Roti Tan Keng Cu Cianjur
Ada hal-hal yang membuat sebuah kota tetap hidup dalam ingatan, bahkan tanpa perlu baliho besar atau promosi berlebihan. Di Cianjur, selain manisan yang sudah terlanjur melekat sebagai ikon, ada satu nama yang bekerja dalam senyap tapi setia: Roti Tan Keng Cu.
Bagi yang pernah singgah atau tumbuh di Cianjur, roti ini bukan sekadar panganan. Ia adalah bagian dari perjalanan. Jika Bogor punya Tan Ek Tjoan dengan etalase penuh pilihan, Cianjur punya Tan Keng Cu yang lebih bersahaja. Jenis rotinya tidak banyak, tapi justru di situlah kekuatannya. Roti gambang yang aromanya khas, roti manis yang lembut, varian cokelat dan pandan yang sederhana, serta roti tawar yang jujur—tanpa gimmick, tanpa perlu penjelasan panjang.
Tokonya berada di jalan utama, mudah dikenali, dan seperti enggan bersembunyi. Namun yang paling menarik justru pemandangan di luar toko: roti-roti Tan Keng Cu yang dijajakan di pinggir jalan. Di tangan para penjualnya, roti itu berpindah dari etalase ke kehidupan sehari-hari—dibeli untuk bekal perjalanan, oleh-oleh singkat, atau sekadar teman minum teh sore di rumah.
Ada romantika kecil di sana. Tentang resep yang tidak berubah, tentang rasa yang tidak mengejar zaman, dan tentang kesetiaan pada kesederhanaan. Di tengah gempuran roti modern dengan nama asing dan topping berlapis, Tan Keng Cu memilih bertahan sebagai dirinya sendiri. Tidak lebih, tidak kurang.
Mungkin inilah yang membuatnya layak disebut legendaris. Bukan karena viral, bukan karena antrean panjang, melainkan karena ia hadir terus-menerus dalam keseharian orang Cianjur. Diam-diam, roti ini menjadi penanda: bahwa tradisi bisa hidup tanpa harus berteriak.
Cianjur, rupanya, bukan hanya soal manisan. Ada sepotong roti hangat yang menyimpan cerita panjang tentang waktu, kesabaran, dan rasa yang memilih untuk tetap setia.
