Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Tiji tibeh, tiji tibo

Dalam rumah tangga, kejujuran bukan pelengkap—itu syarat sah moral di hadapan Allah. Ketika suami menikah siri tanpa izin istri pertama, hanya beralasan “sudah proses berpisah” pada calon yang akan menjadi istri barunya, itu bukan kelonggaran tetapi kelicikan. Dan ketika perempuan kedua menerima tanpa memeriksa kebenaran statusnya, itu bukan ketidaktahuan tetapi kelalaian. Kelalaian yang harus dibayar mahal.  Maka tak heran, ketika istri pertama akhirnya memilih prinsip “tiji tibeh, tiji tibo”—satu jatuh, yang lain ikut roboh—itu bukan karena ia cemburu atau emosional. Itu karena kehormatannya dicurangi, haknya diinjak, dan akad baru dibangun di atas dusta. Dan ketika ia akhirnya melaporkan suami serta istri kedua ke polisi, banyak yang menuduhnya berlebihan. Padahal itu bukan balas dendam, tetapi perlindungan diri. Dalam hukum negara, memalsukan status menikah adalah pelanggaran. Dalam syariat, poligami tanpa keadilan adalah kedzaliman. Dalam akhlak, dusta adalah pintu kehancuran....

Ketika Ilmu Agama Tidak Menjamin Akhlak

Ada hal-hal dalam hidup yang sulit dinalar, sekalipun kita berusaha mencarinya dengan sabar. Salah satunya adalah ketika seseorang yang tampak agamis—lulusan pesantren, paham aturan syariat, dan tampil dengan simbol-simbol keislaman—justru memilih berselingkuh dan meninggalkan anak-anaknya. Bahkan ada yang rela pergi ketika di rumah masih ada bayi yang membutuhkan ASI. Pada titik seperti ini, agama tidak lagi tampak sebagai cahaya yang menuntun, melainkan hanya menjadi atribut identitas yang dipakai untuk tampil baik di mata publik. Kita sering lupa bahwa pemahaman agama tidak selalu sejalan dengan kualitas akhlak . Ilmu bisa diajarkan, hafalan bisa dilatih, penampilan bisa dibuat sedemikian rupa agar tampak saleh. Namun akhlak bukan sekadar apa yang diketahui seseorang, melainkan apa yang ia lakukan ketika tidak ada yang melihat. Sering kali akhlak justru teruji ketika godaan datang dalam bentuk yang paling menggoda dan paling personal. Maka ketika seseorang yang seharusnya memaham...

Saat Tiba Waktunya Mengakhiri Perjalanan Panjang

Tidak ada keputusan besar yang lahir dalam semalam, apalagi keputusan mengakhiri perjalanan kerja yang telah ditempuh selama 28 tahun. Selama hampir tiga dekade itu, saya tumbuh bersama kemenkeu, menyaksikan perubahan demi perubahan, mengenal begitu banyak orang baik, dan belajar lebih dari yang pernah saya bayangkan. Karena itu, langkah untuk mengajukan pendi bukanlah keputusan yang ringan. Pertama kali dinas ke Manokwari tahun 1997 sampai tahun 2000, sekitar 3 tahun disana Kedua ke Kota Bogor, tahun 2001 s. d. 2006, hampir 6 tahun.  Ketiga Pekanbaru, tahun 2006 s. d. 2007, hanya setahun.  Keempat Jakarta, Jakarta 1, tahun 2007 s. d 2011, hampir 4 tahun Kelima Jakarta, Pusat, tahun 2011 s. d. 2014 hampir 4 tahun Ke-enam Bogor, periode kedua, tahun 2014 s. d. 2025, hampir 11 tahun.  Banyak pelajaran yang diambil, belajar banyak di DJPb.  Pendi ini sudah melalui berbagai pertimbangan.  Saya sudah menimbang dari berbagai sisi—fisik, mental, keluarga, hingga masa ...

Selingkuh Itu Bukan Karena Cinta Datang Lagi—Tapi Karena Iman dan Kejujuran Pergi Lebih Dulu

Fenomena selingkuh hari ini makin sering kita dengar, seolah menjadi hal biasa. Padahal jika hati jujur, semua orang tahu: tidak ada yang “biasa” dari menghancurkan kepercayaan orang yang mencintai kita. Secara agama, pintu keluarnya jelas: Jika sudah tidak cocok, tidak cinta, tidak sanggup hidup bersama, Allah membuka jalan perpisahan secara baik-baik . Halal, meski dibenci, tapi tetap jalan yang jujur. Namun apa yang terjadi hari ini? Banyak laki-laki ingin poligami, tapi takut jujur. Banyak perempuan ingin merasakan cinta lain, tapi takut melepaskan kenyamanan yang sudah ada. Semua mau menambah , tapi tidak mau menyelesaikan yang lama . Akhirnya dipilihlah selingkuh—jalan yang paling mudah, paling cepat, dan paling manipulatif. Laki-laki berbohong: “Mantan istri saya sudah tidak ada rasa.” “Saya ini duda, rumah tangga sudah selesai.” “Dia hanya ibu dari anak-anak saya.” Perempuan juga kadang terjebak oleh rayuan: “Kasihan dia, istrinya tidak perhatian.” “Dia bilang se...

Mengapa Banyak Perempuan Baik, Gampang Diperdaya Pria yang Mengaku Duda dan Kaya?

Fenomena ini bukan soal kelemahan perempuan, tetapi soal kerentanan emosional yang sering kali dimanfaatkan oleh laki-laki yang tidak beretiket dan tidak bermoral. Banyak perempuan yang sudah pernah menikah atau pernah disakiti memiliki kebutuhan mendalam untuk menemukan hubungan yang lebih aman, dewasa, dan stabil. Ketika datang seorang laki-laki yang mengaku “sudah pisah dengan istri”, “hanya tinggal menunggu proses”, atau “hidupnya sudah tidak bahagia”, maka itu terdengar seperti peluang baru untuk membangun hidup yang lebih baik. Sayangnya, beberapa pria memanfaatkan celah ini. Celah yang paling mudah untuk masuk ke dalam sebuah hubungan.  Pertama, perempuan yang pernah berumah tangga biasanya punya harapan bahwa pasangan berikutnya lebih matang dan tidak membuat kesalahan yang sama. Ketika seorang pria tampil sebagai “duda”, mereka terlihat dewasa, realistis, dan penuh tanggung jawab—meski belum tentu benar. Kedua, kesepian adalah ruang kosong yang mudah dimasuki tipu daya. Se...

Ketika Seorang Ibu Lupa Menjadi Ibu

Ada sesuatu yang sangat tragis ketika seorang ibu—yang memiliki anak balita, bahkan masih membutuhkan ASI—memilih meninggalkan rumah demi selingkuhan. Ini bukan sekadar perselingkuhan biasa; ini adalah sebuah tindakan yang memutus ikatan paling dasar antara ibu dan anak: ikatan darah, batin, dan tanggung jawab moral. Yang paling menyedihkan adalah ketika seorang ibu yang seharusnya berada pada fase kedewasaan, justru kembali berpikir dan bertindak seperti remaja yang baru pertama kali dimabuk cinta. Ia lupa bahwa hidupnya bukan lagi hanya tentang “aku dan dia”, melainkan tentang “kita”—ia, suami, dan terutama anak-anaknya yang masih belum mengerti dunia. 1. Dimabuk cinta, lupa realitas Perasaan jatuh cinta—terutama yang bersifat terlarang—bisa memunculkan euforia yang menipu. Dalam kondisi ini, seseorang bisa lupa diri, lupa kewajiban, lupa siapa yang sedang menunggu di rumah. Bagi sebagian orang, sensasinya seperti remaja yang merasa hidupnya baru dimulai. Namun ketika itu terjadi...

Jangan Pernah Meminta Istri yang Pergi untuk Kembali

Ketika seorang istri memilih pergi, terutama karena hatinya telah berpindah, maka meminta dia kembali hampir selalu berakhir pada luka baru. Upaya pencegahan tentu harus dilakukan—komunikasi, perbaikan diri, perbaikan hubungan, atau bahkan meminta bantuan pihak ketiga. Namun jika semua usaha sudah dilakukan dan tetap tidak ada perubahan, maka memaksanya kembali hanya akan menciptakan rumah tangga yang rapuh dan penuh kepura-puraan. Seorang istri yang sudah tidak hatinya di rumah tidak akan bisa dipaksa bahagia. Ia mungkin kembali secara fisik, tetapi jiwanya tetap berada di tempat lain. Dan hidup bersama seseorang yang raganya ada namun hatinya tidak pulang lebih menyakitkan daripada perpisahan itu sendiri. Maka pada titik tertentu, melepaskan justru menjadi bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan ketenangan anak-anak. Karena kebahagiaan tidak pernah ditemukan melalui paksaan, dan rumah tangga tidak bisa berdiri di atas hati yang tidak lagi berada di sana.

Mengapa Orang Selingkuh?

Selingkuh bukan sekadar “khilaf”. Ia lahir dari rasa tidak pernah cukup —perasaan kosong yang selalu mencari yang lebih baru, lebih menarik, lebih menggairahkan. Orang yang selingkuh pada dasarnya tidak pernah mencintai pasangannya dengan penuh. Ada bagian dalam dirinya yang selalu terbuka untuk kemungkinan lain, seolah cinta bisa diganti seperti aplikasi yang mudah di- uninstall . Perselingkuhan juga bukan tindakan spontan. Ia membutuhkan niat, waktu, bahkan strategi. Ada effort besar di balik setiap chat yang dihapus, setiap pesan disembunyikan, setiap kebohongan yang disusun agar tampak meyakinkan. Itu bukan keteledoran—itu keputusan sadar untuk menipu seseorang yang mempercayai mereka. Dan yang paling berbahaya dari semua itu adalah sensasinya. Sekali seseorang merasakan adrenalin dari hubungan gelap—merasa dibutuhkan, diinginkan, dikejar—sensasi itu membuat mereka ingin mengulang lagi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, mungkin dengan orang yang berbeda. Lambat laun, rasa be...

Poliandri Terselubung, Nikah ziri status sah istri orang dan Status Zina

Di Indonesia, poliandri—seorang perempuan memiliki lebih dari satu suami—secara hukum dan agama jelas dilarang. Namun, praktik ini kadang muncul dalam bentuk yang tidak terungkap secara langsung, disamarkan oleh istilah menikah siri atau hubungan yang dianggap sah menurut sebagian pihak, tetapi sebenarnya bertentangan dengan hukum positif maupun hukum agama. Ketika seorang perempuan masih berstatus istri sah dalam catatan negara dan agama, lalu ia “menikah siri” dengan laki-laki lain, perbuatan itu tidak menghasilkan hubungan pernikahan yang diakui. Dalam perspektif hukum Indonesia, khususnya UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan KUHP, tindakan itu bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi dapat dikategorikan sebagai perselingkuhan atau zina . Mengapa demikian? Pertama, perkawinan hanyalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama masing-masing dan dicatat oleh negara . Jika salah satu unsur hilang—misalnya masih terikat pernikahan sah dengan orang lain—maka akad baru y...

Dampak Perselingkuhan – Luka yang Tak Pernah Kembali Seperti Sedia Kala

Baru-baru ini ada sebuah berita yang menghebohkan dunia per tik tok an, tentang perselingkuhan, selama ini yang umum terdengar adalah laki-laki atau suami yang berselingkuh lalu meninggalkan anak dan istrinya. Namun berita yang lagi ramai belakangan ini adalah Perempuan atau istri yang berselingkuh dan meninggalkan anak-anak dan suaminya. Apalagi anaknya masih balita dan ada yang masih membutuhkan Air Susu ibunya. Yang akan di bahas bukan mengenai wanita ini, namun perselingkuhan. Apapun alasannya tidak dibenarkan dalam norma agama, kesusilaan dan sosial. Dampak buruk setelah perselingkuhan sangatlah besar baik buat suami/istri maupun anak-anak.  Perselingkuhan bukan hanya soal pengkhianatan; ini adalah retakan dalam fondasi kepercayaan yang paling mendasar dalam hubungan. Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar “kesalahan” dalam rumah tangga. Ia mengubah cara seseorang memandang pasangan, memandang cinta, dan memandang dirinya sendiri. 1. Dampak bagi Pasangan: Perpisahan Lebih...