Kesetiaan yang Diuji oleh Kekurangan
Perpisahan atau perceraian sering kali disederhanakan sebagai akibat perselingkuhan atau masalah ekonomi. Padahal, di balik dua alasan itu, tersembunyi satu persoalan yang lebih dalam: ketidaksiapan manusia untuk mencintai dalam keadaan tidak ideal. Banyak orang mampu mencintai ketika segalanya indah, tetapi sedikit yang benar-benar siap mencintai ketika hidup menjadi berat.
Dalam janji pernikahan, ada kalimat yang sering diucapkan tanpa benar-benar direnungkan: dalam sehat dan sakit, dalam cukup dan kurang. Kalimat itu terdengar sakral, tetapi praktiknya tidak sesederhana pengucapannya. Ketika penyakit datang dan bertahan lama, cinta tidak lagi romantis. Ia berubah menjadi rutinitas merawat, menunggu, mengalah, dan lelah. Dan di titik itulah, banyak orang mulai goyah.
Begitu pula dalam persoalan materi. Tidak sedikit yang sanggup hidup bersama ketika ekonomi stabil, tetapi kehilangan kesabaran ketika penghasilan menurun. Bukan karena tidak cinta, melainkan karena cinta mereka dibangun di atas kenyamanan, bukan ketahanan.
Secara kritis, kita sering memaknai pernikahan sebagai kerja sama dua orang kuat. Padahal sesungguhnya, pernikahan adalah pertemuan dua orang rapuh yang berjanji untuk saling menopang. Ketika salah satu jatuh, yang lain tidak seharusnya ikut meninggalkan. Namun realitas menunjukkan, banyak yang justru pergi saat pasangan paling membutuhkan.
Perselingkuhan pun sering lahir bukan hanya dari nafsu, tetapi dari kelelahan emosional yang tidak terkelola. Ketika seseorang merasa hidupnya semakin berat, lalu menemukan ruang ringan di luar, ia lupa bahwa ringan bukan berarti benar.
Refleksinya menyakitkan: cinta sering kali kalah oleh kenyamanan. Kesetiaan sering diuji bukan oleh kehadiran orang ketiga, tetapi oleh ketidaksanggupan menghadapi penderitaan bersama.
Bukan semua perpisahan salah. Ada hubungan yang memang sudah tidak sehat dan perlu diakhiri demi keselamatan jiwa. Namun banyak pula perpisahan yang sebenarnya bisa diselamatkan, jika kedua pihak lebih siap mencintai dalam versi hidup yang tidak indah.
Pernikahan bukan kontrak kebahagiaan, melainkan perjanjian ketahanan. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa luka, tetapi janji untuk tidak saling meninggalkan ketika luka datang.
Maka sebelum menikah, mungkin yang perlu ditanyakan bukan hanya: apakah aku mencintainya?
Tetapi: apakah aku siap bertahan bersamanya ketika ia tidak lagi sehat, tidak lagi kuat, tidak lagi mapan?
Karena cinta yang sejati bukan diuji ketika segalanya cukup, tetapi ketika segalanya terasa kurang.