Selingkuh Itu Bukan Karena Cinta Datang Lagi—Tapi Karena Iman dan Kejujuran Pergi Lebih Dulu
Fenomena selingkuh hari ini makin sering kita dengar, seolah menjadi hal biasa. Padahal jika hati jujur, semua orang tahu: tidak ada yang “biasa” dari menghancurkan kepercayaan orang yang mencintai kita.
Secara agama, pintu keluarnya jelas:
Jika sudah tidak cocok, tidak cinta, tidak sanggup hidup bersama, Allah membuka jalan perpisahan secara baik-baik.
Halal, meski dibenci, tapi tetap jalan yang jujur.
Namun apa yang terjadi hari ini?
Banyak laki-laki ingin poligami, tapi takut jujur.
Banyak perempuan ingin merasakan cinta lain, tapi takut melepaskan kenyamanan yang sudah ada.
Semua mau menambah, tapi tidak mau menyelesaikan yang lama.
Akhirnya dipilihlah selingkuh—jalan yang paling mudah, paling cepat, dan paling manipulatif.
Laki-laki berbohong:
“Mantan istri saya sudah tidak ada rasa.”
“Saya ini duda, rumah tangga sudah selesai.”
“Dia hanya ibu dari anak-anak saya.”
Perempuan juga kadang terjebak oleh rayuan:
“Kasihan dia, istrinya tidak perhatian.”
“Dia bilang sendirian.”
“Dia sedang berproses cerai.”
Padahal semua itu hanya pintu palsu menuju dosa besar.
Selingkuh itu terjadi bukan karena cinta baru datang tiba-tiba,
tapi karena iman luntur dan kejujuran pergi lebih dulu.
Banyak orang tidak mau cerai bukan karena mempertahankan rumah tangga, tapi karena takut kehilangan kenyamanan:
– takut kehilangan nafkah,
– takut kehilangan status,
– takut dicap gagal,
– takut hidup sulit,
– takut keluarga marah.
Ironinya, demi mempertahankan status “orang baik”, seseorang bisa hidup dalam kebohongan yang lebih busuk dari perceraian itu sendiri.
Padahal dalam agama, mengkhianati janji dan merusak kehormatan orang lain adalah dosa yang lebih berat daripada sekedar mengakhiri pernikahan dengan cara yang jujur.
Allah membenci perceraian, ya.
Tapi Allah lebih membenci pengkhianatan.
Bagaimana mungkin meminta keberkahan rumah tangga
jika kaki berdiri di dua perahu
dan hati tergantung pada dosa?
Yang sering lupa disadari adalah:
Selingkuh tidak hanya merusak pasangan.
Ia merusak keberkahan hidup,
menumpuk dosa berlapis-lapis,
dan meninggalkan luka di hati anak-anak yang tidak pernah minta dilahirkan dalam keluarga penuh kebohongan.
Selingkuh terlihat indah di awal,
tapi itu hanyalah neraka yang dibungkus perasaan sementara.
Pada akhirnya, pilihan paling mulia bukanlah bertahan pura-pura setia sambil bermain di belakang,
tapi jujur, meskipun pahit.
Karena Allah tidak menilai seberapa manis kata-kata kita—
Allah menilai seberapa bersih hati dan niat kita.