Ketika Seorang Ibu Lupa Menjadi Ibu
Ada sesuatu yang sangat tragis ketika seorang ibu—yang memiliki anak balita, bahkan masih membutuhkan ASI—memilih meninggalkan rumah demi selingkuhan. Ini bukan sekadar perselingkuhan biasa; ini adalah sebuah tindakan yang memutus ikatan paling dasar antara ibu dan anak: ikatan darah, batin, dan tanggung jawab moral.
Yang paling menyedihkan adalah ketika seorang ibu yang seharusnya berada pada fase kedewasaan, justru kembali berpikir dan bertindak seperti remaja yang baru pertama kali dimabuk cinta. Ia lupa bahwa hidupnya bukan lagi hanya tentang “aku dan dia”, melainkan tentang “kita”—ia, suami, dan terutama anak-anaknya yang masih belum mengerti dunia.
1. Dimabuk cinta, lupa realitas
Perasaan jatuh cinta—terutama yang bersifat terlarang—bisa memunculkan euforia yang menipu. Dalam kondisi ini, seseorang bisa lupa diri, lupa kewajiban, lupa siapa yang sedang menunggu di rumah. Bagi sebagian orang, sensasinya seperti remaja yang merasa hidupnya baru dimulai.
Namun ketika itu terjadi pada seorang ibu, konsekuensinya jauh lebih berat. Karena euforia itu dibayar dengan air mata anak.
2. Mengabaikan kebutuhan paling mendasar anak
Anak balita, terlebih yang masih menyusu, tidak hanya membutuhkan makanan, tetapi juga rasa aman dari kehadiran ibunya. ASI bukan hanya nutrisi; ia membawa kelekatan emosional. Ketika seorang ibu pergi, anak kehilangan kehangatan itu.
Dan luka seperti ini tidak selalu tampak sekarang, tetapi bisa muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk kecemasan, insecure attachment, atau trauma kedekatan.
3. Pikiran “bisa punya anak baru” adalah bentuk kedewasaan yang runtuh
Ketika seorang ibu mulai berpikir bahwa anak yang sekarang ditinggalkan pun tidak apa-apa—karena nanti ia bisa punya anak lagi dengan pasangan barunya—itu adalah tanda runtuhnya kedewasaan.
Anak bukan benda yang bisa ditukar.
Bukan juga beban yang bisa diserahkan begitu saja kepada ayahnya.
Anak adalah manusia yang memiliki ikatan batin, memori, dan luka.
Pemikiran seperti itu hanya muncul ketika seseorang kehilangan orientasi moral dan emosional. Ketika cinta terlarang lebih menguasai logika daripada nurani.
4. Suami ikut terluka, tapi luka anak jauh lebih dalam
Suami mungkin bisa pulih. Ia orang dewasa, bisa menata hidupnya kembali.
Tetapi anak?
Mereka tidak punya konsep “selingkuh”, “cinta baru”, atau “pisah rumah”. Yang mereka pahami hanyalah:
Ibu tidak ada. Ibu pergi. Ibu memilih orang lain daripada aku.
Ini adalah perasaan yang, meski tidak dirangkai dalam kata-kata, akan tertanam dalam jiwa mereka.
5. Tanggung jawab ibu tidak boleh dikalahkan oleh hawa nafsu
Cinta bisa datang kapan saja. Hasrat bisa menipu siapa saja.
Tetapi tanggung jawab seorang ibu seharusnya menjadi jangkar yang paling kuat.
Ketika jangkar itu dilepas hanya karena seorang pria baru, maka ia bukan hanya melukai keluarganya, tetapi juga melukai identitasnya sendiri sebagai ibu.
Penutup
Seorang ibu yang meninggalkan anak balitanya demi selingkuhan bukan hanya sedang mengkhianati suami—ia sedang mengkhianati perannya sendiri. Ia sedang melupakan amanah yang dulu ia terima saat seorang bayi diletakkan di pelukannya untuk pertama kali.
Cinta baru bisa dicari kapan saja.
Tetapi masa kecil anak tidak pernah bisa diulang kembali.
Dan luka karena ditinggalkan ibu adalah luka yang paling lama sembuhnya.