Ketika Ilmu Agama Tidak Menjamin Akhlak
Ada hal-hal dalam hidup yang sulit dinalar, sekalipun kita berusaha mencarinya dengan sabar. Salah satunya adalah ketika seseorang yang tampak agamis—lulusan pesantren, paham aturan syariat, dan tampil dengan simbol-simbol keislaman—justru memilih berselingkuh dan meninggalkan anak-anaknya. Bahkan ada yang rela pergi ketika di rumah masih ada bayi yang membutuhkan ASI. Pada titik seperti ini, agama tidak lagi tampak sebagai cahaya yang menuntun, melainkan hanya menjadi atribut identitas yang dipakai untuk tampil baik di mata publik.
Kita sering lupa bahwa pemahaman agama tidak selalu sejalan dengan kualitas akhlak. Ilmu bisa diajarkan, hafalan bisa dilatih, penampilan bisa dibuat sedemikian rupa agar tampak saleh. Namun akhlak bukan sekadar apa yang diketahui seseorang, melainkan apa yang ia lakukan ketika tidak ada yang melihat. Sering kali akhlak justru teruji ketika godaan datang dalam bentuk yang paling menggoda dan paling personal.
Maka ketika seseorang yang seharusnya memahami larangan-larangan besar dalam agama justru tergelincir dalam hubungan gelap, itu bukan semata karena kurangnya ilmu. Itu karena ilmunya berhenti di kepala, tidak turun ke hati. Ia mengetahui apa yang salah, tetapi memilih untuk tidak peduli. Ia paham batasan moral, tetapi membiarkan keinginan pribadi mengaburkan nurani. Pada akhirnya, bukan kebodohan yang menjatuhkan seseorang, melainkan ketidakinginan untuk setia pada prinsip yang ia pelajari sendiri.
Pengaruh pergaulan, lingkungan, dan dunia maya memang besar. Media sosial membuka ruang yang luas untuk godaan dan perhatian instan. Namun tetap saja, setiap langkah menuju perselingkuhan adalah pilihan sadar: membuka pintu, melanjutkan percakapan, menyembunyikan sesuatu, lalu akhirnya mengkhianati kepercayaan. Kepercayaan yang diberikan suami bukan celah untuk dimanfaatkan, melainkan amanah yang semestinya dijaga. Dan ketika amanah itu justru dikhianati, itu menandakan bahwa masalah utamanya bukan di luar diri, tetapi di dalam diri.
Sangat ironis ketika seseorang menjaga citra agama di luar rumah, tetapi mengabaikan nilai agama di dalam rumah sendiri. Apalagi ketika ia sanggup meninggalkan anak-anaknya—makhluk kecil yang seharusnya menjadi alasan untuk bertahan, bukan korban yang ditinggalkan. Meninggalkan balita demi ambisi pribadi atau hubungan lain bukan hanya kelemahan moral, tetapi sebuah bentuk pelarian yang paling egois. Anak-anak tidak meminta lahir, tidak meminta menjadi saksi patahnya komitmen orang dewasa. Namun merekalah yang paling terdampak.
Pada akhirnya, akhlak seseorang tidak diukur dari seberapa tebal jilbabnya, seberapa fasih bacaannya, atau seberapa religius latar pendidikannya. Akhlak terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan orang yang paling bergantung padanya—pasangan, anak-anak, keluarga. Bagaimana ia bersikap di saat tidak ada yang menonton. Bagaimana ia menjaga amanah, bukan hanya menjaga citra.
Seberapa pun seseorang memoles identitas keagamaannya, pada akhirnya perbuatannya selalu lebih jujur daripada penampilannya. Dan kebenaran itu, cepat atau lambat, selalu menemukan jalannya sendiri.