Selamat Hari Ibu: Tentang Perempuan yang Sering Dilupakan Bebannya

 Selamat Hari Ibu, kepada perempuan yang dengannya seorang pria memperoleh status suami, dan darinya pula seorang pria dipanggil ayah atau bapak. Status yang tampak sederhana, tetapi lahir dari pengorbanan panjang yang tidak pernah ringan.

Perempuan adalah satu-satunya manusia yang mengandung kehidupan di dalam tubuhnya, merasakan nyeri yang tidak bisa diwakilkan, dan menyusui dengan tubuhnya sendiri. Ia rela bentuk tubuhnya berubah, tidurnya terpotong, emosinya diuji, dan mimpinya ditunda—semata demi keluarga yang ia bangun bersama.

Ironisnya, justru di tengah pengorbanan itulah perempuan sering kehilangan penghargaan. Ketika lelahnya dianggap biasa, ketika pengorbanannya dianggap kewajiban, dan ketika kehadirannya tidak lagi dipandang sebagai anugerah, sebagian pria mulai lupa. Lupa betapa berat beban seorang istri dan ibu. Lupa bahwa cinta yang tenang bukan berarti cinta yang mati.

Di titik lupa itu, sebagian pria melirik perempuan lain. Mencari sensasi baru, perhatian segar, atau pengakuan yang terasa lebih ringan. Mereka lupa bahwa perempuan yang setia di rumah tidak pernah berhenti berjuang—hanya saja perjuangannya tidak dipamerkan, tidak digombalkan, dan tidak diberi panggung.

Opini ini bukan sekadar pujian bagi ibu, melainkan kritik bagi sistem relasi yang kerap meromantisasi kesetiaan perempuan namun memberi toleransi pada pengkhianatan pria. Kesalahan terbesar bukan hanya perselingkuhan, tetapi kegagalan melihat dan menghargai pengorbanan yang sudah diberikan sepenuh tubuh dan jiwa.

Selamat Hari Ibu. Semoga perempuan tidak hanya dihormati dalam ucapan, tetapi dijaga dalam kesetiaan. Karena di balik setiap rumah yang berdiri, ada perempuan yang diam-diam mengorbankan dirinya—dan pengorbanan itu layak dibalas dengan hormat, bukan pengkhianatan.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo