Banjir Besar dan Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh
Banjir besar yang melanda Sumbar, Sumut, dan Aceh bukan semata musibah alam. Ini adalah cermin besar yang memantulkan luka lama bangsa: pembalakan liar, lemahnya pengawasan, dan rantai kepentingan yang tak kunjung putus. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, bukit dibuka tanpa etika, dan sungai dipersempit oleh kerakusan, maka air hanya tinggal menagih haknya untuk mengalir bebas — dan sering kali menabrak kehidupan manusia.
Ilegal logging bukan isu baru. Sejak awal 2000-an dunia sudah berteriak, satgas sudah dibentuk sejak 2005, regulasi diperketat, dan kampanye digalakkan. Namun selama uang dapat membeli pengaruh, selama ada yang menutup mata demi keuntungan sesaat, pemberantasan kerusakan hutan tetap menjadi pekerjaan yang luas dan rumit. Kita tahu akar masalahnya, tetapi akar itu justru dipelihara oleh banyak tangan.
Jika kerusakan ini tidak ditangani dengan ketegasan dan transparansi, bencana yang lebih besar hanya tinggal menunggu waktu. Hutan yang hilang tidak akan kembali dalam semalam, tetapi kehendak politik yang kuat bisa mengubah arah kerusakan ini sebelum terlambat.
Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas musibah yang menimpa masyarakat di Sumbar, Sumut, dan Aceh. Semoga banjir segera surut, pemulihan berjalan cepat, dan yang lebih penting — semoga ini menjadi alarm terakhir agar kita benar-benar menjaga hutan, bukan sekadar membicarakannya.