Selingkuh Bukan Sekadar Kesalahan, Tapi Pilihan yang Sengaja Diambil

Selingkuh sering dibungkus dengan alasan-alasan klise: butuh perhatian lebih, ingin dimengerti, merasa diabaikan, atau ingin merasakan sesuatu yang berbeda dari pasangannya. Namun jika ditelanjangi sampai ke akarnya, perselingkuhan adalah keputusan sadar untuk mencari pemenuhan diri di luar komitmen. Ia bukan kecelakaan emosional—ia tindakan yang dipilih dengan mata terbuka.

Ada orang yang selingkuh karena tidak pernah merasa cukup. Di hadapan mereka, pasangan adalah cermin dari ketidakpuasan diri. Selalu ada imajinasi bahwa orang lain lebih menarik, lebih perhatian, lebih menggairahkan. Bukan pasangan yang kurang, tetapi hatinya sendiri yang tak pernah benar-benar penuh.

Pada pasangan yang sudah menikah, perselingkuhan bahkan sering menjadi transaksi seks yang tidak berbayar—kenikmatan yang dicari tanpa konsekuensi finansial, hanya konsekuensi moral. Ketika hubungan sah sudah terasa rutin, mereka mencari sensasi baru di luar, seolah tubuh dan waktu pasangan bukan lagi sesuatu yang dihormati, melainkan rutinitas yang membosankan.

Dan jangan lupa: untuk selingkuh, seseorang butuh usaha. Ada proses menyembunyikan chat, menghapus riwayat percakapan, berbohong meyakinkan, dan menciptakan alibi. Semua itu tidak terjadi secara tidak sengaja. Itu adalah rangkaian tindakan penuh kesadaran, hasil dari hasrat busuk yang dipelihara diam-diam.

Yang lebih mengerikan adalah sensasinya—dorongan adrenalin yang membuat mereka merasa hidup kembali. Sekali menikmati hubungan gelap, banyak yang akan mengulang lagi. Tidak peduli pasangannya siapa, perselingkuhan menjadi pola, bukan insiden. Dan rasa bersalah perlahan menipis, digantikan pembenaran-pembenaran murahan: “Aku cuma butuh perhatian,” “Aku merasa kosong,” “Aku ingin sesuatu yang berbeda.”

Padahal pada intinya, selingkuh adalah cermin karakter. Bukan karena pasangannya kurang perhatian. Bukan karena rumah tangga sedang goyah. Tapi karena mereka memilih jalan singkat yang terasa menyenangkan meski meninggalkan luka panjang.

Selingkuh itu bukan sekadar dosa terhadap pasangan—ia adalah pengkhianatan terhadap diri sendiri, karena menukar integritas dengan sensasi sesaat yang cepat hilang. 

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo