu identik dengan kelayakan. Kesetiaan bukan hadiah gratis, melainkan hasil dari karakter, pilihan, dan tanggung jawab. Ketika seseorang dengan sengaja melanggar komitmen, ia sedang mengirim pesan tentang siapa dirinya dan bagaimana ia memperlakukan cinta. Luka yang ia tinggalkan bukan hanya pada pasangan, tetapi juga pada integritas dirinya sendiri. Ketidakwajaran muncul ketika seseorang mengkhianati, tetapi tetap menuntut pasangan yang setia, jujur, dan penuh pengertian. Ia menginginkan hasil yang tidak ia tanam. Ia berharap mendapatkan cinta yang utuh, padahal ia sendir...

Kejujuran, Integritas, dan Hilangnya Rasa Takut pada Tuhan

 Kepercayaan dalam hubungan tidak pernah dibangun dari janji manis atau perasaan semata. Ia lahir dari kejujuran yang konsisten—kejujuran dalam hal kecil maupun besar. Ketika kejujuran bukan lagi sekadar sikap, melainkan telah menjadi identitas, di situlah integritas terbentuk. Integritas membuat seseorang tetap lurus meski tidak diawasi, tetap setia meski memiliki banyak kesempatan untuk menyimpang. Masalah dimulai ketika kejujuran mulai dinegosiasikan. Kebohongan kecil dianggap wajar, rahasia disimpan atas nama “tidak ingin menyakiti”, dan pelanggaran diberi pembenaran situasional. Pada titik itu, integritas perlahan ditinggalkan. Bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena memilih yang mudah. Ketika integritas runtuh, sesungguhnya yang pertama kali dilupakan bukan pasangan, melainkan Tuhan. Rasa takut berbuat salah lenyap karena kesadaran bahwa ada Yang Maha Melihat sudah tidak lagi hidup di hati. Tanpa kesadaran spiritual, batas moral menjadi cair—semua bisa dinegosi...

Tidak Semua yang Hilang Perlu Direbut Kembali

 Ketika pasangan berselingkuh, dorongan paling manusiawi adalah berjuang merebutnya kembali—demi cinta, demi kenangan, demi anak-anak, atau demi rasa takut kehilangan. Namun ada kebenaran pahit yang jarang diucapkan: apa yang kembali setelah pengkhianatan tidak pernah sama seperti sebelumnya. Cinta yang direbut kembali sering datang dalam keadaan cacat. Ia dipenuhi kecurigaan, ingatan yang tidak bisa dihapus, dan luka yang muncul setiap kali keintiman dicoba ulang. Yang tersisa bukan rasa aman, melainkan kewaspadaan. Bukan ketenangan, melainkan usaha keras untuk meyakinkan diri bahwa segalanya baik-baik saja. Opini ini bukan ajakan untuk menyerah, melainkan ajakan untuk jujur. Ketika seseorang memilih pergi secara emosional dan fisik, ia telah membawa serta sebagian dari rasa yang dulu utuh. Merebutnya kembali hanya memulangkan tubuhnya, bukan kepercayaannya. Dan tanpa kepercayaan, hubungan berubah menjadi pengawasan, bukan kebersamaan. Sering kali, usaha “mempertahankan” justru me...

Mengecilkan Hati agar Cinta Tetap Setia

 Setelah menikah, cinta tidak lagi tentang seberapa luas hati mampu menampung banyak rasa, melainkan seberapa bijak hati dijaga agar tidak mudah diisi oleh yang lain. Ada kebijaksanaan dalam “mengecilkan hati”—bukan menjadi sempit dalam kasih, tetapi membatasi arah cinta agar tidak tercecer dan salah tempat. Ketika hati sudah penuh oleh pasangan, ruang untuk rasa lain seharusnya memang ditutup. Di era yang merayakan kebebasan emosi dan kedekatan tanpa batas, kesetiaan sering dianggap sebagai keterbatasan. Padahal, justru dengan membatasi diri, cinta menemukan kedalamannya. Hati yang terlalu luas sering kali tidak sadar menerima benih rasa dari luar, hingga tanpa disadari, cinta terbagi dan komitmen tergerus. Metafora burung camar mengajarkan kesetiaan yang sunyi namun kuat. Ia tidak mencari pasangan baru ketika terbang jauh; ia kembali pada satu muara yang sama. Kesetiaan seperti ini bukan karena kurang pilihan, melainkan karena kesadaran bahwa pulang pada yang satu adalah makna. O...

Cinta yang Luas dan Cinta yang Dalam

Cinta dalam relasi pasangan tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Ada cinta yang luas, mengalir ke banyak arah, mudah dibagi kepada banyak orang, dan tetap terasa cukup. Namun ada pula cinta yang tidak luas, tetapi dalam—seperti sungai kecil yang mengalir tenang namun memiliki kedalaman yang nyata. Seluruh alirannya tertuju pada satu pasangan, tanpa keinginan untuk berbagi, karena pembagian justru akan mengikis maknanya. Di tengah budaya yang sering menormalisasi kedekatan emosional dengan banyak pihak, cinta yang memilih setia secara eksklusif kerap dianggap berlebihan, posesif, atau tidak realistis. Padahal bagi sebagian orang, kesetiaan total bukan keterbatasan, melainkan karakter. Mereka mengenal kapasitas batin mereka sendiri. Mereka tahu bahwa cintanya tidak dirancang untuk terbagi, karena ketika terbagi, kedalaman itu berubah menjadi permukaan yang dangkal. Cinta yang dalam menuntut fokus dan tanggung jawab. Ia tidak mencari sensasi di luar, tidak tergoda oleh perhatian tambah...

Berbeda bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami

Ucapan Selamat Natal bagi penganutnya bukan sekadar formalitas, tetapi wujud kedewasaan sosial dan kematangan nurani. Di tengah masyarakat yang majemuk, damai tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling menghormati. Perbedaan keyakinan, budaya, dan cara beribadah adalah fakta kehidupan, bukan ancaman yang harus ditakuti atau ditonjolkan secara berlebihan. Sering kali, perbedaan justru “ditunjukkan” dengan nada curiga, merasa paling benar, atau menjaga jarak seolah toleransi bisa menggerus iman. Padahal, keyakinan yang kokoh tidak runtuh hanya karena menghargai orang lain. Menghormati perayaan agama lain bukan berarti ikut meyakini ajarannya, melainkan mengakui hak sesama manusia untuk merayakan imannya dengan damai. Natal, seperti hari besar keagamaan lainnya, membawa pesan universal tentang cinta kasih, pengharapan, dan perdamaian. Nilai-nilai ini sejatinya melintasi sekat agama. Ketika kita mengucapkan selamat dengan tulus, kita sedang menanam benih persaudara...

Ketika Mahkota Keintiman Ternoda

 Keintiman suami dan istri adalah wilayah paling sakral dalam sebuah pernikahan. Ia bukan sekadar hubungan fisik, melainkan ruang kepercayaan tertinggi—tempat tubuh, jiwa, dan martabat diserahkan sepenuhnya hanya kepada satu orang yang sah. Karena itulah, keintiman ibarat mahkota: dijaga, dihormati, dan tidak dipertontonkan pada siapa pun selain pasangan. Ketika mahkota itu diberikan kepada orang lain, yang rusak bukan hanya kesetiaan, tetapi makna terdalam dari kebersamaan. Pengkhianatan membuat tubuh pasangan tak lagi dipandang sebagai rumah, melainkan medan ingatan yang menyakitkan. Bukan karena jijik, melainkan karena luka batin yang terlalu dalam untuk diabaikan. Bagi yang dikhianati, sentuhan tidak lagi netral. Pelukan tidak lagi sederhana. Ada bayangan yang menyusup tanpa izin—bayangan bahwa keintiman yang dulu eksklusif kini telah dibagi. Pertanyaan pahit muncul bukan karena ingin membandingkan, tetapi karena harga diri telah tercabik: apakah aku masih satu-satunya? Di sini...

Ketika Topeng Agamis dan Kemapanan Menjadi Godaan dan Tantangan

Ada ironi yang jarang dibicarakan dengan jujur: ketika pria atau wanita tampil dengan outfit yang agamis, berwajah rupawan, berpenampilan santun, ditambah kemapanan materi, godaan justru menjadi lebih kuat. Bukan hanya bagi mereka yang masih jomblo, tetapi juga bagi yang sudah terikat pernikahan. Sosok seperti ini kerap dipersepsikan “aman”, “bernilai”, dan “layak didekati”. Di situlah jebakannya bermula. Penampilan agamis sering kali menciptakan ilusi moral. Seolah-olah kesalehan yang terlihat di luar menjamin kesucian niat di dalam. Padahal, manusia tetap manusia—punya nafsu, ambisi, dan keinginan untuk diakui. Ketika paras menarik bertemu simbol religius dan kemapanan, daya tariknya berlipat ganda. Ia bukan sekadar menggoda, tetapi menantang untuk ditaklukkan. Bagi sebagian orang, mendekati sosok seperti ini bukan lagi soal cinta, melainkan prestise emosional. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil “mendapatkan” seseorang yang terlihat religius, mapan, dan terhormat. Seolah-olah it...

Selamat Hari Ibu: Tentang Perempuan yang Sering Dilupakan Bebannya

 Selamat Hari Ibu, kepada perempuan yang dengannya seorang pria memperoleh status suami, dan darinya pula seorang pria dipanggil ayah atau bapak. Status yang tampak sederhana, tetapi lahir dari pengorbanan panjang yang tidak pernah ringan. Perempuan adalah satu-satunya manusia yang mengandung kehidupan di dalam tubuhnya, merasakan nyeri yang tidak bisa diwakilkan, dan menyusui dengan tubuhnya sendiri. Ia rela bentuk tubuhnya berubah, tidurnya terpotong, emosinya diuji, dan mimpinya ditunda—semata demi keluarga yang ia bangun bersama. Ironisnya, justru di tengah pengorbanan itulah perempuan sering kehilangan penghargaan. Ketika lelahnya dianggap biasa, ketika pengorbanannya dianggap kewajiban, dan ketika kehadirannya tidak lagi dipandang sebagai anugerah, sebagian pria mulai lupa. Lupa betapa berat beban seorang istri dan ibu. Lupa bahwa cinta yang tenang bukan berarti cinta yang mati. Di titik lupa itu, sebagian pria melirik perempuan lain. Mencari sensasi baru, perhatian segar, at...

Ketika Cinta Tak Pernah Kembali Utuh Setelah Pengkhianatan

Bagi pria atau wanita yang pernah diselingkuhi, hidup tidak pernah benar-benar kembali ke titik semula. Pengkhianatan bukan sekadar pelanggaran janji, tetapi perusakan terhadap rasa aman yang paling dasar. Setelah itu, yang tersisa hanyalah dua pilihan pahit: bertahan atau berpisah—keduanya sama-sama menyakitkan. Berpisah sering dipilih bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena cinta itu sendiri telah berubah bentuk. Ia tidak lagi utuh. Setiap kedekatan memunculkan bayangan orang lain. Setiap sentuhan mengingatkan bahwa tubuh yang sama pernah menjadi ruang bagi pengkhianatan. Ada rasa jijik, mual, dan penolakan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Tubuh menolak, meski hati masih mencoba memahami. Bagi mereka yang memilih bertahan, keputusan itu jarang lahir dari keikhlasan penuh. Lebih sering karena anak-anak, tanggung jawab, atau ketakutan akan kehancuran yang lebih besar. Mereka berusaha memaafkan, mencoba membangun ulang, bahkan meyakinkan diri bahwa waktu akan menyembuhka...

Ketika Pengakuan Lebih Mahal dari Kesetiaan

Perselingkuhan sering kali tidak lahir dari kebencian terhadap pasangan, melainkan dari kehampaan yang dibiarkan tumbuh dalam diam. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna—keluarga utuh, ekonomi stabil, dan citra harmonis di media sosial—bisa tersembunyi jiwa yang lapar akan pengakuan. Bukan pengakuan besar, melainkan hal-hal sederhana: pujian, perhatian, dan rasa diinginkan. Rutinitas pernikahan yang stabil kerap disalahartikan sebagai kebosanan. Kesetiaan yang konsisten dianggap datar. Cinta yang bekerja dalam bentuk tanggung jawab dan kehadiran sehari-hari terasa kalah menarik dibanding gombalan instan yang penuh sensasi. Di titik inilah seseorang bisa keliru membedakan antara api sejati dan kembang api—yang satu menghangatkan dalam diam, yang lain memukau sesaat lalu lenyap. Perselingkuhan menjadi candu karena ia memberi validasi cepat. Ia membuat seseorang merasa kembali “hidup”, “diinginkan”, dan “spesial”. Padahal, yang sebenarnya dicari bukanlah orang lain, melainkan perasaa...

Rasa yang Pernah Dicicipi, Godaan yang Terulang

Ketika seorang pria atau wanita pernah merasakan “rasa lain” di luar suami atau istrinya sendiri, sering kali batas itu tidak berhenti pada satu kejadian. Rasa yang awalnya disebut khilaf berubah menjadi penasaran. Penasaran yang semula kecil berkembang menjadi keinginan untuk mengulang. Dari sinilah lingkaran itu dimulai. Manusia pada dasarnya makhluk pencari sensasi. Sesuatu yang baru, terlarang, dan berbeda memicu adrenalin. Hubungan di luar pernikahan sering kali bukan tentang cinta, melainkan tentang sensasi: degup jantung yang lebih cepat, rasa diinginkan kembali, dan ilusi bahwa diri ini masih istimewa. Ketika sensasi itu pernah dirasakan, otak menyimpannya sebagai pengalaman yang “menyenangkan”, meski dibungkus rasa bersalah. Lama-kelamaan, yang dicari bukan lagi orangnya, tetapi tantangannya. Menaklukkan. Membuktikan bahwa diri masih menarik. Bahwa masih bisa membuat orang lain jatuh. Di titik ini, pasangan sah sering kali hanya menjadi latar, bukan lagi pusat perhatian emos...

Ketika agama adalah abstrak, amal menjadi bukti nyata

Agama pada hakikatnya bersifat abstrak. Ia hidup dalam keyakinan, tertanam di hati, dan diyakini sebagai kebenaran oleh pemeluknya. Karena itu, wajar jika setiap orang beragama bersikap fanatik dalam arti meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar. Keyakinan ini bukan untuk diperdebatkan atau diseragamkan, melainkan untuk dipegang teguh sebagai dasar iman. Tidak perlu mengatakan semua agama benar, karena iman justru menuntut kepastian, bukan keraguan. Namun, ketika agama berhenti hanya sebagai konsep dan slogan, ia kehilangan maknanya. Agama yang hanya ada di mulut, tanpa jejak dalam perilaku, akan menjadi hampa. Di sinilah amal mengambil peran penting sebagai wujud nyata dari keyakinan yang abstrak. Amal adalah bahasa yang bisa dibaca oleh siapa pun, lintas keyakinan dan latar belakang. Ia menjadi bukti bahwa sujud kepada Tuhan tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam kejujuran, kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Agama tidak seharusnya dicampuradukkan secara...

Stasiun Cianjur

Gambar
  Stasiun Cianjur memiliki potensi besar sebagai simpul transportasi alternatif yang strategis. Kehadirannya membuka pilihan perjalanan dari Cianjur ke Jakarta melalui Sukabumi, maupun ke Bandung melalui Cipatat. Meski jaraknya masih terasa jauh dan waktu tempuh belum seefisien jalur darat tertentu, keberadaan jalur kereta ini sudah menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi atau bus. Saat ini, jumlah perjalanan kereta yang masih terbatas—baru tiga kali perjalanan—dengan nama "kereta Siliwangi", menjadi tantangan tersendiri. Namun justru di situlah harapan muncul. Jika ke depan frekuensi perjalanan ditambah dan konektivitas diperbaiki, Stasiun Cianjur dapat berkembang menjadi tulang punggung mobilitas warga, baik untuk kebutuhan kerja, pendidikan, maupun wisata. Lebih dari sekadar angkutan penumpang, jalur kereta ini juga berpotensi besar sebagai jalur distribusi barang. Biaya yang relatif lebih murah, kapasitas angkut yang besar, ...

Alun-alun Cianjur

Gambar
  Alun-Alun Cianjur adalah contoh ruang publik yang berhasil menjadi oase di tengah kota. Letaknya yang tidak berada di jalan utama membuat suasananya terasa lebih teduh dan nyaman, jauh dari hiruk pikuk kendaraan besar yang biasanya identik dengan pusat kota. Justru karena “tersembunyi”, tempat ini memberi pengalaman berbeda: tenang saat ingin duduk santai, namun tetap hidup ketika ramai pengunjung. Begitu masuk akan disambut asmaul husna yang menjadi hiasan jalan menyusuri Alun-alun melalui jalan di tengah Alun-Alun.  Menariknya, meski lokasinya tidak di jalur utama, Alun-Alun Cianjur selalu ramai. Kehadiran berbagai mainan anak membuat tempat ini ramah keluarga, sementara banyaknya spot foto menjadikannya magnet bagi anak muda dan pengunjung yang gemar mengabadikan momen. Ini menunjukkan bahwa ruang publik tidak harus megah atau berada di pusat lalu lintas untuk menjadi favorit warga. Kedekatannya dengan Pendopo Cianjur dan Masjid Agung Cianjur juga menambah nilai strateg...

Ketika Selingkuh Dianggap Nyata, Tapi Dosa dan Kebohongan Dianggap Abstrak

Selingkuh itu nyata. Ada pertemuan, ada pesan tersembunyi, ada sentuhan, ada waktu yang dicuri. Tidak seperti dosa atau kebohongan yang sifatnya abstrak, perselingkuhan memiliki bentuk fisik yang jelas. Ia bisa dilihat, bisa ditangkap, bisa dibuktikan. Namun ironisnya, banyak orang berani melakukannya justru karena fondasi yang melandasinya—dosa dan kebohongan—dipandang sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tidak terasa, dan bisa “diatur” belakangan. Ketika seseorang menganggap dosa hanya sebagai konsep, bukan konsekuensi, ia berhenti merasa takut. Ketika kebohongan dianggap ringan, ia tidak canggung lagi menyusun alasan. Dan ketika dua hal itu dibiarkan, perselingkuhan pun menjadi tindakan yang “masuk akal” bagi mereka yang sedang kehilangan kendali dirinya. Padahal selingkuh bukan hanya persoalan tubuh atau waktu, tetapi pengkhianatan terhadap kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Perselingkuhan memerlukan dua hal yang sama-sama merusak: kebohongan yang dirawat dan moral yang dire...

Ketika Kebohongan Terasa Abstrak, Tapi Dampaknya Sangat Nyata

Kebohongan, sama seperti dosa, adalah sesuatu yang abstrak. Tidak ada bentuk fisik, tidak ada warna, tidak ada jalan setapak yang menunjuk bahwa seseorang sedang berbohong. Mungkin karena sifatnya yang tak berwujud itulah manusia sering merasa mudah melakukannya. Tinggal mengubah sedikit kata, menyembunyikan sebagian fakta, atau menambah bumbu pada cerita—selesai. Namun menariknya, meski kebohongan itu abstrak, reaksi tubuh terhadapnya sangat nyata . Hampir semua orang pernah merasakan deg-degan ketika berbohong: napas menjadi pendek, tangan sedikit berkeringat, suara tidak stabil, pikiran panik jika ketahuan. Bahkan setelah kebohongan terucap, muncul ketegangan baru: bagaimana menjaga agar kebohongan itu tidak terbongkar? Satu kebohongan sering memerlukan kebohongan lain untuk menutupi yang pertama. Lama-lama seseorang bukan hanya menipu orang lain, tetapi juga membohongi dirinya sendiri . Ia mulai hidup dalam cerita yang ia ciptakan sendiri, bukan realita. Yang ironis adalah: seb...

Ketika dosa adalah abstrak dan tidak terasa

 Dosa, dalam banyak tradisi moral dan agama, sering digambarkan sebagai sesuatu yang abstrak. Ia tidak memiliki bentuk, tidak berwujud, tidak bisa disentuh—hanya diyakini melalui ajaran dan konsekuensi yang dijanjikan. Ketika sesuatu bersifat abstrak, manusia cenderung meremehkannya. Inilah celah psikologis yang membuat sebagian orang merasa aman untuk berbuat salah. Bagi sebagian orang, dosa tidak lebih dari konsep teoretis: tidak ada suara yang langsung menegur, tidak ada cahaya merah yang berkedip, tidak ada tangan yang menahan ketika mereka ingin melenceng. Mereka berpikir, “Toh nanti bisa tobat. Neraka juga belum tentu nyata. Selama di dunia tidak ketahuan, semuanya aman.” Maka lahirlah perilaku yang penuh kepura-puraan—memakai pakaian kesalehan di depan publik, sementara di balik layar melakukan sesuatu yang berlawanan sepenuhnya. Padahal akar masalahnya bukan pada “dosa” itu sendiri, tetapi pada cara manusia memandang konsekuensi. Hukuman akhirat dianggap jauh, tidak terliha...

Ketika Indonesia adalah Keluarga

Ketika kita menyebut diri sebagai bangsa Indonesia, itu bukan sekadar identitas di KTP. Itu adalah ikatan keluarga. Dan dalam keluarga, ketika ada yang tertimpa bencana—di Sumbar, Sumut, Aceh, atau di mana pun—kita tidak menanyakan apa agamanya, apa sukunya, atau dari kelompok mana dia berasal. Kita hanya tahu satu hal: itu saudara kita, dan tugas kita adalah membantu. Musibah tidak memilih korban. Karena itu, bantuan pun tidak boleh memilih penerima. Kemanusiaan harus lebih cepat bergerak daripada prasangka, dan empati harus lebih besar daripada sekat-sekat sosial yang sering kita ciptakan sendiri. Bantulah sebisanya, semampunya, dari tenaga, harta, hingga doa. Tidak ada yang terlalu kecil jika dilakukan dengan ketulusan. Di saat seperti ini, pemerintah memiliki mandat moral dan konstitusional untuk menggerakkan seluruh jalur yang dimiliki—logistik, kesehatan, keamanan, dan anggaran—untuk memastikan bahwa setiap korban mendapatkan pertolongan tanpa diskriminasi. Negara harus hadir sec...

Banjir Besar dan Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh

Banjir besar yang melanda Sumbar, Sumut, dan Aceh bukan semata musibah alam. Ini adalah cermin besar yang memantulkan luka lama bangsa: pembalakan liar, lemahnya pengawasan, dan rantai kepentingan yang tak kunjung putus. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, bukit dibuka tanpa etika, dan sungai dipersempit oleh kerakusan, maka air hanya tinggal menagih haknya untuk mengalir bebas — dan sering kali menabrak kehidupan manusia. Ilegal logging bukan isu baru. Sejak awal 2000-an dunia sudah berteriak, satgas sudah dibentuk sejak 2005, regulasi diperketat, dan kampanye digalakkan. Namun selama uang dapat membeli pengaruh, selama ada yang menutup mata demi keuntungan sesaat, pemberantasan kerusakan hutan tetap menjadi pekerjaan yang luas dan rumit. Kita tahu akar masalahnya, tetapi akar itu justru dipelihara oleh banyak tangan. Jika kerusakan ini tidak ditangani dengan ketegasan dan transparansi, bencana yang lebih besar hanya tinggal menunggu waktu. Hutan yang hilang tidak akan kembali dala...