Ketika Pengakuan Lebih Mahal dari Kesetiaan
Perselingkuhan sering kali tidak lahir dari kebencian terhadap pasangan, melainkan dari kehampaan yang dibiarkan tumbuh dalam diam. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna—keluarga utuh, ekonomi stabil, dan citra harmonis di media sosial—bisa tersembunyi jiwa yang lapar akan pengakuan. Bukan pengakuan besar, melainkan hal-hal sederhana: pujian, perhatian, dan rasa diinginkan.
Rutinitas pernikahan yang stabil kerap disalahartikan sebagai kebosanan. Kesetiaan yang konsisten dianggap datar. Cinta yang bekerja dalam bentuk tanggung jawab dan kehadiran sehari-hari terasa kalah menarik dibanding gombalan instan yang penuh sensasi. Di titik inilah seseorang bisa keliru membedakan antara api sejati dan kembang api—yang satu menghangatkan dalam diam, yang lain memukau sesaat lalu lenyap.
Perselingkuhan menjadi candu karena ia memberi validasi cepat. Ia membuat seseorang merasa kembali “hidup”, “diinginkan”, dan “spesial”. Padahal, yang sebenarnya dicari bukanlah orang lain, melainkan perasaan tentang diri sendiri yang hilang. Ketika harga diri rapuh, pujian dari luar terasa seperti obat, meski racun.
Ironisnya, pengakuan yang dikejar itu sering datang dari orang yang tidak menanggung konsekuensi apa pun. Sementara pasangan sah—yang setia, hadir, dan membangun hidup nyata—justru menjadi pihak yang paling dilukai. Yang hancur bukan hanya kepercayaan, tetapi makna dari seluruh pengorbanan yang pernah diberikan.
Kesalahan terbesar bukan sekadar perselingkuhan, melainkan kegagalan berkomunikasi. Ketika kebutuhan tidak diucapkan, ketika kehampaan dipendam, dan ketika validasi dicari di luar, kehancuran hanya soal waktu. Dan saat semuanya terbongkar, penyesalan datang terlambat—menyisakan kehampaan yang jauh lebih besar dari rasa kosong yang dulu ingin diisi.
Pada akhirnya, pengakuan sejati tidak datang dari pujian orang lain, melainkan dari kemampuan menghargai diri sendiri dan pasangan yang setia. Sebab kesetiaan mungkin tidak selalu terdengar manis, tetapi ia adalah bentuk cinta paling mahal—yang sering baru disadari nilainya setelah semuanya hancur.