Ketika agama adalah abstrak, amal menjadi bukti nyata

Agama pada hakikatnya bersifat abstrak. Ia hidup dalam keyakinan, tertanam di hati, dan diyakini sebagai kebenaran oleh pemeluknya. Karena itu, wajar jika setiap orang beragama bersikap fanatik dalam arti meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar. Keyakinan ini bukan untuk diperdebatkan atau diseragamkan, melainkan untuk dipegang teguh sebagai dasar iman. Tidak perlu mengatakan semua agama benar, karena iman justru menuntut kepastian, bukan keraguan.

Namun, ketika agama berhenti hanya sebagai konsep dan slogan, ia kehilangan maknanya. Agama yang hanya ada di mulut, tanpa jejak dalam perilaku, akan menjadi hampa. Di sinilah amal mengambil peran penting sebagai wujud nyata dari keyakinan yang abstrak. Amal adalah bahasa yang bisa dibaca oleh siapa pun, lintas keyakinan dan latar belakang. Ia menjadi bukti bahwa sujud kepada Tuhan tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam kejujuran, kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab sosial.

Agama tidak seharusnya dicampuradukkan secara dangkal dalam amal, apalagi dijadikan alat pembenaran atau simbol kosong. Amal yang sejati lahir dari keyakinan yang tulus, bukan dari kebutuhan untuk dipuji atau diakui. Ketika seseorang beragama dengan benar, amalnya akan berbicara tanpa perlu banyak klaim.

Pada akhirnya, iman yang kokoh tidak diukur dari seberapa keras seseorang mengucapkan keyakinannya, melainkan seberapa konsisten ia menerjemahkannya dalam tindakan. Agama boleh abstrak, tetapi amal harus nyata. Di sanalah keimanan menemukan bentuknya yang paling jujur.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo