Ketika Indonesia adalah Keluarga

Ketika kita menyebut diri sebagai bangsa Indonesia, itu bukan sekadar identitas di KTP. Itu adalah ikatan keluarga. Dan dalam keluarga, ketika ada yang tertimpa bencana—di Sumbar, Sumut, Aceh, atau di mana pun—kita tidak menanyakan apa agamanya, apa sukunya, atau dari kelompok mana dia berasal. Kita hanya tahu satu hal: itu saudara kita, dan tugas kita adalah membantu.

Musibah tidak memilih korban. Karena itu, bantuan pun tidak boleh memilih penerima. Kemanusiaan harus lebih cepat bergerak daripada prasangka, dan empati harus lebih besar daripada sekat-sekat sosial yang sering kita ciptakan sendiri. Bantulah sebisanya, semampunya, dari tenaga, harta, hingga doa. Tidak ada yang terlalu kecil jika dilakukan dengan ketulusan.

Di saat seperti ini, pemerintah memiliki mandat moral dan konstitusional untuk menggerakkan seluruh jalur yang dimiliki—logistik, kesehatan, keamanan, dan anggaran—untuk memastikan bahwa setiap korban mendapatkan pertolongan tanpa diskriminasi. Negara harus hadir secepat mungkin, setegas mungkin, dan sebesar mungkin.

Indonesia hanya bisa kuat jika kita saling menopang. Dan tidak ada ikatan yang lebih mulia daripada persaudaraan yang lahir dari kemanusiaan.

Masyarakat pun, bergerak lebih cepat dan lebih tanggap melalui berbagai jalur, membantu tanpa memandang perbedaan. 

kita adalah Indonesia

Indonesia adalah keluarga

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo