Menyelesaikan Diri Sebelum Perkawinan

Sebelum melangkah ke pernikahan, sebaiknya seseorang terlebih dahulu menyelesaikan masa mudanya. Bukan berarti harus menutup semua mimpi, tetapi memahami, merapikan, dan menempatkan mimpi pada posisi yang realistis. Karena pernikahan bukan panggung untuk melanjutkan pencarian jati diri, melainkan ruang untuk membagi diri yang sudah relatif utuh.

Banyak pernikahan goyah bukan karena kurang cinta, melainkan karena dua orang yang belum selesai dengan dirinya sendiri dipaksa hidup dalam satu komitmen. Ego masih lapar, ambisi masih liar, luka masa lalu belum sembuh, tetapi sudah diminta belajar berbagi hidup. Akibatnya, pasangan sering dijadikan tempat pelarian, bukan tempat pulang.

Cinta dalam pernikahan tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan pengorbanan yang konsisten, bukan yang heroik sesaat. Ia menuntut kompromi, bukan kemenangan. Ia memerlukan kesabaran, bukan sekadar semangat. Dan yang paling sulit: ia meminta kita menurunkan ego tanpa kehilangan harga diri.

Pernikahan bukan hanya tentang menemukan orang yang tepat, tetapi menjadi pribadi yang siap. Siap untuk tidak selalu benar. Siap untuk tidak selalu didahulukan. Siap untuk menunda keinginan pribadi demi kebaikan bersama. Siap untuk kecewa tanpa harus pergi. Dan siap untuk bertumbuh tanpa harus saling melukai.

Secara kritis, budaya sering mengajarkan bahwa pernikahan adalah tujuan. Padahal pernikahan seharusnya adalah kelanjutan dari proses pendewasaan. Ketika pernikahan dijadikan pelarian dari kesepian, tekanan sosial, atau ketakutan akan tertinggal, maka yang lahir bukanlah keluarga, melainkan dua orang yang sama-sama berharap diselamatkan oleh cinta.

Refleksinya sederhana namun berat: menikah tidak akan menyelesaikan kekosongan batin. Menikah tidak akan otomatis mendewasakan. Justru pernikahan akan memperlihatkan dengan jelas bagian-bagian diri yang belum selesai.

Karena dalam pernikahan, cinta tidak hanya diuji oleh jarak, tetapi oleh kedekatan. Tidak hanya oleh kehilangan, tetapi oleh kebersamaan yang terus-menerus. Dan di sanalah terlihat siapa yang sudah siap berbagi hidup, dan siapa yang masih ingin hidup sendiri dalam dua tubuh.

Maka menyelesaikan masa muda bukan berarti kehilangan romantisme, tetapi mengubahnya menjadi kedewasaan. Bukan berarti mengubur mimpi, tetapi menata mimpi agar tidak melukai orang lain dalam perjalanannya.

Pernikahan bukan tentang mengorbankan diri sepenuhnya, tetapi tentang mengatur ulang prioritas. Dan itu hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang telah berdamai dengan dirinya sendiri.

Karena cinta yang paling berbahaya bukan cinta yang terlalu besar, melainkan cinta yang dipikul oleh pribadi yang belum siap memikul apa pun selain dirinya sendiri.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo