Postingan

Kesempurnaan yang Dipilih

Emas murni seratus persen hampir tidak pernah dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan emas dengan kadar tertinggi pun tetap memiliki campuran tertentu agar lebih kuat dan bermanfaat. Demikian pula manusia. Tidak ada seorang pun yang benar-benar sempurna. Setiap orang membawa kelebihan sekaligus kekurangan, kekuatan sekaligus kelemahan. Ironisnya, banyak hubungan justru retak karena pencarian akan sosok yang dianggap lebih sempurna. Di era media sosial, kehidupan orang lain tampak selalu lebih indah. Selalu ada pasangan yang terlihat lebih romantis, lebih mapan, lebih menarik, atau lebih perhatian. Padahal yang terlihat hanyalah permukaannya. Perbandingan tanpa henti membuat seseorang lupa menghargai apa yang telah dimilikinya. Mungkin persoalannya bukan karena pasangan kita kurang sempurna, melainkan karena kita tidak pernah memutuskan untuk menjadikannya sempurna dalam pandangan kita. Kesempurnaan dalam hubungan bukanlah sifat bawaan seseorang, melainkan hasil dari sebuah pilihan...

Takdir dan Sungai: Mengalir, Berikhtiar, atau Mengubah Alur?

Takdir sering diibaratkan seperti aliran sungai. Ia terus mengalir mengikuti jalur yang telah terbentuk. Air tidak pernah bertanya ke mana harus menuju; ia hanya mengalir sesuai hukum alam yang mengaturnya. Begitu pula hidup manusia. Ada hal-hal yang berada di luar kendali kita: tempat lahir, keluarga, waktu, bahkan kematian. Semua itu adalah bagian dari aliran yang tidak kita pilih. Namun, manusia bukanlah sepotong kayu yang hanyut tanpa daya. Kita diberi akal, kehendak, dan kemampuan untuk mengambil keputusan. Setiap pilihan yang kita buat ibarat melemparkan batu ke sungai. Batu itu menimbulkan riak, percikan, bahkan sesaat mengubah arah air di sekitarnya. Akan tetapi, sungai tetap mengalir menuju muaranya. Di sinilah sering muncul pertanyaan: jika aliran akhirnya tetap sama, apakah ikhtiar manusia benar-benar berarti? Jawabannya mungkin terletak pada cara kita memandang takdir. Takdir bukan alasan untuk menyerah, melainkan ruang bagi manusia untuk berusaha. Riak yang kita ciptakan m...

Ketika Tamu Merasa Lebih Berhak daripada Tuan Rumah

Ada berita yang belakangan ini cukup menggelitik perhatian. Sebuah kegiatan lari eksklusif yang diselenggarakan oleh warga negara asing di Bali menjadi sorotan karena muncul dugaan adanya pembatasan terhadap warga lokal untuk ikut serta. Persoalannya kemudian berkembang. Pemerintah tidak semata-mata melihatnya sebagai persoalan kegiatan lari, tetapi juga dugaan pelanggaran terhadap izin tinggal dan ketentuan yang berlaku di Indonesia. Di sinilah sebenarnya letak persoalan yang lebih besar. Bukan soal siapa yang boleh berlari bersama siapa. Bukan pula soal apakah sebuah komunitas boleh membuat kegiatan eksklusif. Setiap orang tentu memiliki hak untuk membentuk komunitas dan membuat kegiatan tertentu sepanjang tidak melanggar hukum. Warga negara asing pun memiliki hak untuk datang, tinggal, bekerja, berusaha, dan berinvestasi di Indonesia sesuai aturan yang berlaku. Tetapi ada satu batas yang tidak boleh dilupakan: ketika berada di Indonesia, hukum Indonesialah yang berlaku. Menjadi oran...

Ketika Arogansi Menghapus Wibawa

Di era media sosial, sebuah pelanggaran kecil dapat berkembang menjadi perhatian nasional. Bukan semata karena pelanggarannya, melainkan karena siapa yang diduga melakukannya dan bagaimana respons setelah ditegur. Kasus yang belakangan ramai diperbincangkan memperlihatkan hal itu. Berawal dari dugaan kendaraan mewah yang melanggar lampu penyeberangan, kemudian muncul dugaan penggunaan pelat nomor yang tidak sesuai, hingga dugaan intimidasi atau perundungan terhadap petugas keamanan yang menjalankan tugasnya. Jika dugaan-dugaan tersebut terbukti melalui proses hukum yang berlaku, tentu masing-masing memiliki konsekuensi hukum tersendiri. Namun, sesungguhnya yang paling menyita perhatian publik bukan hanya dugaan pelanggaran itu. Yang lebih mengusik adalah kesan adanya arogansi. Seolah-olah teguran dipandang sebagai penghinaan, bukan sebagai pengingat. Padahal, dalam negara hukum, tidak ada seorang pun yang semestinya merasa kebal terhadap aturan. Ironisnya, apabila seseorang berasal dar...

Ketika Posisi Duduk Menjadi Perbincangan

Belakangan ini, hal yang tampaknya sederhana justru menjadi perdebatan publik: posisi duduk dalam sebuah acara resmi. Bagi sebagian orang mungkin dianggap sepele. Namun, bagi mereka yang memahami tata protokol kenegaraan, posisi duduk bukan sekadar soal tempat, melainkan simbol penghormatan terhadap institusi dan tata kelola pemerintahan. Indonesia memiliki aturan mengenai keprotokolan, yang mengatur tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan dalam kegiatan resmi kenegaraan maupun pemerintahan. Tujuannya bukan untuk meninggikan seseorang, melainkan menjaga ketertiban, kepastian, dan penghormatan terhadap jabatan yang diemban. Bahkan di banyak kantor pemerintah, penempatan foto pimpinan negara pun diatur agar mencerminkan tata pemerintahan yang berlaku. Karena itu, ketika dalam sebuah kegiatan resmi muncul pengaturan yang berbeda dari kelaziman atau ketentuan yang selama ini dipahami, wajar jika publik bertanya. Bukan semata-mata karena posisi kursinya, melainkan karena simbol yan...

Ketika yang Gratis Kehilangan Nilainya

Ada ungkapan yang menarik untuk direnungkan: manusia sering kali tidak menghargai sesuatu yang diperoleh secara gratis. Ungkapan ini tentu tidak selalu benar, tetapi dalam banyak keadaan, ia memiliki sisi kebenaran yang patut dipikirkan. Pemberian yang dilakukan sekali sering melahirkan rasa syukur. Namun ketika pemberian itu terus-menerus hadir tanpa syarat dan tanpa batas, tidak sedikit yang perlahan menganggapnya sebagai kewajiban. Rasa terima kasih memudar, berganti dengan rasa berhak. Ketika suatu hari pemberian itu berhenti, yang muncul bukan penghargaan atas apa yang telah diterima, melainkan kekecewaan karena merasa ada hak yang dirampas. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada bantuan materi. Perhatian, kasih sayang, pengorbanan, bahkan kesetiaan dapat mengalami nasib yang sama. Sesuatu yang selalu tersedia sering dianggap biasa. Manusia kerap baru menyadari nilainya ketika kehilangan. Di sinilah paradoks muncul. Banyak orang lebih senang menerima daripada memberi. Padahal membe...

Korupsi Tidak Pernah Dimulai dari Uang, tetapi dari Rasa Tidak Pernah Cukup

Belakangan ini publik kembali dihebohkan oleh pemberitaan mengenai seorang aparatur negara yang rumahnya digeledah dan ditemukan menyimpan emas dalam jumlah yang sangat besar. Reaksi masyarakat pun hampir seragam. Banyak yang bertanya, mungkinkah kekayaan sebesar itu berasal dari gaji dan tunjangan, bahkan jika dikumpulkan selama puluhan tahun mengabdi? Namun, pertanyaan yang lebih penting sesungguhnya bukanlah berapa banyak emas yang ditemukan, melainkan dari mana semua itu berasal. Di situlah letak persoalannya. Fenomena seperti ini mengingatkan pada adegan-adegan dalam drama Tiongkok maupun Korea. Ketika seorang pejabat dicurigai, cara paling mudah untuk menguji integritasnya bukanlah langsung mencari bukti, tetapi memberinya jabatan, kewenangan, dan akses terhadap kekuasaan. Kekuasaan sering kali menjadi ujian terbesar karakter seseorang. Jabatan tidak mengubah watak, tetapi memperlihatkan watak yang sebenarnya. Korupsi pada hakikatnya bukan sekadar pelanggaran hukum. Ia adalah keg...

Korupsi dan Sunyinya Suara Hati

Setiap kali kasus korupsi terungkap, masyarakat hampir selalu bertanya tentang jumlah uang, emas, rumah, atau aset yang berhasil disita. Padahal, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa yang terjadi di dalam hati seseorang hingga ia merasa pantas mengambil sesuatu yang bukan haknya? Mungkin jawabannya berbeda-beda. Ada yang menganggap kesempatan seperti itu tidak akan datang dua kali. Ada yang merasa tidak akan pernah ketahuan. Ada yang berpikir, selama masih hidup, kenikmatan dunia lebih nyata daripada pertanggungjawaban di akhirat. Ada pula yang pandai membenarkan perbuatannya sendiri, menganggap apa yang diperoleh sebagai rezeki, bahkan merasa itu halal karena sudah menjadi kebiasaan di lingkungannya. Semua itu tentu hanya kemungkinan. Tidak seorang pun dapat memastikan apa yang ada dalam hati orang lain. Namun, satu hal yang dapat kita lihat adalah bahwa korupsi hampir selalu diawali oleh kemampuan manusia untuk membenarkan kesalahannya sendiri. Sesungguhnya, dosa tidak menjad...

Puncak yang Kembali Terlihat, Pelajaran yang Belum Tentu Terlihat

Kemarin, ketika menyusuri jalanan Puncak dan Ciloto, ada pemandangan yang terasa berbeda. Deretan bangunan yang selama bertahun-tahun memenuhi pinggir jalan kini banyak yang telah dibongkar. Untuk pertama kalinya, mata bisa lebih leluasa menikmati hamparan perbukitan dan lanskap yang selama ini tertutup bangunan. Seolah kawasan Puncak mendapatkan kembali sebagian wajah aslinya. Tentu penertiban ini memunculkan dua pandangan. Ada yang merasa sedih karena bangunan-bangunan itu menjadi sumber penghidupan masyarakat. Di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa jika bangunan tersebut memang melanggar aturan, berdiri di sempadan sungai, kawasan hijau, atau tidak memiliki izin yang sah, maka penertiban adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindari. Masalahnya, pembongkaran hanyalah langkah awal. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apakah kawasan yang sudah ditertibkan akan tetap tertib? Atau justru beberapa tahun kemudian bangunan-bangunan serupa akan tumbuh kembali? Pengalaman di banyak t...

Ketika Hasrat Mengalahkan Kesadaran

Miris.  Mungkin itu kata yang paling mudah terucap ketika melihat beredarnya video pelanggaran norma susila yang dilakukan di ruang kelas sebuah universitas. Ruang yang semestinya menjadi tempat mencari ilmu, berdiskusi, dan membangun masa depan, justru berubah menjadi panggung bagi perilaku yang mengabaikan batas kepantasan. Sebagian orang bertanya, mengapa yang melihat tidak menegur, melainkan memilih merekam dan mengunggahnya ke media sosial? Pertanyaan itu juga penting. Sebab, di era digital, rasa ingin tahu dan keinginan mendapatkan perhatian sering kali lebih besar daripada dorongan untuk mencegah atau melindungi. Ada kecenderungan menjadikan setiap peristiwa sebagai konten, bahkan ketika peristiwa itu menyangkut kehormatan dan masa depan orang lain. Namun pertanyaan yang tak kalah penting adalah, mengapa ruang kelas dipilih? Mengapa tidak di tempat yang lebih privat? Mungkin ada unsur pencarian sensasi, tantangan, atau dorongan adrenalin yang membuat sesuatu yang terlarang t...

Harga Kost dan Hukum Pasar: Catatan Kecil dari Jatinangor

Ketika mencari kos untuk anak ketiga yang akan kuliah di ITS, saya teringat pengalaman beberapa tahun lalu saat anak pertama masuk Universitas Padjadjaran di Jatinangor. Waktu itu, kos di daerah Sukawening, kenapa mencari kesini karena beberapa lokasi lainnya lumayan juga harga kostnya. Di gkpn, caringin, di ahmad syam, atau apartemen dekat polsek, lumayan harganya. Di Sukawening masih bisa diperoleh dengan harga sekitar Rp9 juta per tahun. Lokasinya pun masuk kedalam lumayan jauh. Setahun kemudian naik menjadi Rp10 juta, lalu Rp12 juta. Kini, harga yang sama sudah menyentuh Rp16 juta per tahun. Kenaikan yang cukup signifikan hanya dalam beberapa tahun. Fenomena ini mengingatkan pada teori klasik Adam Smith tentang penawaran dan permintaan. Ketika jumlah mahasiswa meningkat sementara ketersediaan kamar kos tidak bertambah secara sebanding, harga pun naik mengikuti mekanisme pasar. Dalam konteks Jatinangor, lonjakan permintaan semakin terasa sejak ITB melakukan peralihan massal Program ...

Mencari Kost di Sekitar ITS: Ketika Informasi Digital Tidak Selalu Menjawab Kenyataan

Minggu lalu saya berkeliling mencari kos di sekitar ITS. Kebetulan anak ketiga diterima disini. Awalnya, seperti kebanyakan orang tua zaman sekarang, saya mengandalkan informasi dari kakak kelas, media sosial, dan aplikasi pencari kos. Namun pada akhirnya, survei langsung ke lapangan tetap menjadi pilihan yang paling masuk akal. Ada tiga kawasan yang menjadi sasaran: Keputih, Gebang, dan Mulyosari. Ternyata, yang ditemukan di lapangan tidak selalu sama dengan yang terlihat di internet. Banyak kos yang masih penuh, terutama kos putri. Mungkin karena masa wisuda belum berlangsung sehingga penghuni lama belum keluar. Ada beberapa kamar kosong, tetapi setelah dilihat langsung, anak merasa kurang cocok. Padahal menurut saya lokasinya sangat strategis, dekat kampus dan banyak tempat makan. Namun, ternyata memilih tempat tinggal bukan hanya soal jarak dan harga, tetapi juga soal kenyamanan dan "rasa cocok" yang sulit dijelaskan dengan angka. Pengalaman ini menunjukkan bahwa mencari ...

Ketika Kuliah di Luar Negeri Lebih Murah daripada di Negeri Sendiri

Ada sebuah ironi yang patut direnungkan. Selama ini banyak orang tua Indonesia beranggapan bahwa menyekolahkan anak ke luar negeri pasti membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan kuliah di dalam negeri. Namun kenyataan yang saya temui justru sebaliknya. Berdasarkan pengalaman membiayai tiga anak yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi berbeda, biaya kuliah di beberapa kampus dalam negeri ternyata bisa lebih mahal dibandingkan kuliah di China melalui program beasiswa. Jika dihitung secara keseluruhan hingga lulus, mulai dari UKT, biaya tempat tinggal, makan, transportasi, buku, hingga kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan di kampus negeri ternama seperti Universitas Padjadjaran dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember dapat mencapai sekitar Rp300 juta atau bahkan lebih. Sementara itu, untuk kuliah di China melalui jalur beasiswa, biaya yang harus dikeluarkan sejak proses persiapan hingga keberangkatan, termasuk penggunaan jasa konsultan pendidikan, berkisar antara Rp100...

Pinjol Mudah Cair Tapi Brutal Saat Nagih, Kenapa OJK Diam?

Pinjaman online di Indonesia sekarang jadi paradoks. Saat ngajuin, prosesnya 15 menit, KTP + selfie lolos. Gak ada telepon ke kantor, gak ada verifikasi ke penjamin, gak ada cek lapangan. Tapi begitu telat bayar 3 hari, yang dihubungi bukan cuma kamu. Keluarga, teman, mantan HRD kantor, bahkan nomor yang gak pernah kamu kasih, ikut kena _blast call_ dan _chat_ sebar data. Kenapa bisa begitu? Dan kenapa OJK gak melarang? 1. Model Bisnis Pinjol: Kecepatan > Akurasi Pinjol ilegal dan banyak yang legal pun sengaja bikin proses “tanpa klarifikasi” karena itu nilai jualnya. Bank butuh 3-7 hari verifikasi, pinjol cukup 15 menit.  Logikanya gini: makin mudah cair, makin banyak yang pinjam. Bunga 0,8%-1% per hari itu keliatan kecil, tapi efektif tahunannya bisa 200-400%. Untungnya gila-gilaan, jadi mereka bisa tebalin anggaran buat _debt collector_ dan sistem sebar data. Klarifikasi ke penjamin butuh waktu dan biaya. Kalau ditelpon dulu, 70% calon debitur batal. Jadi mereka skip step itu...

Menutup Minimarket Bukan Jalan Terbaik untuk Melindungi UMKM

Ada berita yang cukup memprihatinkan ditengah kondisi ekonomi yang sedang lemah. Munculnya kebijakan penutupan gerai minimarket seperti Indomaret dan Alfamart di beberapa wilayah Indonesia timur memunculkan perdebatan yang cukup luas. Alasan yang sering dikemukakan adalah demi melindungi UMKM dan pedagang kecil agar tidak kalah bersaing. Niat ini tentu baik. Semua pihak sepakat bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi rakyat yang harus dijaga keberlangsungannya. Namun pertanyaannya, apakah menutup pelaku usaha lain adalah solusi yang tepat? Menurut saya, perlindungan terhadap UMKM tidak seharusnya diwujudkan dengan membatasi atau mematikan usaha lain yang juga dibangun oleh anak bangsa sendiri. Minimarket modern seperti Indomaret dan Alfamart bukanlah usaha yang lahir dalam semalam. Mereka tumbuh melalui proses panjang, investasi besar, pembukaan lapangan kerja, pembayaran pajak, hingga menciptakan rantai distribusi yang melibatkan banyak pelaku usaha lokal. Di balik satu gerai minima...

Kata perpisahanku

  ​Sambutan Perpisahan Purnabakti ​ Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi/siang, dan salam sejahtera untuk kita semua. ​Yang saya hormati Bapak Kepala Kantor, para Kepala Seksi, rekan-rekan Pejabat Fungsional (Jafung), serta seluruh rekan-rekan kerja yang saya banggakan dan saya cintai. ​Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas waktu dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan sepatah dua patah kata di forum yang penuh kehangatan ini. ​Seuntai Kisah Nostalgia: Dari Manokwari hingga Ibu Kota ​Berdiri di sini, izinkan saya membawa Bapak, Ibu, dan rekan-rekan sekalian kembali sejenak ke masa lalu, sekadar untuk bernostalgia tentang bagaimana perjalanan ini bermula. ​Perjalanan saya di DJPb ini dimulai pada Desember 1997 , saat pertama kali ditempatkan di Manokwari . Saya masih ingat betul momen pembagian SK di lantai 2 Gedung Prijadi. Di sana, ada Mbak Win, Mbak Elin, dan Mbak Khodijah yang bersama-sama dengan sa...

Hadiah dari teman

  Hadiah ini mungkin salah satu yang tak ternilai... Sebuah kenangan yang akan selalu diingat.. Terimakasih atas hadiah ini...  Teruntuk Pak Agus, Selamat atas kelulusannya Bapak bahkan lulus dengan akselerasi Walaupun kami masih bertanya-tanya Kenapa harus berpisah secepat ini?! Tapi kami harus menyadari Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan Bukankah awal hidup kita ini sendiri Adalah hasil sebuah pilihan Selamat menjalani masa purnabakti Menjalani hari berikutnya yang dinanti Pekerjaan kantor sudah tunai dijalani Tugas lain dengan leluasa bisa ditapaki Sehat selalu ya Bahagia selalu Gerbang kantor selalu terbuka Apalagi kalau Bapak membawa pizza Terimakasih kami haturkan Atas segala inspirasi Mengajarkan kami tentang level tertinggi dari kesabaran Maafkan segala tingkah kami yang selalu merepoti Dari Manokwari ke Kota Hujan Membeli talas Bogor dan koteka Sejauh apapun sebuah perjalanan Keluarga adalah pilihan yang utama

HARI YANG DIPERCEPAT

  Hadiah dari teman seangkatan..yang akan selalu awet dan menjadi kenangan tak terlupa. Bogor, 22 Mei 2026, dari : BO97 Siti, Winarsih, Elin) Hari ini memang disengaja Hari ini hanyalah moment yang tertunda Hari yang tertunda untuk sekian kalinya Purbabakti sebelum umurnya Pendi, berulang diajukan  Sampai tiba saat dikabulkan Sampai Hari ini tiba, mungkin terasa berat Berpisah dengan banyak sahabat Namun hari ini juga ringan, karena sejak lama diinginkan Mas, kita sempat bicara tentang pensiun bersama Tapi ternyata mendahului 7 tahun sebelumnya Mas,  kita sempat start di SK CPNS yang sama Tapi ternyata SK pensiunnya di tahun yang berbeda Mas tahu, pensiun kamipun belum tentu 7 tahun lagi Entah kisah apa yang akan kami lalui Namun kapanpun  moment itu tiba Semoga langkah kami ringan dan suka cita Tidak ada yang bisa kami berikan Hanya doa yang bisa kami panjatkan Semoga apapun yang direncanakan Berjalan sesuai ingin dan diberi ringan Terlalu banyak yang Mas tinggalkan...

Tiga Hal yang Harus Dijaga: Pekerjaan, Pengetahuan, dan Kehormatan

Dalam hidup, tidak semua hal dapat kita kuasai. Rezeki bisa naik turun, kesempatan bisa datang dan pergi, dan keadaan dapat berubah sewaktu-waktu. Namun ada tiga hal mendasar yang seharusnya selalu kita jaga: pekerjaan, pengetahuan, dan kehormatan. Ketiganya adalah fondasi yang menentukan kualitas hidup seseorang, baik di mata masyarakat maupun di hadapan dirinya sendiri. Pertama, pekerjaan atau usaha, sekecil apa pun bentuknya, harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Tidak ada pekerjaan yang hina selama dilakukan dengan cara yang benar. Justru dari pekerjaan itulah seseorang belajar mandiri, bertanggung jawab, dan menjaga martabatnya. Orang yang terbiasa bekerja keras akan lebih tenang menjalani hidup karena tidak menggantungkan dirinya pada belas kasihan orang lain. Kemandirian bukan hanya soal uang, tetapi juga soal harga diri. Kedua, pengetahuan harus terus ditambah. Dunia tidak pernah berhenti berubah. Orang yang berhenti belajar lambat laun akan tertinggal. Ilmu tidak selalu har...

Tiga Puluh Tahun Menjadi ASN: Menyusuri Negeri, Menyusuri Diri

Akhirnya, satu babak panjang dalam hidup telah sampai di penghujungnya. Lebih dari tiga puluh tahun mengabdi sebagai Aparatur Sipil Negara—sebuah perjalanan yang, jika dipikir-pikir, hampir menyamai usia generasi yang kini tumbuh dewasa. Tiga dekade bukan waktu yang singkat. Ia bukan sekadar hitungan masa kerja, melainkan kumpulan jejak, kenangan, tantangan, dan pelajaran hidup yang membentuk cara pandang terhadap negeri ini. Menjadi ASN ternyata bukan hanya soal pekerjaan administratif, tetapi juga tentang menjalani takdir untuk mengenal Indonesia dari dekat—bukan dari peta, melainkan dari denyut kehidupan masyarakatnya. Langkah pertama dimulai di Manokwari, tanah yang kala itu masih berada dalam suasana DOM. Sebagai pegawai muda, tugas negara terasa begitu nyata. Situasi keamanan belum sepenuhnya kondusif, dan ketegangan menjadi bagian dari keseharian. Ketika gelombang reformasi 1998 melanda, pengalaman yang terjadi begitu membekas. Gedung DPRD di sebelah kantor terbakar, kaca-kaca k...