Berbeda bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami

Ucapan Selamat Natal bagi penganutnya bukan sekadar formalitas, tetapi wujud kedewasaan sosial dan kematangan nurani. Di tengah masyarakat yang majemuk, damai tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling menghormati. Perbedaan keyakinan, budaya, dan cara beribadah adalah fakta kehidupan, bukan ancaman yang harus ditakuti atau ditonjolkan secara berlebihan.

Sering kali, perbedaan justru “ditunjukkan” dengan nada curiga, merasa paling benar, atau menjaga jarak seolah toleransi bisa menggerus iman. Padahal, keyakinan yang kokoh tidak runtuh hanya karena menghargai orang lain. Menghormati perayaan agama lain bukan berarti ikut meyakini ajarannya, melainkan mengakui hak sesama manusia untuk merayakan imannya dengan damai.

Natal, seperti hari besar keagamaan lainnya, membawa pesan universal tentang cinta kasih, pengharapan, dan perdamaian. Nilai-nilai ini sejatinya melintasi sekat agama. Ketika kita mengucapkan selamat dengan tulus, kita sedang menanam benih persaudaraan dan menegaskan bahwa kemanusiaan lebih luas daripada sekat identitas.

Damai tidak perlu diteriakkan dengan slogan besar. Ia hadir dalam sikap sederhana: tidak mencibir, tidak menghakimi, tidak merasa terancam oleh perbedaan. Damai tumbuh ketika kita memilih menghargai, bukan membandingkan; memahami, bukan menyerang.

Selamat Natal bagi yang merayakan. Semoga damai selalu hadir, bukan hanya di hari raya, tetapi dalam cara kita memandang dan memperlakukan sesama—hari ini dan seterusnya. Salam damai.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo