Tahun Baru dan Keberanian untuk Tidak Mengulang Kesalahan
Tahun baru sering dirayakan dengan kembang api dan resolusi singkat, namun maknanya yang paling dalam justru terletak pada refleksi. Ia memberi jeda bagi kita untuk jujur pada diri sendiri: mengakui kekeliruan yang pernah dilakukan dan berjanji—bukan sekadar berharap—untuk tidak mengulanginya di masa depan. Refleksi bukan tentang menyalahkan masa lalu, melainkan bertanggung jawab atasnya.
Kesalahan yang tidak direfleksikan akan kembali terulang dengan wajah yang sama, hanya dengan alasan yang berbeda. Karena itu, niat untuk berubah harus lebih dari sekadar kata-kata. Ia harus hadir dalam pilihan-pilihan kecil sehari-hari: cara kita bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang yang kita cintai.
Di sisi lain, kebaikan yang pernah dilakukan tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan. Ia perlu ditingkatkan. Kebaikan yang dirawat akan menjadi karakter, bukan sekadar momen. Dalam relasi, kebaikan kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada janji besar yang jarang ditepati.
Opini ini juga mengkritik kebiasaan manusia yang sering menunda penghargaan. Kita kerap sibuk mencari yang jauh, lupa merawat yang dekat. Cinta yang ada di sisi kita dianggap selalu tersedia, hingga suatu hari ia pergi atau rusak, barulah kita sadar nilainya. Padahal cinta tidak mati karena kurang rasa, melainkan karena kurang dirawat.
Tahun baru seharusnya menjadi pengingat: terimalah kekurangan pasangan tanpa menjadikannya alasan untuk melukai, dan apresiasi setiap kebaikan tanpa merasa itu adalah kewajiban semata. Karena mencintai bukan soal menemukan yang sempurna, melainkan setia merawat yang nyata.
Jika tahun baru membawa satu pelajaran penting, maka itu adalah keberanian untuk menjaga apa yang sudah kita miliki—sebelum penyesalan datang sebagai kalender yang terlambat dibuka.