Saat Tiba Waktunya Mengakhiri Perjalanan Panjang
Tidak ada keputusan besar yang lahir dalam semalam, apalagi keputusan mengakhiri perjalanan kerja yang telah ditempuh selama 28 tahun. Selama hampir tiga dekade itu, saya tumbuh bersama kemenkeu, menyaksikan perubahan demi perubahan, mengenal begitu banyak orang baik, dan belajar lebih dari yang pernah saya bayangkan. Karena itu, langkah untuk mengajukan pendi bukanlah keputusan yang ringan.
Pertama kali dinas ke Manokwari tahun 1997 sampai tahun 2000, sekitar 3 tahun disana
Kedua ke Kota Bogor, tahun 2001 s. d. 2006, hampir 6 tahun.
Ketiga Pekanbaru, tahun 2006 s. d. 2007, hanya setahun.
Keempat Jakarta, Jakarta 1, tahun 2007 s. d 2011, hampir 4 tahun
Kelima Jakarta, Pusat, tahun 2011 s. d. 2014 hampir 4 tahun
Ke-enam Bogor, periode kedua, tahun 2014 s. d. 2025, hampir 11 tahun.
Banyak pelajaran yang diambil, belajar banyak di DJPb.
Pendi ini sudah melalui berbagai pertimbangan.
Saya sudah menimbang dari berbagai sisi—fisik, mental, keluarga, hingga masa depan. Semua pertimbangan itu pada akhirnya mengerucut pada satu kesadaran bahwa ada fase baru dalam hidup yang harus saya mulai, dan untuk itu saya perlu menutup fase lama dengan kepala tegak.
Ketika saya melakukan sounding kepada atasan langsung, saya diminta menunda. Hampir tiga minggu saya menunggu, diberi ruang untuk berpikir ulang, dipertimbangkan, mungkin juga diuji apakah keputusan saya benar-benar mantap. Namun pada akhirnya, kompas batin saya tetap mengarah pada tujuan yang sama: saya ingin mengakhiri perjalanan ini dengan baik.
Tanggal 20 November 2025, saya secara resmi menyerahkan surat pendi saya kepada atasan—secara profesional maupun personal—sebagai bentuk kesungguhan bahwa saya siap menjalani proses ini, apa pun konsekuensinya. Rasanya lega, bukan karena ingin pergi, tetapi karena akhirnya bisa jujur pada diri sendiri.
Saya tidak tahu apakah proses ini akan berjalan mulus atau masih harus menunggu lebih lama lagi. Yang saya tahu, setiap perjalanan memiliki ujungnya, dan setiap ujung membuka jalan baru. Saya hanya berharap keputusan ini diproses dengan bijak, dihormati sebagai bagian dari hak seorang karyawan, dan menjadi awal baik dari babak baru kehidupan saya.
Pada akhirnya, seseorang harus tahu kapan saatnya bertahan dan kapan saatnya melepaskan. Dan saya memilih melepaskan—bukan karena hilang rasa, tetapi karena telah cukup memberi, cukup belajar, dan kini waktunya mengambil langkah baru dengan hati yang lebih ringan.