Bubur Cianjur

Banyak makanan di Indonesia yang tidak hanya membawa rasa, tetapi juga identitas. Nama daerah melekat pada jenis hidangan, misalnya sate Madura, sate Padang, soto Betawi, ayam Taliwang, mi Aceh dsb. Ketika menyebutnya, kita tidak hanya membayangkan makanan, tetapi juga budaya, kebiasaan, dan cara hidup suatu daerah.

Di Cianjur, identitas itu hadir dalam satu mangkuk sederhana yakni bubur Cianjur.

Secara bentuk, ia mungkin tak jauh berbeda dari bubur ayam di kota lain. Namun topping-nya menjadi penanda: sayur daun bawang yang segar, suwiran ayam, kerupuk warna-warni, emping, dan satu unsur yang tak pernah tertulis—bumbu rahasia masing-masing pedagang. Di sanalah karakter sesungguhnya tersembunyi. Setiap mangkuk bubur Cianjur membawa sidik jari peraciknya.

Yang menarik, bubur ini tidak hidup di satu titik. Di Cianjur, hampir di setiap sudut ada bubur Cianjur. Ia bukan kuliner elit, bukan pula sajian wisata khusus. Ia adalah makanan rakyat, makanan pagi, makanan untuk perut kosong, makanan pulang untuk malam, makanan segala suasana. Justru karena itulah ia kuat.

Namun secara kritis, ada pertanyaan yang patut direnungkan: apakah bubur Cianjur benar-benar kita jaga sebagai identitas, atau hanya kita nikmati tanpa kesadaran akan nilainya? Banyak pedagang berjualan dengan nama “bubur Cianjur”, tapi tanpa ada upaya kolektif untuk merawat cerita, standar rasa, atau sejarahnya. Di luar daerah, nama “bubur Cianjur” melekat sebagai merek, tetapi sering kali terlepas dari makna asalnya.

Di sinilah refleksinya muncul. Identitas kuliner bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal keberlanjutan. Jika generasi muda hanya mengenalnya sebagai bubur biasa, tanpa memahami mengapa ia disebut “Cianjur”, maka lambat laun nama itu bisa menjadi kosong—tinggal label, tanpa jiwa.

Namun di sisi lain, justru kesederhanaan bubur Cianjur adalah kekuatannya. Ia tidak dibangun oleh festival besar, tidak oleh promosi masif, melainkan oleh kebiasaan. Oleh sendok-sendok pagi hari, oleh pembeli yang datang berulang, oleh pedagang yang setia dengan resepnya.

Mungkin di situlah makna terdalam bubur Cianjur: identitas yang tidak dibentuk oleh klaim, tetapi oleh konsistensi. Ketika di kota lain orang tetap menyebutnya “bubur Cianjur”, itu bukan semata soal rasa, melainkan pengakuan bahwa Cianjur telah menanamkan namanya di dalam mangkuk sederhana.

Dan pada akhirnya, kita belajar satu hal: tidak semua identitas harus megah. Sebagian justru lahir dari hal yang paling sehari-hari—dari bubur hangat yang dimakan tanpa sadar, tetapi diingat selamanya.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo