Getaran Perselingkuhan dan Dahan-Dahan yang Runtuh

Ada kearifan lama yang mengatakan, “Sebatang kayu yang patah seringkali menjatuhkan dahan-dahan di sekitarnya.” Perselingkuhan adalah retakan pertama pada cabang utama itu. Ia mungkin dimulai diam-diam, tersembunyi, bahkan tampak personal. Namun getarannya tidak pernah berhenti pada dua orang yang terlibat. Ia merambat, menjatuhkan dahan-dahan lain yang sama sekali tidak ikut memilih untuk terluka.

Yang pertama sering kali roboh adalah harga diri keluarga besar. Orang tua merasa gagal menanamkan nilai, mertua merasa dipermalukan, saudara ikut menanggung malu sosial yang bukan hasil perbuatan mereka. Padahal perselingkuhan jarang lahir dari satu sebab tunggal. Namun masyarakat lebih gemar menghakimi daripada memahami, lebih cepat menunjuk daripada bertanya mengapa.

Dahan berikutnya adalah anak-anak. Mereka kehilangan rasa aman bahkan sebelum rumah itu benar-benar runtuh. Kepercayaan diri mereka tergerus perlahan—bukan semata karena perselingkuhan itu sendiri, melainkan karena ketegangan yang mereka rasakan, kebohongan yang tak mereka mengerti, dan sikap orang dewasa yang lupa bahwa anak tidak memiliki alat emosional untuk menafsirkan pengkhianatan.

Secara kritis, perselingkuhan kerap direduksi sebagai “urusan pribadi” atau “kesalahan emosional sesaat.” Padahal ia adalah tindakan yang membawa tanggung jawab sosial dan moral yang besar. Benar, setiap orang memiliki kelemahan. Namun mengkhianati sebuah komitmen tanpa kesadaran akan dampaknya sama saja dengan menggergaji cabang tempat banyak orang ikut bersandar, lalu heran mengapa semuanya ikut terjatuh.

Refleksi ini bukan untuk menghakimi mereka yang pernah tersesat, melainkan untuk mengingatkan bahwa kesetiaan bukan hanya soal cinta dua orang. Ia adalah fondasi kepercayaan banyak pihak. Dan ketika fondasi itu retak, yang terdampak bukan hanya pasangan, tetapi seluruh ekosistem di sekitarnya.

Maka sebelum sebuah kesetiaan dikhianati, mungkin yang lebih bijak adalah bertanya: sudahkah kita jujur pada diri sendiri? Sudahkah kita merawat komitmen itu ketika terasa melelahkan? Karena ketika pengkhianatan akhirnya terjadi, tidak ada satu pun dahan di sekitarnya yang benar-benar selamat tanpa luka.


Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo