Selingkuh: Penyakit Hati yang Bersembunyi di Balik Kesalehan
Perselingkuhan bukan sekadar salah langkah.
Ia adalah penyakit hati—
yang tumbuh pelan-pelan, diam-diam,
hingga dosa terasa seperti kebiasaan,
dan luka pasangan dianggap harga yang wajar
demi kenikmatan yang singgah sebentar.
Yang berselingkuh sering bukan orang yang tak tahu benar dan salah.
Justru banyak yang paham,
namun memilih mematikan nurani
karena ego lebih ingin menang
daripada hati yang ingin pulang.
Yang lebih menyayat,
perselingkuhan tidak selalu datang dari mereka yang jauh dari ibadah.
Ada yang rajin berdoa,
rajin hadir dalam pengajian,
bahkan tampak lebih suci daripada yang lain.
Namun kesalehan yang berhenti di penampilan
tak cukup kuat menahan godaan
yang datang ketika dunia sepi
dan pintu-pintu rahasia terbuka.
Karena ibadah yang tak menyentuh hati
hanya akan menjadi rutinitas—
gerak tubuh tanpa cahaya,
lafaz tanpa getar,
seremonial tanpa kendali.
Ia terlihat di luar,
namun tak mampu menahan tangan
dari pesan-pesan tersembunyi.
Tak mampu menahan mata
dari pandangan yang sengaja dipelihara.
Tak mampu menahan langkah
dari jalan yang sejak awal sudah salah.
Pada akhirnya, ibadah hanya menjadi hiasan identitas,
bukan penjaga karakter.
Hanya topeng yang rapi,
sementara kebusukan dirawat diam-diam
seperti rahasia yang dianggap prestasi.
Secara kritis, ini menunjukkan:
masalah selingkuh bukan sekadar kurang cinta,
bukan semata kurang perhatian,
melainkan kurang integritas.
Kurang takut kepada Tuhan,
dan kurang hormat kepada pasangan.
Selingkuh adalah kemunafikan yang paling halus:
menampilkan diri seolah baik,
sementara di belakang layar
ada pengkhianatan yang terus disiram
agar tetap hidup.
Refleksinya sederhana, tapi tajam:
kesetiaan bukan diukur dari seberapa agamis seseorang terlihat,
melainkan dari seberapa kuat ia menjaga batas
ketika tak ada yang melihat.
Sebab cinta yang sehat membutuhkan kejujuran,
dan rumah tangga hanya bisa berdiri
di atas hati yang bersih—
bukan citra yang rapi.