Ketika Selingkuh Dianggap Nyata, Tapi Dosa dan Kebohongan Dianggap Abstrak

Selingkuh itu nyata. Ada pertemuan, ada pesan tersembunyi, ada sentuhan, ada waktu yang dicuri. Tidak seperti dosa atau kebohongan yang sifatnya abstrak, perselingkuhan memiliki bentuk fisik yang jelas. Ia bisa dilihat, bisa ditangkap, bisa dibuktikan. Namun ironisnya, banyak orang berani melakukannya justru karena fondasi yang melandasinya—dosa dan kebohongan—dipandang sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tidak terasa, dan bisa “diatur” belakangan.


Ketika seseorang menganggap dosa hanya sebagai konsep, bukan konsekuensi, ia berhenti merasa takut.

Ketika kebohongan dianggap ringan, ia tidak canggung lagi menyusun alasan.

Dan ketika dua hal itu dibiarkan, perselingkuhan pun menjadi tindakan yang “masuk akal” bagi mereka yang sedang kehilangan kendali dirinya.


Padahal selingkuh bukan hanya persoalan tubuh atau waktu, tetapi pengkhianatan terhadap kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Perselingkuhan memerlukan dua hal yang sama-sama merusak: kebohongan yang dirawat dan moral yang diredupkan. Orang yang selingkuh sebenarnya sadar apa yang ia lakukan salah—dan justru itu yang membuatnya semakin rajin berbohong.


Yang pria merasa bisa “main aman”.

Yang wanita merasa “tidak ada yang tahu”.

Padahal setiap perselingkuhan selalu meninggalkan jejak, bukan hanya digital, tetapi juga emosional.


Yang paling mengerikan adalah bagaimana seseorang bisa hidup dengan dua wajah:

– satu wajah untuk pasangannya yang setia,

– satu wajah untuk hubungan rahasianya yang gelap.


Dan semua itu dipupuk oleh keyakinan bahwa

“dosa itu abstrak, kebohongan itu bisa ditutupi, yang penting tidak ketahuan.”


Padahal kenyataannya:

• Selingkuh menghancurkan keluarga.

• Selingkuh merusak anak-anak.

• Selingkuh meninggalkan trauma jangka panjang.

• Selingkuh merusak harga diri pelakunya sendiri.

Semua itu sangat nyata.


Selingkuh adalah tindakan nyata yang lahir dari alasan-alasan yang tidak nyata.

Seseorang memilih selingkuh bukan karena cinta hadir dua kali, tetapi karena ia menipu dirinya sendiri bahwa tidak akan ada konsekuensi. Bahwa rasa bersalah bisa diabaikan. Bahwa kejujuran tidak penting. Bahwa pasangannya tidak akan tahu.


Tetapi hidup tidak berjalan selamanya dalam gelap.

Kebenaran selalu menemukan jalannya.

Dan ketika itu terjadi, yang abstrak—dosa dan kebohongan—tiba-tiba berubah menjadi nyata, lebih nyata daripada yang pernah dibayangkan.


Karena selingkuh selalu dimulai dari ilusi, dan berakhir dengan kerusakan yang sangat nyata.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo