Mengapa Orang Selingkuh?
Selingkuh bukan sekadar “khilaf”. Ia lahir dari rasa tidak pernah cukup—perasaan kosong yang selalu mencari yang lebih baru, lebih menarik, lebih menggairahkan. Orang yang selingkuh pada dasarnya tidak pernah mencintai pasangannya dengan penuh. Ada bagian dalam dirinya yang selalu terbuka untuk kemungkinan lain, seolah cinta bisa diganti seperti aplikasi yang mudah di-uninstall.
Perselingkuhan juga bukan tindakan spontan. Ia membutuhkan niat, waktu, bahkan strategi. Ada effort besar di balik setiap chat yang dihapus, setiap pesan disembunyikan, setiap kebohongan yang disusun agar tampak meyakinkan. Itu bukan keteledoran—itu keputusan sadar untuk menipu seseorang yang mempercayai mereka.
Dan yang paling berbahaya dari semua itu adalah sensasinya. Sekali seseorang merasakan adrenalin dari hubungan gelap—merasa dibutuhkan, diinginkan, dikejar—sensasi itu membuat mereka ingin mengulang lagi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, mungkin dengan orang yang berbeda. Lambat laun, rasa bersalah pun memudar. Yang tadinya dianggap dosa, berubah jadi kebiasaan.
Selingkuh, pada akhirnya, bukan soal kurangnya perhatian dari pasangan. Bukan soal kesempatan yang kebetulan datang. Selingkuh adalah karakter: sebuah pilihan sadar untuk mengkhianati kepercayaan dan merusak hubungan demi kesenangan sesaat.
Dan orang dengan karakter seperti itu? Sulit berubah, karena yang mereka kejar bukan cinta—tapi pembenaran terhadap kekosongan diri yang tidak pernah mereka berani hadapi.