Pernikahan: Antara Kesetiaan dan Kedewasaan

Pernikahan sejatinya bukan tentang memenangkan perasaan, tetapi tentang meredam ego. Ia bukan arena pembuktian siapa yang paling benar, melainkan ruang belajar untuk saling memahami. Dalam pernikahan, kesabaran bukan pelengkap, melainkan kunci. Dan komunikasi bukan sekadar alat bicara, tetapi jalan untuk menyelamatkan cinta sebelum ia terluka.

Di sinilah perselingkuhan menemukan konteksnya. Perselingkuhan sering lahir bukan hanya dari godaan, tetapi dari kegagalan meredam ego dan membangun komunikasi. Ketika satu pihak merasa lebih berhak daripada bertanggung jawab, lebih ingin dipahami daripada memahami, maka pintu pengkhianatan perlahan terbuka.

Namun penting untuk disadari: perselingkuhan bukan sekadar kesalahan hubungan, melainkan cermin karakter. Ia adalah keputusan sadar untuk menyembunyikan kebenaran, memelihara kebohongan, dan mengkhianati kepercayaan. Dan ketika kepercayaan runtuh, pernikahan kehilangan fondasinya.

Perceraian yang lahir dari perselingkuhan bukan hanya akhir dari cinta, tetapi akhir dari rasa aman. Anak-anak, keluarga besar, bahkan lingkungan sosial ikut menanggung dampaknya. Karena rumah tangga tidak pernah berdiri sendiri; ia selalu menjadi pusat dari banyak kehidupan lain.

Secara kritis, kita sering terlalu fokus menyalahkan keadaan: kesibukan, jarak emosional, kebosanan. Padahal akar persoalan sering kali sederhana: ego yang tidak mau mengalah, kesabaran yang menipis, dan komunikasi yang berhenti.

Padahal pernikahan bukan tentang siapa yang paling benar, tetapi siapa yang paling mau bertahan. Bukan tentang siapa yang paling dicintai, tetapi siapa yang paling setia menjaga cinta.

Kesabaran adalah kunci karena tidak ada dua manusia yang selalu sejalan. Komunikasi adalah jalan karena tidak ada dua hati yang selalu mampu membaca tanpa kata. Dan meredam ego adalah inti, karena cinta tidak bisa hidup di antara dua keakuan yang sama-sama ingin menang.

Refleksinya tegas: perselingkuhan tidak akan pernah lahir di hubungan yang dijaga dengan kesadaran. Ia tumbuh di ruang-ruang kecil yang dibiarkan gelap: gengsi untuk meminta maaf, malas untuk berbicara, dan keinginan untuk merasa benar sendiri.

Pernikahan bukan tentang kesempurnaan pasangan, tetapi tentang kedewasaan untuk menjaga kekurangan bersama. Dan ketika ego direndahkan, kesabaran ditinggikan, serta komunikasi dijaga, pernikahan tidak hanya bertahan—ia bertumbuh.

Karena cinta yang dewasa bukan cinta yang bebas dari masalah, tetapi cinta yang memilih untuk tidak lari dari masalah.

Postingan populer dari blog ini

Parkir Kendaraan Bermotor di Stasiun Bogor

SMK SMAKBO baru

Stasiun-stasiun Kereta Api di Kabupaten Purworejo