Postingan

Menampilkan postingan dari 2025

Tahun Baru dan Keberanian untuk Tidak Mengulang Kesalahan

 Tahun baru sering dirayakan dengan kembang api dan resolusi singkat, namun maknanya yang paling dalam justru terletak pada refleksi. Ia memberi jeda bagi kita untuk jujur pada diri sendiri: mengakui kekeliruan yang pernah dilakukan dan berjanji—bukan sekadar berharap—untuk tidak mengulanginya di masa depan. Refleksi bukan tentang menyalahkan masa lalu, melainkan bertanggung jawab atasnya. Kesalahan yang tidak direfleksikan akan kembali terulang dengan wajah yang sama, hanya dengan alasan yang berbeda. Karena itu, niat untuk berubah harus lebih dari sekadar kata-kata. Ia harus hadir dalam pilihan-pilihan kecil sehari-hari: cara kita bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang yang kita cintai. Di sisi lain, kebaikan yang pernah dilakukan tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan. Ia perlu ditingkatkan. Kebaikan yang dirawat akan menjadi karakter, bukan sekadar momen. Dalam relasi, kebaikan kecil yang konsisten jauh lebih berharga daripada janji besar yang jarang ditepati. Opini i...

Masihkah Layak Mengharapkan Kesetiaan Setelah Merusak Diri Sendiri?

 Pertanyaan ini terdengar kejam, tetapi jujur: apakah pria atau wanita yang dengan sadar merusak dirinya—melalui perselingkuhan, pengkhianatan, dan pengabaian komitmen—masih berhak mengharapkan pasangan yang baik dan setia? Secara moral, pertanyaan ini sering membuat orang tidak nyaman. Namun justru di situlah refleksi perlu dimulai. Secara prinsip, setiap manusia memang berhak atas kebaikan. Tetapi hak tidak selalu identik dengan kelayakan. Kesetiaan bukan hadiah gratis, melainkan hasil dari karakter, pilihan, dan tanggung jawab. Ketika seseorang dengan sengaja melanggar komitmen, ia sedang mengirim pesan tentang siapa dirinya dan bagaimana ia memperlakukan cinta. Luka yang ia tinggalkan bukan hanya pada pasangan, tetapi juga pada integritas dirinya sendiri. Ketidakwajaran muncul ketika seseorang mengkhianati, tetapi tetap menuntut pasangan yang setia, jujur, dan penuh pengertian. Ia menginginkan hasil yang tidak ia tanam. Ia berharap mendapatkan cinta yang utuh, padahal ia sendir...

Kejujuran, Integritas, dan Hilangnya Rasa Takut pada Tuhan

 Kepercayaan dalam hubungan tidak pernah dibangun dari janji manis atau perasaan semata. Ia lahir dari kejujuran yang konsisten—kejujuran dalam hal kecil maupun besar. Ketika kejujuran bukan lagi sekadar sikap, melainkan telah menjadi identitas, di situlah integritas terbentuk. Integritas membuat seseorang tetap lurus meski tidak diawasi, tetap setia meski memiliki banyak kesempatan untuk menyimpang. Masalah dimulai ketika kejujuran mulai dinegosiasikan. Kebohongan kecil dianggap wajar, rahasia disimpan atas nama “tidak ingin menyakiti”, dan pelanggaran diberi pembenaran situasional. Pada titik itu, integritas perlahan ditinggalkan. Bukan karena tidak tahu mana yang benar, tetapi karena memilih yang mudah. Ketika integritas runtuh, sesungguhnya yang pertama kali dilupakan bukan pasangan, melainkan Tuhan. Rasa takut berbuat salah lenyap karena kesadaran bahwa ada Yang Maha Melihat sudah tidak lagi hidup di hati. Tanpa kesadaran spiritual, batas moral menjadi cair—semua bisa dinegosi...

Tidak Semua yang Hilang Perlu Direbut Kembali

 Ketika pasangan berselingkuh, dorongan paling manusiawi adalah berjuang merebutnya kembali—demi cinta, demi kenangan, demi anak-anak, atau demi rasa takut kehilangan. Namun ada kebenaran pahit yang jarang diucapkan: apa yang kembali setelah pengkhianatan tidak pernah sama seperti sebelumnya. Cinta yang direbut kembali sering datang dalam keadaan cacat. Ia dipenuhi kecurigaan, ingatan yang tidak bisa dihapus, dan luka yang muncul setiap kali keintiman dicoba ulang. Yang tersisa bukan rasa aman, melainkan kewaspadaan. Bukan ketenangan, melainkan usaha keras untuk meyakinkan diri bahwa segalanya baik-baik saja. Opini ini bukan ajakan untuk menyerah, melainkan ajakan untuk jujur. Ketika seseorang memilih pergi secara emosional dan fisik, ia telah membawa serta sebagian dari rasa yang dulu utuh. Merebutnya kembali hanya memulangkan tubuhnya, bukan kepercayaannya. Dan tanpa kepercayaan, hubungan berubah menjadi pengawasan, bukan kebersamaan. Sering kali, usaha “mempertahankan” justru me...

Mengecilkan Hati agar Cinta Tetap Setia

 Setelah menikah, cinta tidak lagi tentang seberapa luas hati mampu menampung banyak rasa, melainkan seberapa bijak hati dijaga agar tidak mudah diisi oleh yang lain. Ada kebijaksanaan dalam “mengecilkan hati”—bukan menjadi sempit dalam kasih, tetapi membatasi arah cinta agar tidak tercecer dan salah tempat. Ketika hati sudah penuh oleh pasangan, ruang untuk rasa lain seharusnya memang ditutup. Di era yang merayakan kebebasan emosi dan kedekatan tanpa batas, kesetiaan sering dianggap sebagai keterbatasan. Padahal, justru dengan membatasi diri, cinta menemukan kedalamannya. Hati yang terlalu luas sering kali tidak sadar menerima benih rasa dari luar, hingga tanpa disadari, cinta terbagi dan komitmen tergerus. Metafora burung camar mengajarkan kesetiaan yang sunyi namun kuat. Ia tidak mencari pasangan baru ketika terbang jauh; ia kembali pada satu muara yang sama. Kesetiaan seperti ini bukan karena kurang pilihan, melainkan karena kesadaran bahwa pulang pada yang satu adalah makna. O...

Cinta yang Luas dan Cinta yang Dalam

Cinta dalam relasi pasangan tidak selalu memiliki bentuk yang sama. Ada cinta yang luas, mengalir ke banyak arah, mudah dibagi kepada banyak orang, dan tetap terasa cukup. Namun ada pula cinta yang tidak luas, tetapi dalam—seperti sungai kecil yang mengalir tenang namun memiliki kedalaman yang nyata. Seluruh alirannya tertuju pada satu pasangan, tanpa keinginan untuk berbagi, karena pembagian justru akan mengikis maknanya. Di tengah budaya yang sering menormalisasi kedekatan emosional dengan banyak pihak, cinta yang memilih setia secara eksklusif kerap dianggap berlebihan, posesif, atau tidak realistis. Padahal bagi sebagian orang, kesetiaan total bukan keterbatasan, melainkan karakter. Mereka mengenal kapasitas batin mereka sendiri. Mereka tahu bahwa cintanya tidak dirancang untuk terbagi, karena ketika terbagi, kedalaman itu berubah menjadi permukaan yang dangkal. Cinta yang dalam menuntut fokus dan tanggung jawab. Ia tidak mencari sensasi di luar, tidak tergoda oleh perhatian tambah...

Berbeda bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipahami

Ucapan Selamat Natal bagi penganutnya bukan sekadar formalitas, tetapi wujud kedewasaan sosial dan kematangan nurani. Di tengah masyarakat yang majemuk, damai tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kesediaan untuk saling menghormati. Perbedaan keyakinan, budaya, dan cara beribadah adalah fakta kehidupan, bukan ancaman yang harus ditakuti atau ditonjolkan secara berlebihan. Sering kali, perbedaan justru “ditunjukkan” dengan nada curiga, merasa paling benar, atau menjaga jarak seolah toleransi bisa menggerus iman. Padahal, keyakinan yang kokoh tidak runtuh hanya karena menghargai orang lain. Menghormati perayaan agama lain bukan berarti ikut meyakini ajarannya, melainkan mengakui hak sesama manusia untuk merayakan imannya dengan damai. Natal, seperti hari besar keagamaan lainnya, membawa pesan universal tentang cinta kasih, pengharapan, dan perdamaian. Nilai-nilai ini sejatinya melintasi sekat agama. Ketika kita mengucapkan selamat dengan tulus, kita sedang menanam benih persaudara...

Ketika Mahkota Keintiman Ternoda

 Keintiman suami dan istri adalah wilayah paling sakral dalam sebuah pernikahan. Ia bukan sekadar hubungan fisik, melainkan ruang kepercayaan tertinggi—tempat tubuh, jiwa, dan martabat diserahkan sepenuhnya hanya kepada satu orang yang sah. Karena itulah, keintiman ibarat mahkota: dijaga, dihormati, dan tidak dipertontonkan pada siapa pun selain pasangan. Ketika mahkota itu diberikan kepada orang lain, yang rusak bukan hanya kesetiaan, tetapi makna terdalam dari kebersamaan. Pengkhianatan membuat tubuh pasangan tak lagi dipandang sebagai rumah, melainkan medan ingatan yang menyakitkan. Bukan karena jijik, melainkan karena luka batin yang terlalu dalam untuk diabaikan. Bagi yang dikhianati, sentuhan tidak lagi netral. Pelukan tidak lagi sederhana. Ada bayangan yang menyusup tanpa izin—bayangan bahwa keintiman yang dulu eksklusif kini telah dibagi. Pertanyaan pahit muncul bukan karena ingin membandingkan, tetapi karena harga diri telah tercabik: apakah aku masih satu-satunya? Di sini...

Ketika Topeng Agamis dan Kemapanan Menjadi Godaan dan Tantangan

Ada ironi yang jarang dibicarakan dengan jujur: ketika pria atau wanita tampil dengan outfit yang agamis, berwajah rupawan, berpenampilan santun, ditambah kemapanan materi, godaan justru menjadi lebih kuat. Bukan hanya bagi mereka yang masih jomblo, tetapi juga bagi yang sudah terikat pernikahan. Sosok seperti ini kerap dipersepsikan “aman”, “bernilai”, dan “layak didekati”. Di situlah jebakannya bermula. Penampilan agamis sering kali menciptakan ilusi moral. Seolah-olah kesalehan yang terlihat di luar menjamin kesucian niat di dalam. Padahal, manusia tetap manusia—punya nafsu, ambisi, dan keinginan untuk diakui. Ketika paras menarik bertemu simbol religius dan kemapanan, daya tariknya berlipat ganda. Ia bukan sekadar menggoda, tetapi menantang untuk ditaklukkan. Bagi sebagian orang, mendekati sosok seperti ini bukan lagi soal cinta, melainkan prestise emosional. Ada kepuasan tersendiri ketika berhasil “mendapatkan” seseorang yang terlihat religius, mapan, dan terhormat. Seolah-olah it...

Selamat Hari Ibu: Tentang Perempuan yang Sering Dilupakan Bebannya

 Selamat Hari Ibu, kepada perempuan yang dengannya seorang pria memperoleh status suami, dan darinya pula seorang pria dipanggil ayah atau bapak. Status yang tampak sederhana, tetapi lahir dari pengorbanan panjang yang tidak pernah ringan. Perempuan adalah satu-satunya manusia yang mengandung kehidupan di dalam tubuhnya, merasakan nyeri yang tidak bisa diwakilkan, dan menyusui dengan tubuhnya sendiri. Ia rela bentuk tubuhnya berubah, tidurnya terpotong, emosinya diuji, dan mimpinya ditunda—semata demi keluarga yang ia bangun bersama. Ironisnya, justru di tengah pengorbanan itulah perempuan sering kehilangan penghargaan. Ketika lelahnya dianggap biasa, ketika pengorbanannya dianggap kewajiban, dan ketika kehadirannya tidak lagi dipandang sebagai anugerah, sebagian pria mulai lupa. Lupa betapa berat beban seorang istri dan ibu. Lupa bahwa cinta yang tenang bukan berarti cinta yang mati. Di titik lupa itu, sebagian pria melirik perempuan lain. Mencari sensasi baru, perhatian segar, at...

Ketika Cinta Tak Pernah Kembali Utuh Setelah Pengkhianatan

Bagi pria atau wanita yang pernah diselingkuhi, hidup tidak pernah benar-benar kembali ke titik semula. Pengkhianatan bukan sekadar pelanggaran janji, tetapi perusakan terhadap rasa aman yang paling dasar. Setelah itu, yang tersisa hanyalah dua pilihan pahit: bertahan atau berpisah—keduanya sama-sama menyakitkan. Berpisah sering dipilih bukan karena kurangnya cinta, melainkan karena cinta itu sendiri telah berubah bentuk. Ia tidak lagi utuh. Setiap kedekatan memunculkan bayangan orang lain. Setiap sentuhan mengingatkan bahwa tubuh yang sama pernah menjadi ruang bagi pengkhianatan. Ada rasa jijik, mual, dan penolakan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Tubuh menolak, meski hati masih mencoba memahami. Bagi mereka yang memilih bertahan, keputusan itu jarang lahir dari keikhlasan penuh. Lebih sering karena anak-anak, tanggung jawab, atau ketakutan akan kehancuran yang lebih besar. Mereka berusaha memaafkan, mencoba membangun ulang, bahkan meyakinkan diri bahwa waktu akan menyembuhka...

Ketika Pengakuan Lebih Mahal dari Kesetiaan

Perselingkuhan sering kali tidak lahir dari kebencian terhadap pasangan, melainkan dari kehampaan yang dibiarkan tumbuh dalam diam. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna—keluarga utuh, ekonomi stabil, dan citra harmonis di media sosial—bisa tersembunyi jiwa yang lapar akan pengakuan. Bukan pengakuan besar, melainkan hal-hal sederhana: pujian, perhatian, dan rasa diinginkan. Rutinitas pernikahan yang stabil kerap disalahartikan sebagai kebosanan. Kesetiaan yang konsisten dianggap datar. Cinta yang bekerja dalam bentuk tanggung jawab dan kehadiran sehari-hari terasa kalah menarik dibanding gombalan instan yang penuh sensasi. Di titik inilah seseorang bisa keliru membedakan antara api sejati dan kembang api—yang satu menghangatkan dalam diam, yang lain memukau sesaat lalu lenyap. Perselingkuhan menjadi candu karena ia memberi validasi cepat. Ia membuat seseorang merasa kembali “hidup”, “diinginkan”, dan “spesial”. Padahal, yang sebenarnya dicari bukanlah orang lain, melainkan perasaa...

Rasa yang Pernah Dicicipi, Godaan yang Terulang

Ketika seorang pria atau wanita pernah merasakan “rasa lain” di luar suami atau istrinya sendiri, sering kali batas itu tidak berhenti pada satu kejadian. Rasa yang awalnya disebut khilaf berubah menjadi penasaran. Penasaran yang semula kecil berkembang menjadi keinginan untuk mengulang. Dari sinilah lingkaran itu dimulai. Manusia pada dasarnya makhluk pencari sensasi. Sesuatu yang baru, terlarang, dan berbeda memicu adrenalin. Hubungan di luar pernikahan sering kali bukan tentang cinta, melainkan tentang sensasi: degup jantung yang lebih cepat, rasa diinginkan kembali, dan ilusi bahwa diri ini masih istimewa. Ketika sensasi itu pernah dirasakan, otak menyimpannya sebagai pengalaman yang “menyenangkan”, meski dibungkus rasa bersalah. Lama-kelamaan, yang dicari bukan lagi orangnya, tetapi tantangannya. Menaklukkan. Membuktikan bahwa diri masih menarik. Bahwa masih bisa membuat orang lain jatuh. Di titik ini, pasangan sah sering kali hanya menjadi latar, bukan lagi pusat perhatian emos...

Ketika agama adalah abstrak, amal menjadi bukti nyata

Agama pada hakikatnya bersifat abstrak. Ia hidup dalam keyakinan, tertanam di hati, dan diyakini sebagai kebenaran oleh pemeluknya. Karena itu, wajar jika setiap orang beragama bersikap fanatik dalam arti meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar. Keyakinan ini bukan untuk diperdebatkan atau diseragamkan, melainkan untuk dipegang teguh sebagai dasar iman. Tidak perlu mengatakan semua agama benar, karena iman justru menuntut kepastian, bukan keraguan. Namun, ketika agama berhenti hanya sebagai konsep dan slogan, ia kehilangan maknanya. Agama yang hanya ada di mulut, tanpa jejak dalam perilaku, akan menjadi hampa. Di sinilah amal mengambil peran penting sebagai wujud nyata dari keyakinan yang abstrak. Amal adalah bahasa yang bisa dibaca oleh siapa pun, lintas keyakinan dan latar belakang. Ia menjadi bukti bahwa sujud kepada Tuhan tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma dalam kejujuran, kepedulian, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Agama tidak seharusnya dicampuradukkan secara...

Stasiun Cianjur

Gambar
  Stasiun Cianjur memiliki potensi besar sebagai simpul transportasi alternatif yang strategis. Kehadirannya membuka pilihan perjalanan dari Cianjur ke Jakarta melalui Sukabumi, maupun ke Bandung melalui Cipatat. Meski jaraknya masih terasa jauh dan waktu tempuh belum seefisien jalur darat tertentu, keberadaan jalur kereta ini sudah menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi atau bus. Saat ini, jumlah perjalanan kereta yang masih terbatas—baru tiga kali perjalanan—dengan nama "kereta Siliwangi", menjadi tantangan tersendiri. Namun justru di situlah harapan muncul. Jika ke depan frekuensi perjalanan ditambah dan konektivitas diperbaiki, Stasiun Cianjur dapat berkembang menjadi tulang punggung mobilitas warga, baik untuk kebutuhan kerja, pendidikan, maupun wisata. Lebih dari sekadar angkutan penumpang, jalur kereta ini juga berpotensi besar sebagai jalur distribusi barang. Biaya yang relatif lebih murah, kapasitas angkut yang besar, ...

Alun-alun Cianjur

Gambar
  Alun-Alun Cianjur adalah contoh ruang publik yang berhasil menjadi oase di tengah kota. Letaknya yang tidak berada di jalan utama membuat suasananya terasa lebih teduh dan nyaman, jauh dari hiruk pikuk kendaraan besar yang biasanya identik dengan pusat kota. Justru karena “tersembunyi”, tempat ini memberi pengalaman berbeda: tenang saat ingin duduk santai, namun tetap hidup ketika ramai pengunjung. Begitu masuk akan disambut asmaul husna yang menjadi hiasan jalan menyusuri Alun-alun melalui jalan di tengah Alun-Alun.  Menariknya, meski lokasinya tidak di jalur utama, Alun-Alun Cianjur selalu ramai. Kehadiran berbagai mainan anak membuat tempat ini ramah keluarga, sementara banyaknya spot foto menjadikannya magnet bagi anak muda dan pengunjung yang gemar mengabadikan momen. Ini menunjukkan bahwa ruang publik tidak harus megah atau berada di pusat lalu lintas untuk menjadi favorit warga. Kedekatannya dengan Pendopo Cianjur dan Masjid Agung Cianjur juga menambah nilai strateg...

Ketika Selingkuh Dianggap Nyata, Tapi Dosa dan Kebohongan Dianggap Abstrak

Selingkuh itu nyata. Ada pertemuan, ada pesan tersembunyi, ada sentuhan, ada waktu yang dicuri. Tidak seperti dosa atau kebohongan yang sifatnya abstrak, perselingkuhan memiliki bentuk fisik yang jelas. Ia bisa dilihat, bisa ditangkap, bisa dibuktikan. Namun ironisnya, banyak orang berani melakukannya justru karena fondasi yang melandasinya—dosa dan kebohongan—dipandang sebagai sesuatu yang tidak terlihat, tidak terasa, dan bisa “diatur” belakangan. Ketika seseorang menganggap dosa hanya sebagai konsep, bukan konsekuensi, ia berhenti merasa takut. Ketika kebohongan dianggap ringan, ia tidak canggung lagi menyusun alasan. Dan ketika dua hal itu dibiarkan, perselingkuhan pun menjadi tindakan yang “masuk akal” bagi mereka yang sedang kehilangan kendali dirinya. Padahal selingkuh bukan hanya persoalan tubuh atau waktu, tetapi pengkhianatan terhadap kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun. Perselingkuhan memerlukan dua hal yang sama-sama merusak: kebohongan yang dirawat dan moral yang dire...

Ketika Kebohongan Terasa Abstrak, Tapi Dampaknya Sangat Nyata

Kebohongan, sama seperti dosa, adalah sesuatu yang abstrak. Tidak ada bentuk fisik, tidak ada warna, tidak ada jalan setapak yang menunjuk bahwa seseorang sedang berbohong. Mungkin karena sifatnya yang tak berwujud itulah manusia sering merasa mudah melakukannya. Tinggal mengubah sedikit kata, menyembunyikan sebagian fakta, atau menambah bumbu pada cerita—selesai. Namun menariknya, meski kebohongan itu abstrak, reaksi tubuh terhadapnya sangat nyata . Hampir semua orang pernah merasakan deg-degan ketika berbohong: napas menjadi pendek, tangan sedikit berkeringat, suara tidak stabil, pikiran panik jika ketahuan. Bahkan setelah kebohongan terucap, muncul ketegangan baru: bagaimana menjaga agar kebohongan itu tidak terbongkar? Satu kebohongan sering memerlukan kebohongan lain untuk menutupi yang pertama. Lama-lama seseorang bukan hanya menipu orang lain, tetapi juga membohongi dirinya sendiri . Ia mulai hidup dalam cerita yang ia ciptakan sendiri, bukan realita. Yang ironis adalah: seb...

Ketika dosa adalah abstrak dan tidak terasa

 Dosa, dalam banyak tradisi moral dan agama, sering digambarkan sebagai sesuatu yang abstrak. Ia tidak memiliki bentuk, tidak berwujud, tidak bisa disentuh—hanya diyakini melalui ajaran dan konsekuensi yang dijanjikan. Ketika sesuatu bersifat abstrak, manusia cenderung meremehkannya. Inilah celah psikologis yang membuat sebagian orang merasa aman untuk berbuat salah. Bagi sebagian orang, dosa tidak lebih dari konsep teoretis: tidak ada suara yang langsung menegur, tidak ada cahaya merah yang berkedip, tidak ada tangan yang menahan ketika mereka ingin melenceng. Mereka berpikir, “Toh nanti bisa tobat. Neraka juga belum tentu nyata. Selama di dunia tidak ketahuan, semuanya aman.” Maka lahirlah perilaku yang penuh kepura-puraan—memakai pakaian kesalehan di depan publik, sementara di balik layar melakukan sesuatu yang berlawanan sepenuhnya. Padahal akar masalahnya bukan pada “dosa” itu sendiri, tetapi pada cara manusia memandang konsekuensi. Hukuman akhirat dianggap jauh, tidak terliha...

Ketika Indonesia adalah Keluarga

Ketika kita menyebut diri sebagai bangsa Indonesia, itu bukan sekadar identitas di KTP. Itu adalah ikatan keluarga. Dan dalam keluarga, ketika ada yang tertimpa bencana—di Sumbar, Sumut, Aceh, atau di mana pun—kita tidak menanyakan apa agamanya, apa sukunya, atau dari kelompok mana dia berasal. Kita hanya tahu satu hal: itu saudara kita, dan tugas kita adalah membantu. Musibah tidak memilih korban. Karena itu, bantuan pun tidak boleh memilih penerima. Kemanusiaan harus lebih cepat bergerak daripada prasangka, dan empati harus lebih besar daripada sekat-sekat sosial yang sering kita ciptakan sendiri. Bantulah sebisanya, semampunya, dari tenaga, harta, hingga doa. Tidak ada yang terlalu kecil jika dilakukan dengan ketulusan. Di saat seperti ini, pemerintah memiliki mandat moral dan konstitusional untuk menggerakkan seluruh jalur yang dimiliki—logistik, kesehatan, keamanan, dan anggaran—untuk memastikan bahwa setiap korban mendapatkan pertolongan tanpa diskriminasi. Negara harus hadir sec...

Banjir Besar dan Luka Lama yang Tak Pernah Sembuh

Banjir besar yang melanda Sumbar, Sumut, dan Aceh bukan semata musibah alam. Ini adalah cermin besar yang memantulkan luka lama bangsa: pembalakan liar, lemahnya pengawasan, dan rantai kepentingan yang tak kunjung putus. Ketika hutan ditebang tanpa kendali, bukit dibuka tanpa etika, dan sungai dipersempit oleh kerakusan, maka air hanya tinggal menagih haknya untuk mengalir bebas — dan sering kali menabrak kehidupan manusia. Ilegal logging bukan isu baru. Sejak awal 2000-an dunia sudah berteriak, satgas sudah dibentuk sejak 2005, regulasi diperketat, dan kampanye digalakkan. Namun selama uang dapat membeli pengaruh, selama ada yang menutup mata demi keuntungan sesaat, pemberantasan kerusakan hutan tetap menjadi pekerjaan yang luas dan rumit. Kita tahu akar masalahnya, tetapi akar itu justru dipelihara oleh banyak tangan. Jika kerusakan ini tidak ditangani dengan ketegasan dan transparansi, bencana yang lebih besar hanya tinggal menunggu waktu. Hutan yang hilang tidak akan kembali dala...

Tiji tibeh, tiji tibo

Dalam rumah tangga, kejujuran bukan pelengkap—itu syarat sah moral di hadapan Allah. Ketika suami menikah siri tanpa izin istri pertama, hanya beralasan “sudah proses berpisah” pada calon yang akan menjadi istri barunya, itu bukan kelonggaran tetapi kelicikan. Dan ketika perempuan kedua menerima tanpa memeriksa kebenaran statusnya, itu bukan ketidaktahuan tetapi kelalaian. Kelalaian yang harus dibayar mahal.  Maka tak heran, ketika istri pertama akhirnya memilih prinsip “tiji tibeh, tiji tibo”—satu jatuh, yang lain ikut roboh—itu bukan karena ia cemburu atau emosional. Itu karena kehormatannya dicurangi, haknya diinjak, dan akad baru dibangun di atas dusta. Dan ketika ia akhirnya melaporkan suami serta istri kedua ke polisi, banyak yang menuduhnya berlebihan. Padahal itu bukan balas dendam, tetapi perlindungan diri. Dalam hukum negara, memalsukan status menikah adalah pelanggaran. Dalam syariat, poligami tanpa keadilan adalah kedzaliman. Dalam akhlak, dusta adalah pintu kehancuran....

Ketika Ilmu Agama Tidak Menjamin Akhlak

Ada hal-hal dalam hidup yang sulit dinalar, sekalipun kita berusaha mencarinya dengan sabar. Salah satunya adalah ketika seseorang yang tampak agamis—lulusan pesantren, paham aturan syariat, dan tampil dengan simbol-simbol keislaman—justru memilih berselingkuh dan meninggalkan anak-anaknya. Bahkan ada yang rela pergi ketika di rumah masih ada bayi yang membutuhkan ASI. Pada titik seperti ini, agama tidak lagi tampak sebagai cahaya yang menuntun, melainkan hanya menjadi atribut identitas yang dipakai untuk tampil baik di mata publik. Kita sering lupa bahwa pemahaman agama tidak selalu sejalan dengan kualitas akhlak . Ilmu bisa diajarkan, hafalan bisa dilatih, penampilan bisa dibuat sedemikian rupa agar tampak saleh. Namun akhlak bukan sekadar apa yang diketahui seseorang, melainkan apa yang ia lakukan ketika tidak ada yang melihat. Sering kali akhlak justru teruji ketika godaan datang dalam bentuk yang paling menggoda dan paling personal. Maka ketika seseorang yang seharusnya memaham...

Saat Tiba Waktunya Mengakhiri Perjalanan Panjang

Tidak ada keputusan besar yang lahir dalam semalam, apalagi keputusan mengakhiri perjalanan kerja yang telah ditempuh selama 28 tahun. Selama hampir tiga dekade itu, saya tumbuh bersama kemenkeu, menyaksikan perubahan demi perubahan, mengenal begitu banyak orang baik, dan belajar lebih dari yang pernah saya bayangkan. Karena itu, langkah untuk mengajukan pendi bukanlah keputusan yang ringan. Pertama kali dinas ke Manokwari tahun 1997 sampai tahun 2000, sekitar 3 tahun disana Kedua ke Kota Bogor, tahun 2001 s. d. 2006, hampir 6 tahun.  Ketiga Pekanbaru, tahun 2006 s. d. 2007, hanya setahun.  Keempat Jakarta, Jakarta 1, tahun 2007 s. d 2011, hampir 4 tahun Kelima Jakarta, Pusat, tahun 2011 s. d. 2014 hampir 4 tahun Ke-enam Bogor, periode kedua, tahun 2014 s. d. 2025, hampir 11 tahun.  Banyak pelajaran yang diambil, belajar banyak di DJPb.  Pendi ini sudah melalui berbagai pertimbangan.  Saya sudah menimbang dari berbagai sisi—fisik, mental, keluarga, hingga masa ...

Selingkuh Itu Bukan Karena Cinta Datang Lagi—Tapi Karena Iman dan Kejujuran Pergi Lebih Dulu

Fenomena selingkuh hari ini makin sering kita dengar, seolah menjadi hal biasa. Padahal jika hati jujur, semua orang tahu: tidak ada yang “biasa” dari menghancurkan kepercayaan orang yang mencintai kita. Secara agama, pintu keluarnya jelas: Jika sudah tidak cocok, tidak cinta, tidak sanggup hidup bersama, Allah membuka jalan perpisahan secara baik-baik . Halal, meski dibenci, tapi tetap jalan yang jujur. Namun apa yang terjadi hari ini? Banyak laki-laki ingin poligami, tapi takut jujur. Banyak perempuan ingin merasakan cinta lain, tapi takut melepaskan kenyamanan yang sudah ada. Semua mau menambah , tapi tidak mau menyelesaikan yang lama . Akhirnya dipilihlah selingkuh—jalan yang paling mudah, paling cepat, dan paling manipulatif. Laki-laki berbohong: “Mantan istri saya sudah tidak ada rasa.” “Saya ini duda, rumah tangga sudah selesai.” “Dia hanya ibu dari anak-anak saya.” Perempuan juga kadang terjebak oleh rayuan: “Kasihan dia, istrinya tidak perhatian.” “Dia bilang se...

Mengapa Banyak Perempuan Baik, Gampang Diperdaya Pria yang Mengaku Duda dan Kaya?

Fenomena ini bukan soal kelemahan perempuan, tetapi soal kerentanan emosional yang sering kali dimanfaatkan oleh laki-laki yang tidak beretiket dan tidak bermoral. Banyak perempuan yang sudah pernah menikah atau pernah disakiti memiliki kebutuhan mendalam untuk menemukan hubungan yang lebih aman, dewasa, dan stabil. Ketika datang seorang laki-laki yang mengaku “sudah pisah dengan istri”, “hanya tinggal menunggu proses”, atau “hidupnya sudah tidak bahagia”, maka itu terdengar seperti peluang baru untuk membangun hidup yang lebih baik. Sayangnya, beberapa pria memanfaatkan celah ini. Celah yang paling mudah untuk masuk ke dalam sebuah hubungan.  Pertama, perempuan yang pernah berumah tangga biasanya punya harapan bahwa pasangan berikutnya lebih matang dan tidak membuat kesalahan yang sama. Ketika seorang pria tampil sebagai “duda”, mereka terlihat dewasa, realistis, dan penuh tanggung jawab—meski belum tentu benar. Kedua, kesepian adalah ruang kosong yang mudah dimasuki tipu daya. Se...

Ketika Seorang Ibu Lupa Menjadi Ibu

Ada sesuatu yang sangat tragis ketika seorang ibu—yang memiliki anak balita, bahkan masih membutuhkan ASI—memilih meninggalkan rumah demi selingkuhan. Ini bukan sekadar perselingkuhan biasa; ini adalah sebuah tindakan yang memutus ikatan paling dasar antara ibu dan anak: ikatan darah, batin, dan tanggung jawab moral. Yang paling menyedihkan adalah ketika seorang ibu yang seharusnya berada pada fase kedewasaan, justru kembali berpikir dan bertindak seperti remaja yang baru pertama kali dimabuk cinta. Ia lupa bahwa hidupnya bukan lagi hanya tentang “aku dan dia”, melainkan tentang “kita”—ia, suami, dan terutama anak-anaknya yang masih belum mengerti dunia. 1. Dimabuk cinta, lupa realitas Perasaan jatuh cinta—terutama yang bersifat terlarang—bisa memunculkan euforia yang menipu. Dalam kondisi ini, seseorang bisa lupa diri, lupa kewajiban, lupa siapa yang sedang menunggu di rumah. Bagi sebagian orang, sensasinya seperti remaja yang merasa hidupnya baru dimulai. Namun ketika itu terjadi...

Jangan Pernah Meminta Istri yang Pergi untuk Kembali

Ketika seorang istri memilih pergi, terutama karena hatinya telah berpindah, maka meminta dia kembali hampir selalu berakhir pada luka baru. Upaya pencegahan tentu harus dilakukan—komunikasi, perbaikan diri, perbaikan hubungan, atau bahkan meminta bantuan pihak ketiga. Namun jika semua usaha sudah dilakukan dan tetap tidak ada perubahan, maka memaksanya kembali hanya akan menciptakan rumah tangga yang rapuh dan penuh kepura-puraan. Seorang istri yang sudah tidak hatinya di rumah tidak akan bisa dipaksa bahagia. Ia mungkin kembali secara fisik, tetapi jiwanya tetap berada di tempat lain. Dan hidup bersama seseorang yang raganya ada namun hatinya tidak pulang lebih menyakitkan daripada perpisahan itu sendiri. Maka pada titik tertentu, melepaskan justru menjadi bentuk penghormatan terhadap diri sendiri dan ketenangan anak-anak. Karena kebahagiaan tidak pernah ditemukan melalui paksaan, dan rumah tangga tidak bisa berdiri di atas hati yang tidak lagi berada di sana.

Mengapa Orang Selingkuh?

Selingkuh bukan sekadar “khilaf”. Ia lahir dari rasa tidak pernah cukup —perasaan kosong yang selalu mencari yang lebih baru, lebih menarik, lebih menggairahkan. Orang yang selingkuh pada dasarnya tidak pernah mencintai pasangannya dengan penuh. Ada bagian dalam dirinya yang selalu terbuka untuk kemungkinan lain, seolah cinta bisa diganti seperti aplikasi yang mudah di- uninstall . Perselingkuhan juga bukan tindakan spontan. Ia membutuhkan niat, waktu, bahkan strategi. Ada effort besar di balik setiap chat yang dihapus, setiap pesan disembunyikan, setiap kebohongan yang disusun agar tampak meyakinkan. Itu bukan keteledoran—itu keputusan sadar untuk menipu seseorang yang mempercayai mereka. Dan yang paling berbahaya dari semua itu adalah sensasinya. Sekali seseorang merasakan adrenalin dari hubungan gelap—merasa dibutuhkan, diinginkan, dikejar—sensasi itu membuat mereka ingin mengulang lagi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali, mungkin dengan orang yang berbeda. Lambat laun, rasa be...

Poliandri Terselubung, Nikah ziri status sah istri orang dan Status Zina

Di Indonesia, poliandri—seorang perempuan memiliki lebih dari satu suami—secara hukum dan agama jelas dilarang. Namun, praktik ini kadang muncul dalam bentuk yang tidak terungkap secara langsung, disamarkan oleh istilah menikah siri atau hubungan yang dianggap sah menurut sebagian pihak, tetapi sebenarnya bertentangan dengan hukum positif maupun hukum agama. Ketika seorang perempuan masih berstatus istri sah dalam catatan negara dan agama, lalu ia “menikah siri” dengan laki-laki lain, perbuatan itu tidak menghasilkan hubungan pernikahan yang diakui. Dalam perspektif hukum Indonesia, khususnya UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan KUHP, tindakan itu bukan sekadar pelanggaran administratif, tetapi dapat dikategorikan sebagai perselingkuhan atau zina . Mengapa demikian? Pertama, perkawinan hanyalah sah apabila dilakukan menurut hukum agama masing-masing dan dicatat oleh negara . Jika salah satu unsur hilang—misalnya masih terikat pernikahan sah dengan orang lain—maka akad baru y...

Dampak Perselingkuhan – Luka yang Tak Pernah Kembali Seperti Sedia Kala

Baru-baru ini ada sebuah berita yang menghebohkan dunia per tik tok an, tentang perselingkuhan, selama ini yang umum terdengar adalah laki-laki atau suami yang berselingkuh lalu meninggalkan anak dan istrinya. Namun berita yang lagi ramai belakangan ini adalah Perempuan atau istri yang berselingkuh dan meninggalkan anak-anak dan suaminya. Apalagi anaknya masih balita dan ada yang masih membutuhkan Air Susu ibunya. Yang akan di bahas bukan mengenai wanita ini, namun perselingkuhan. Apapun alasannya tidak dibenarkan dalam norma agama, kesusilaan dan sosial. Dampak buruk setelah perselingkuhan sangatlah besar baik buat suami/istri maupun anak-anak.  Perselingkuhan bukan hanya soal pengkhianatan; ini adalah retakan dalam fondasi kepercayaan yang paling mendasar dalam hubungan. Dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar “kesalahan” dalam rumah tangga. Ia mengubah cara seseorang memandang pasangan, memandang cinta, dan memandang dirinya sendiri. 1. Dampak bagi Pasangan: Perpisahan Lebih...

Kejujuran yang Tergerus di Balik Semangkuk Bakso

Kasus penjual bakso yang menggunakan daging babi tanpa mencantumkan keterangan jelas kepada pembeli kembali mencuat ke publik. Peristiwa tersebut terjadi di Yogyakarta. Peristiwa ini bukan sekadar pelanggaran dalam dunia kuliner, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat. Di negeri dengan mayoritas penduduk beragama Islam, tindakan semacam ini jelas melukai sensitivitas keagamaan dan menyalahi prinsip dasar etika berdagang. Seorang pedagang semestinya memahami bahwa makanan bukan hanya soal rasa dan keuntungan, tetapi juga menyangkut keyakinan, kehalalan, dan kejujuran. Ketika bahan baku yang digunakan tidak diungkapkan secara terbuka, terutama dalam kasus yang menyentuh ranah agama, maka yang terjadi bukan lagi sekadar kelalaian, melainkan bentuk penipuan. Pembeli memiliki hak untuk mengetahui apa yang mereka konsumsi dan memilih sesuai keyakinan mereka. Pembeli bisa mengajukan gugatan agar kejadian tersebut tidak terulang ditempat lain dan di masa mendatang....

Tamparan di Banten: Ketika Guru Dihukum karena Mendidik

Ada sebuah berita yang menggelitik sekaligus menyedihkan: Seorang Kepala Sekolah SMA di Banten menampar siswanya yang kedapatan merokok di lingkungan sekolah . Tak lama, ia justru dinonaktifkan dan dilaporkan ke polisi . Ironisnya, siswa-siswa lain malah mogok belajar , seolah tamparan itu lebih salah daripada perilaku merokok di sekolah. Pertanyaan pun muncul: Akan dibawa ke mana arah dunia pendidikan kita? Dulu: Tamparan yang Mendidik, Kini: Tamparan yang Menghukum Dulu, ketika seorang murid ditampar guru karena melanggar aturan, orang tua akan berkata, “Pantas kamu ditampar, Nak. Kamu memang salah.” Guru dan orang tua berdiri di barisan yang sama — barisan pendidik . Hukuman fisik memang bukan metode ideal, tetapi waktu itu, niat mendidik lebih dihargai daripada bentuk tindakan. Kini, segalanya terbalik. Guru dituduh, siswa dilindungi. Pendidik diadili, pelanggar dibela. Hukum dan publik seakan lupa bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar, tapi juga tempat menempa karakt...

Mengapa Kepala Daerah Harus Taat pada Presiden

Dalam sistem pemerintahan Indonesia yang menganut prinsip negara kesatuan, sudah semestinya kepala daerah menjalankan kebijakan nasional yang digariskan oleh presiden. Sayangnya, dalam praktiknya, kita sering menjumpai kepala daerah yang tampak tidak sejalan, bahkan menolak kebijakan pusat. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan disharmoni antarlevel pemerintahan, tetapi juga dapat menghambat pencapaian tujuan nasional. Otonomi daerah memang memberikan kewenangan yang cukup besar kepada kepala daerah. Namun, otonomi bukanlah bentuk kemerdekaan absolut. Kepala daerah tetap memiliki tanggung jawab untuk menjalankan program-program strategis nasional. Ketika kepala daerah menolak arahan pusat dengan dalih kemandirian, sesungguhnya mereka sedang melanggar amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yang mewajibkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Bukan hanya itu, ketidaktaatan kepala daerah terhadap presiden sering kali dipicu oleh motif politik, teruta...

Donor Darah, Kecil bagi Kita, Besar bagi Sesama

Sabtu kemarin saya kembali mengikuti donor darah di PMI Kota Bogor. Rutinitas sederhana ini selalu memberi rasa syukur dan lega setelah menjalaninya. Diawali dengan sarapan pagi, mengantar anak ke sekolah, di SMAKBO, lalu mampir sebentar olahraga jalan kaki di Lapangan Kresna, semuanya terasa seperti rangkaian persiapan kecil sebelum memberikan setetes manfaat bagi orang lain. Sesampainya di PMI, layanan sudah dibuka tepat pukul delapan pagi. Prosesnya kini semakin mudah—cukup mengisi data di komputer, menjawab beberapa pertanyaan kesehatan, lalu mencetak formulir. Nomor antrian saya keenam, dan tidak butuh waktu lama sebelum dipanggil untuk diperiksa dokter. Hasilnya cukup baik: tekanan darah 130/90, Hb 13,8, dengan berat badan 80,5 kilogram. Setelah dinyatakan layak, saya masuk ke ruang pengambilan darah, dan 350 cc darah pun diambil. Bagi saya pribadi, donor darah bukan hanya soal kesehatan, meski jelas ada manfaatnya bagi tubuh pendonor. Lebih dari itu, ada nilai kemanusiaan yang...

Permasalahan Pendampingan Koperasi

Pendampingan rutin dari dinas koperasi pemerintah daerah memang penting, tetapi masih adanya permasalahan di koperasi menunjukkan bahwa pendampingan tersebut sering kali belum efektif atau tidak menyentuh akar masalah. Beberapa penyebabnya antara lain: 1. Pendampingan Bersifat Administratif Saja Banyak dinas hanya memeriksa kelengkapan dokumen atau laporan secara formal, tanpa menyentuh aspek manajemen risiko, tata kelola, atau keuangan secara mendalam. 2. Kurangnya Sumber Daya dan Kompetensi di Dinas Beberapa dinas koperasi memiliki keterbatasan jumlah staf atau staf yang belum memiliki spesialisasi dalam audit keuangan, akuntansi, atau manajemen koperasi. 3. Minimnya Pengawasan dan Tindak Lanjut Pendampingan tanpa pengawasan yang tegas dan tindak lanjut atas temuan hanya akan menjadi formalitas. Pelanggaran yang tidak ditindaklanjuti bisa menjadi kebiasaan buruk yang berulang. 4. Koperasi Tidak Terbuka atau Manipulatif Pengurus koperasi bisa saja menyajikan data yang manipula...

Penguatan Pengawasan Koperasi: Urgensi dan Strategi Nyata

Koperasi, sebagai sokoguru ekonomi kerakyatan, kini menghadapi tantangan serius: mulai dari gagal bayar, pengelolaan tidak transparan, hingga hilangnya kepercayaan anggota. Ironisnya, semua ini terjadi di tengah pendampingan rutin dari dinas koperasi pemerintah daerah. Pertanyaannya: mengapa pengawasan yang sudah berjalan belum mampu mencegah keruntuhan sebagian koperasi? Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya pendampingan, melainkan pada kualitas, cakupan, dan ketegasan pengawasan itu sendiri. Banyak pendampingan hanya bersifat administratif dan formalitas, tanpa menyentuh aspek keuangan, manajerial, dan risiko. Lebih parah lagi, masih banyak koperasi yang tidak diaudit oleh pihak independen dan profesional, sehingga potensi penyimpangan tak terdeteksi sejak dini. Untuk itu, pengawasan koperasi harus diperkuat secara sistematis. Pertama, dinas koperasi perlu meningkatkan kompetensi SDM pengawas melalui pelatihan dan sertifikasi. Kedua, audit independen wajib diberlakukan untuk kope...

Rasa Aman yang Memudar di Tengah Gejolak Sosial

Dalam teori hierarki kebutuhan dasar yang diperkenalkan Abraham Maslow, terdapat tahapan yang harus dipenuhi oleh manusia untuk mencapai kesejahteraan hidupnya. Setelah kebutuhan fisiologis seperti makan, minum, dan istirahat terpenuhi, kebutuhan berikutnya yang tidak kalah penting adalah rasa aman. Rasa aman inilah yang menjadi pondasi bagi seseorang untuk dapat menjalani kehidupan dengan tenang, membangun hubungan sosial, dan menumbuhkan rasa percaya pada lingkungannya. Namun, ketika rasa aman terganggu, seluruh struktur kebutuhan manusia seakan goyah. Peristiwa demonstrasi yang berujung anarkis dan penjarahan kemarin menjadi contoh nyata bagaimana satu peristiwa sosial dapat meruntuhkan rasa aman masyarakat. Korban langsung tentu merasakan luka, kerugian, bahkan trauma. Tetapi dampaknya tidak berhenti di situ. Mereka yang tidak menjadi korban langsung pun ikut merasakan bayangan ketakutan. Ada perasaan cemas yang mengendap di benak banyak orang: hari ini mungkin rumah atau toko ora...

Bekerja Adalah Jihad, Bukan Alasan untuk Dihakimi

Belakangan ada cerita tentang seseorang yang dikeroyok hanya karena diteriaki oleh orang-orang. Teriakan-teriakan yang cukup untuk memicu massa hingga melakukan kekerasan. Padahal, belum tentu benar yang diteriakan tersebut. Bisa saja keliru, namun orang tersebut langsung dihakimi massa. Padahal orang tersebut sedang lewat untuk bekerja mencari nafkah? Bekerja, di mana pun tempatnya dan apa pun statusnya, adalah bagian dari jihad. Jihad bukan semata-mata pertempuran, tetapi juga perjuangan untuk menafkahi diri sendiri, orang tua, dan keluarga. Setiap orang yang bekerja dengan cara halal sejatinya sedang menjalankan ibadah mulia. Mengeroyok atau merendahkan seseorang hanya karena pekerjaannya adalah bentuk kesombongan. Tidak ada pekerjaan halal yang hina, dan tidak ada alasan yang membenarkan tindak main hakim sendiri. Yang harus kita lawan justru mental meremehkan orang lain, apalagi sampai memicu kekerasan. Masyarakat perlu diingatkan kembali bahwa kehormatan seseorang bukan ditent...

Menjembatani Kesenjangan Generasi di Kantor Pemerintahan

Masuknya generasi Z sebagai aparatur sipil negara di instansi pemerintahan membawa dinamika baru yang tak bisa dihindari. Mereka datang dengan semangat tinggi, kemampuan adaptasi digital yang mumpuni, serta harapan terhadap sistem kerja yang lebih adil dan terbuka. Namun di balik semangat itu, muncul pula gesekan yang bisa menimbulkan kecanggungan antarpegawai lintas generasi. Salah satu isu yang kerap muncul adalah perasaan ketimpangan antara pegawai muda dan senior dalam hal beban kerja dan penghasilan. Banyak pegawai muda merasa bahwa pekerjaan yang mereka lakukan jauh lebih menyita waktu dan energi dibandingkan rekan-rekan senior mereka, tetapi penghasilan yang diterima justru jauh lebih rendah. Akibatnya, muncul kecemburuan yang menggerus rasa hormat, melemahkan kerja sama, dan mengganggu iklim kerja di kantor. Padahal, jika ditilik lebih dalam, perbedaan itu tidak selalu mencerminkan ketidakadilan. Sistem penggajian di pemerintahan bersifat struktural dan berbasis pada masa ker...

Rasa Aman, Privilege, dan Ancaman Fragmentasi Kepercayaan Sosial

Kebutuhan akan rasa aman, sebagaimana diungkapkan Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhan dasar, adalah fondasi penting dalam kehidupan manusia. Tanpa rasa aman, manusia akan sulit bergerak ke kebutuhan lain seperti relasi sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Namun, rasa aman itu kini tengah diuji. Demo yang berujung anarkis dan penjarahan beberapa waktu lalu menimbulkan luka kolektif. Tidak hanya kerugian materiil dan trauma bagi korban langsung, tetapi juga rasa waswas di kalangan masyarakat luas. Sebab dalam benak banyak orang muncul pertanyaan sederhana: hari ini toko orang lain yang dijarah, apakah besok giliran rumah saya? Kekhawatiran semacam ini tidak hanya memudarkan rasa tenang, tetapi juga mengikis kepercayaan sosial. Hal yang menimbulkan ironi lebih jauh adalah ketika pejabat negara—yang seharusnya memiliki lapisan keamanan lebih kuat karena akses terhadap aparat—ikut menjadi korban penjarahan. Kondisi ini terasa aneh dan sekaligus menimbulkan pertanyaan besa...

Antara Ampunan dan Karma

Dalam ajaran Islam, dosa sebesar apa pun akan diampuni oleh Allah, selama hamba-Nya benar-benar bertaubat. Inilah letak keagungan rahmat Allah, yang tidak pernah menutup pintu kembali bagi manusia. Namun, sayangnya justru di sinilah letak persoalan: banyak orang salah paham, lalu merasa ringan berbuat dosa karena beranggapan “toh nanti Allah Maha Pengampun.” Padahal, ampunan itu bukan tanpa syarat. Taubat yang sesungguhnya menuntut penyesalan, perbaikan diri, dan pengembalian hak jika menyangkut orang lain. Tanpa itu, pengampunan hanyalah angan-angan. Berbeda dengan konsep karma yang dikenal dalam ajaran lain, setiap perbuatan buruk pasti berbalik pada diri pelakunya, cepat atau lambat. Konsep ini menimbulkan rasa hati-hati, karena orang sadar bahwa kejahatan sekecil apa pun akan ada akibatnya. Dalam Islam pun sebenarnya ada prinsip serupa: siapa berbuat baik, kebaikan itu untuk dirinya; siapa berbuat buruk, keburukan itu kembali kepadanya. Bedanya, Islam menambahkan pintu rahmat dan ...

Antara Anarkis, Dunia Maya, dan Jariyah Digital

Saat ini dunia usaha nyata tengah menghadapi banyak kendala. Bukan hanya tekanan ekonomi global, tetapi juga situasi sosial dalam negeri yang kadang memanas. Demo yang berujung anarkis, misalnya, jelas menimbulkan dampak luas: roda usaha terganggu, pelaku bisnis terpaksa menutup pintu, dan para pekerja kehilangan nafkah. Dunia ril menjadi rapuh, mudah terguncang oleh gejolak di jalanan. Sebaliknya, dunia maya justru terus tumbuh. Platform seperti YouTube, Instagram, Twitter, dan TikTok semakin merajai ruang publik. Orang-orang kini lebih sering “berjualan gagasan” lewat kata-kata, gambar, dan video. Namun, di balik pertumbuhan ini, ada sisi lain yang mengkhawatirkan: banyak yang hanya mengumbar ujaran tanpa verifikasi, dengan alasan “nanti toh bisa diklarifikasi.” Inilah wajah baru yang bisa disebut sebagai jariyah digital . Dalam Islam, dikenal istilah amal jariyah—kebaikan yang terus mengalir pahalanya meski pelakunya sudah tiada. Namun, di era digital, amal jariyah itu bisa bermuk...

Belajar dari Sejarah, Mengapa Kita Bisa Dijajah Begitu Lama

Sejarah mencatat, Indonesia dijajah Belanda selama lebih dari 300 tahun. Angka ini sering membuat kita bertanya-tanya: bagaimana mungkin sebuah bangsa dengan jumlah penduduk yang besar, waktu itu dengan kerajaan-kerajaan yang memiliki pasukan kuat, bisa dikuasai begitu lama oleh bangsa asing yang jumlahnya jauh lebih sedikit? Jawaban itu tidak lain karena kelemahan dari dalam diri bangsa kita sendiri. Bukan karena kita tidak berani, melainkan karena kita mudah terprovokasi, gampang dipecah belah, dan lebih mengedepankan ego masing-masing daripada persatuan. Belanda berhasil memainkan politik devide et impera , memanfaatkan konflik internal antar-kerajaan, antar-pemimpin, bahkan antar-saudara sebangsa, hingga akhirnya kita tidak pernah benar-benar bersatu melawan penjajahan. Refleksi ini kembali terasa relevan ketika melihat kondisi bangsa hari ini. Demo yang semestinya menjadi sarana menyuarakan aspirasi, sering berubah menjadi kerusuhan karena provokasi dan kepentingan tertentu. Lag...

Ketika Influencer Bungkam dan Demo Menelan Korban

Fenomena influencer hari ini semakin gamblang: yang diangkat hanyalah isu yang menguntungkan dirinya. Selama bisa fyp , menambah followers , meningkatkan likes dan jumlah tayangan, maka isu itu akan jadi konten. Namun, jika tidak ada nilai jual, meski menyangkut nyawa manusia, akan dibiarkan sunyi.  Inilah wajah baru dunia maya: kepedulian diukur dengan algoritma, bukan dengan nurani. Demo belakangan di Makassar yang menelan korban nyawa, nyaris tak terdengar gaungnya. Mengapa? Karena korban bukan ojol, bukan pula polisi yang bisa “dijadikan bahan dramatisasi.” Tragisnya, yang muncul justru komentar kejam: “kenapa juga malam masih kerja?” Naudzubillah.  Demo memang hak rakyat, tapi harus dijalankan dengan tertib dan damai. Begitu berubah menjadi anarkis dan menimbulkan korban, maka pelakunya harus bertanggung jawab. Nyawa yang hilang bukan sekadar angka. Itu adalah manusia dengan keluarga, dengan harapan, dengan masa depan. Dan hukum kehidupan berlaku: apa pun keburukan ya...

Mengambil yang Bukan Haknya

Mengambil yang bukan miliknya, sejatinya adalah perbuatan tercela. Sejak kecil, orang tua selalu menanamkan nilai bahwa kejujuran lebih berharga daripada harta. Tidak ada keluarga yang dengan sengaja mengajarkan keburukan. Justru setiap orang tua berharap anaknya tumbuh menjadi pribadi yang lurus, menjaga kehormatan dirinya, dan menghargai hak orang lain. Namun, dalam kenyataannya masih saja ada orang yang tergoda untuk merampas, mencuri, atau menguasai sesuatu yang bukan haknya. Perbuatan seperti ini tidak hanya mencoreng nama pribadi, tetapi juga meninggalkan luka sosial bagi masyarakat. Karena itu, siapa pun pelakunya, pantas dihukum sesuai aturan. Hukum hadir bukan semata untuk memberi efek jera, melainkan juga untuk menegakkan keadilan dan melindungi mereka yang haknya dirampas. Bagi yang percaya pada hukum sebab-akibat, mengambil yang bukan haknya tidak akan pernah membawa berkah. Cepat atau lambat, karma akan kembali. Mungkin bukan hanya kepada pelaku, tetapi juga kepada kelua...

Dampak Negatif Demo Anarkis bagi Dunia Usaha

Demo anarkis tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga meninggalkan efek panjang bagi dunia usaha. Banyak pelaku usaha terpaksa menutup sementara bahkan gulung tikar karena kerusakan maupun turunnya omset. Akibatnya, potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) pun meningkat, yang justru merugikan para pekerja sendiri. Lebih jauh, iklim investasi menjadi terganggu. Investor akan berpikir dua kali untuk menanamkan modal di negara yang dianggap tidak stabil. Pada akhirnya, masyarakat luas yang menanggung akibatnya—kesempatan kerja berkurang, pertumbuhan ekonomi terhambat, dan daya saing bangsa ikut menurun. Aspirasi tentu sah disuarakan, tapi jika jalannya dengan cara anarkis, justru menciptakan masalah baru yang lebih merugikan daripada menyelesaikan persoalan.

Demo Anarkis, Pekerja Harian yang Paling Merugi

Bagi pekerja yang dibayar sesuai output atau jumlah pekerjaan, libur sehari saja sudah berarti kehilangan pendapatan. Ketika demo anarkis memaksa dunia usaha menutup kegiatan—bahkan entah sampai kapan—dampaknya jauh lebih berat. Mereka tidak bisa bekerja, tidak bisa menghasilkan, dan otomatis tidak bisa membawa pulang upah. Sedangkan kebutuhan rumah tangga tetap berjalan, lalu bagaimana cara untuk memenuhi kalau semua tutup.  Di sinilah letak ironi demo anarkis. Aspirasi yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat, justru menambah beban rakyat kecil. Pedagang kecil, pekerja harian, karyawan kontrak, semuanya ikut terjebak dalam lingkar kerugian. Karena itu, menyampaikan aspirasi harus tetap dalam koridor damai. Dengan begitu, suara tetap didengar, sementara roda usaha dan kehidupan para pekerja tidak ikut terhenti.